Aku seorang guru honorer yang mengabdi sejak tahun 2005. Pada saat aku pertama masuk mengajar begitu memprihatinkan keadaan di sekolahku. Saya mengajar di Sekolah Dasar yang terletak di Desa Air Nau yang pada waktu itu bernama SDN 80 Air Nau. Pada saat itu hanya ada satu kepala sekolah yaitu Bapak Agus Samin dan dua guru pns semuanya laki-laki. Keadaan sekolah pada waktu itu amat memprihatinkan hanya ada tiga ruangan. Setiap ruangan terdiri dari dua kelas hanya bersekat dibatasi dengan sekeping triplek. Tidak ada kantor atau wc apalagi kantin sekolah. Setiap istirahat kami para dewan guru hanya berdiri di luar kelas dengan memperhatikan para siswa yang asyik bermain. Terkadang guru yang lain tidak hadir karena mereka tinggal di kota sedangkan desa kami sangatlah terpencil jauh dari keramaian. Jalannya pun masih setapak naik turun tebing. Di tahun 2008 ada pergantian kepala sekolah yaitu Bapak Kasumo. Mulai ada tambahan bangunan yang tadinya tiga ruangan kelas karena ada bantuan dari pemerintah akhirnya kelas kami menjadi enam ruangan dan pada waktu itu sudah ada enam guru yaitu dua perempuan dan empat laki-laki. Kami sangat senang dengan bertambahnya lokal baru.
Hari demi hari hingga berganti bulan bahkan berganti tahun saya lalui dengan teman di sekolah. Ada yang pindah sekolah, ada yang berhenti mengajar, hanya saya yang masih tetap bertahan setia menyalurkan ilmu saya di sekolah yang dulunya SDN 80 Air Nau sekarang menjadi SDN 12 Sindang Beliti Ulu.
Setelah dua periode akhirnya kepala sekolah kami pun ganti. Tahun 2018 datanglah sesosok pemimpin yang ditempatkan di sekolah kami dan saat kepemimpinan beliau berubah pula nama menjadi SDN 163 Rejang Lebong. Dengan kinerja kepemimpinan beliau kini sekolah kami menjadi rumah kedua bagi kami. Beliau adalah Bapak Usman Alamsyah. Beliau sangat menginspirasi untuk para dewan guru dan para siswa. Banyak sekali dobrakan yang beliau berikan untuk sekolah kami.
Kini sudah tahun 2021 aku pun masih tetap mengabdi di SDN 163 Rejang Lebong dan masih honorer seperti yang dulu. Terkadang aku berpikir akankah ada nasib baik bagiku ikut cpns. Sudah empat kali aku mencoba dan tidak juga lulus. Terakhir saya ikut TES di tahun 2018. Apa yang terjadi, setelah saya lulus administrasi, tinggal mencetak kartu ternyata yang tertulis “maaf umur anda 36 tahun 2 bulan 25 hari” maka pupus sudah harapan saya pada saat itu. Kini aku hanya bisa berdoa semoga keikhlasan ku mengajar anak-anak selama ini akan membuahkan hasil setidaknya aku sudah berjuang dan berusaha tetapi aku punya tekad kalau aku tidak menjadi seorang PNS aku akan tetap mengajar dan terus mengajar demi negeri ini demi bangsa ini dan demi anak anakku yang ada di Desa Air Nau. Terima kasih kepada semua teman sejawat yang selalu membimbing ku, terima kasih kepada keluargaku yang selalu menyemangatiku. Aku akan belajar ikhlas agar menjadi manusia yang selalu bersyukur dengan apa yang telah dicapai nya selama ini.
Salam Literasi
Wasriah, S.Pd
Terasa Filu membacanya
Kisah yang menyentuh hati..dan sayapun pernah mengalaminya..
thnks