Perawat Dinda Dwiagneza Amalia

Cita – Cita Seorang Perawat Dulu waktu masih TK aku bercita-cita ingin menjadi seorang polwan,pikir aku polwan itu kerjanya cuman dikantor adem pake ac enak gitu, jadi kerjanya nyaman tapi ,itu waktu masih TK belum mengerti apa-apa pikirannya masih menggampangkan sekali.

Pas udah SD berubah lagi cita-citanya aku ingin menjadi seorang guru, karna pas aku SD kayanya enak banget jadi seorang guru tugasnya cuman menerangkan materi jika sudah jelas tinggal kasih tugas ke anak muridnya, tapi memang menerangkan materi tidak semudah yang aku bayangkan ,ada bagian-bagian sulitnya.

Nah aku melanjutkan sekolah SMP masih berubah cita-citanya ingin menjadi seorang perawat, karna menurut aku menjadi seorang perawat itu bisa menolong orang ,dapet pahala, mendapatkan ilmu yang bermanfaat yaa walaupun agak sulit diprakteknya tapi insyaallah saya bisa karna itu adalah tantangan bagi diri aku sendiri.

Setelah lulus SMP aku melanjutkan ke SMA jurusan IPA, dari situ aku cita-citanya sama seperti di SMP yaitu perawat, karna aku dari SMP itu memang sudah yakin tentang kesehatan apalagi kalau sudah kerja bisa merawat keluarga atau saudara, merawat pasien, pelajaran nya memang luar biasa juga tapi itu adalah tantangan, hidup memang perlu ada tantangan semakin aku menantang tantangan itu berarti aku semakin kuat tekat untuk menjadi seorang perawat.

Sebelum lulus pas mau mendekati ujian-ujian dibulan Januari aku mencoba mendaftar di Poltekkes, aku menggunakan jalur PMDP( Jalur raport) aku bolak-balik fotocopy ini itu surat-surat gitu, setelah selesai semua tinggal menunggu hasil pengumuman nya , disitu aku merasa ke khawatiran antara masuk dan tidaknya, pas pengumuman aku dinyatakan tidak lulus seleksi jalur PMDP, disitu aku tidak merasa putus asa.

Setelah jalur PMDP tidak lolos aku mencoba jalur tulis ,Namun dengan kondisi covid-19 ini jadi digunakan Jalur PMDD( jalur raport) lagi, disitu aku merasa aku bisa dan lolos bisa masuk Poltekkes, dengan doa yang tidak pernah putus, pikiran yang tidak pernah berhenti, pas pengumuman aku tidak di nyatakan lolos lagi, disitu aku merasa mungkin belum jalannya aku di Poltekkes ,ada rasa menyesal ada tapi yaa gimana lagi Allah belum mengizinkan aku berada di Poltekkes.

Dari situ aku merasakan kebingungan mah kuliah dimana sementara bapak aku tahun depan pensiun dari anggota kepolisian, aku mikir terus tidak pernah menyerah dan berdoa minta yang terbaik sama Allah, setelah hampir 2 Minggu pengumuman Poltekkes itu ada tetangga aku yang alumni Akper polri, dia adalah Jesica Aulia menyarankan aku untuk masuk Akper polri karna disitu juga bagus dan dijamin kualitas belajar nya , lingkungan , maksud nya masih dijamin daerahnya yang masih bisa dijangkau dari kampus Akper polri ke rumah ,yaa walaupun rumah aku di Jakarta Utara dan kampus nya di Jakarta timur. Jadi aku dan keluarga sepakat untuk aku kuliah di Akper polri.

 

 

Tinggalkan Balasan