Lomba Blog PGRI Hari ke-14

BSC DI PERGURUAN TINGGI

Balance Scorecard merupakan suatu sistem manajemen kinerja. Ini merupakan sistem pengukuran kinerja, yang berusaha menterjemahkan visi, misi dan strategi organisasi ke  dalam  aksi  yang nyata berdasarkan umpan balik secara internal dari proses bisnis yang dijalankan. Secara eksternal hasil pengukuran kinerja yang diperoleh dari respons pelanggan maupun kesehatan keuangan. Balance Scorecard menyeimbangkan antara faktor internal (karyawan dan organisasi) dengan eksternal (pemilik dan pelanggan). Indikator kinerja keuangan (perspektif pemilik) dengan kinerja non-keuangan, yaitu: pelanggan (perspektif pelanggan) serta proses bisnis internal dan pembelajaran dan pertumbuhan (perspektif karyawan dan organisasi). Pemicu kinerja hasil dari yang diperoleh, antara faktor kuantitatif dengan kualitatif, antara jangka pendek (operasional) dan jangka panjang (visi dan misi). Sistem ini dirancang untuk mengantisipasi persaingan bebas di era global dimana setiap organisasi dituntut kemampuan untuk mempunyai kemampuan bersaing agar dapat berhasil memenangkan persaingan.

Strategy map merupakan implementasi dari Balanced Scorecard (Kaplan dan Norton, 2004). Yang dimaksud strategy map di sisni adalah presentasi secara visual dari sebuah strategi, dan merupakan bentuk aktualisasi Balanced scorecard melalui pemetaan prioritas dalam pelaksanaan strategi. Strategy map mewakili objektif dari suatu strategi dan hubungan sebab– akibat di dalamnya. Dalam strategy map ini diawali dengan menambahkan semua tujuan/objektif organisasi dari berbagai perspektif dalam peta strategi. Kemudian membentuk suatu hubungan ketergantungan dan sebab-akibat antar objektif tersebut serta menentukan prioritas terpenting dan mengeliminasi alternatif sekunder, sehingga organisasi dapat lebih fokus dalam melaksanakan program pencapaian kinerja.

Pengukuran kinerja di perguruan tinggi dapat dilaksanakan dengan Balanced Scorecard. Namun, perguruan tinggi tersebut hanya memfokuskan pada perspektif internal sehingga penerapannya kurang optimal.

Sejalan dengan Fredly Rangkuti (2011) yang dikutip dalam Zamroni (2018) menjelaskan bahwa dalam pelaksanaannya, balanced scorecard terus mengalami perkembagan dan penyempurnaan. Saat ini, balanced scorecard sudah berkembang dan mengalami evolusi dari hanya sekedar cara untuk melakukan evaluasi kinerja, kemudian disempurnakan menjadi metode yang dapat dipakai dalam sistem manajemen dalam membangun pembelajaran organisasi. Selanjutnya terus dikembangkan, sehingga dapat dipakai sebagai alat untuk merumuskan strategi dan melakukan perubahan, terakhir balanced scorecard semakin populer, karena telah diintegrasikan dengan berbagai metode strategi Lembaga Pendidikan tinggi yang terbukti dapat meningkatkan kinerja lembaga secara signifikan.

Melihat kondisi saat ini dan sejalan dengan UU No.9 Tahun 2009 yang dikutip dalam Elfina Yenti (2015)  tentang Badan Hukum Pendidikan bahwa ukuran kinerja tidak hanya diukur melalui pencapaian target-target yang telah ditetapkan dan kesesuaiannya dengan anggaran yang telah disahkan, tetapi pengukuran kinerja juga harus dilihat dari semua sisi, yaitu keuangan dan non keuangan.

Tinggalkan Balasan