Sebuah Harapan Tanpa Diksi yang Tak Bisa Dibendung

Sebuah Harapan Tanpa Diksi yang Tak Bisa DiBendung
_______________

Arah jarum waktu terus berputar, kita masih setia melawan badai kehidupan. Adalah waktu yang mengikat diri pada batas 03.37 detakan hati iringi irama suara merdu. Kucium tanganmu memenuhi janji. Dan, sujudku pada Ilahi sebagai rasa syukur. Karena kau dan aku masih dalam satu mara, bumi sejarah cinta.

Semua lantaran kekeramatan dari angka tujuh. Pada perolehan nilai yang ke-70, kupinta jemari lembutmu menekan layar gawaiku. Sambil, katatap wajah sederhana yang sulit dilukiskan dalam kata-kata.

Masih tentang harapan yang sering kali memupuk rindu. Dan, semua tetap teguh kita jalani. Tetaplah menjadi sepasang rindu yang terus memecahkan segala teka-teki. Kitalah dua pasang yang berbeda ingin menyatu dalam satu harapan menuju jalan pulang, rumah.

Kediri, 29 Oktober 2020
Buah Karya: Le Putra Marsyah

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. Puisi yang inapiratif Mas Azis. Dengan pesan tentang tantangan di tengah perbedaan ya? Bahwa pada akhirnya kita akan tetap sama-sama menuju jalan pulang ke rumah. Terima kasih sudah berbagi. Sehat selalu, dan salam santun

News Feed