KMAC H-3 Redundant 2: Narasi Kebahagiaan

Redundant 2: Narasi Kebahagiaan

Oleh Erry Yulia Siahaan

Tak ada kata lain yang bisa menggambarkan perasaan saya selain “bahagia”. Saya girang sekali menemukan satu demi satu pemahaman baru tentang makna lebih dalam dari kata redundant yang ditanyakan oleh anak saya pada Minggu (12/2) pagi.  Kebahagiaan menghiasi batin saya sepanjang hari, bahkan masih ada sampai saat saya menurunkan tulisan ini.

Sekali lagi, tidak ada yang namanya kebetulan. Niatan untuk beribadah di gereja tidak saya urungkan. Pulang ibadah, saya mendapatkan jawaban melebihi dari apa yang saya cari dan saya butuhkan. Luar biasa Tuhan. Meskipun hujan, diboncengi motor, mengenakan blus putih sesuai kesepakatan dengan teman-teman paduan suara, saya bisa beribadah dengan sukacita dan pulang dengan membawa hadiah dari Tuhan.

Bagaimana saya tidak bahagia, itu adalah kali pertama saya bernyanyi dalam paduan suara di gereja, sejak pandemi Covid-19. Khususnya sejak saya pindah dari gereja lama. Juga, kali pertama paduan suara lanjut usia (lansia) mengisi ibadah lagi tahun ini. Buat saya, itulah kali pertama saya bernyanyi dalam koor lansia, meskipun usia saya baru genap 60 tahun Juli nanti.

Bagaimana pula saya tidak bahagia, bahwa di gereja, Pendeta Ligat U. Simbolon berkotbah tentang nats dalam Mazmur 119, khususnya ayat 1-8, yang menyatakan kata “bahagia” lebih dari satu kali. Atau, bahwa sepulang dari gereja, saya dipertemukan dengan pasal-pasal lain yang mengulangi kata-kata “bahagia”. Bahkan, ada pasal khusus yang sederetan ayatnya berturut-turut menuliskan kata “berbahagialah”.

Atau, bahwa pada hari ini, saya menemukan lagi kata “bahagia” dari renungan kiriman seorang teman dalam WhatsApp grup pendoa syafaat, yakni pada hari yang sama dan waktu selang beberapa menit setelah saya membuka video dari seorang teman. Video berdurasi 2 menit lebih ini menayangkan wajah seorang figur terkenal di Tanah Air yang, di depan kamera, terang-terangan mengaku telah pergi ke sana sini untuk mencari kebahagiaan tapi belum menemukannya. (Dia punya apa saja, bisa membeli apa saja, bisa pergi ke mana saja. Sudah dansa pula sampai malam dengan perempuan-perempuan cantik, katanya, tetapi dia tetap tidak merasakan kebahagiaan.)

Bagaimana saya tidak bahagia, bahwa dari banyak cerita yang saya dapatkan, saya menemukan bagaimana sebuah redundansi dari ayat dalam Alkitab bisa memulihkan jiwa mereka yang mengalami “redundant” alias dipecat atau diberhentikan dari kerja. (Baca tulisan berikutnya: Redundant 3: Bangkit Lagi Bersama Redundansi)

Pasal Romantis

Mazmur merupakan kitab terpanjang dalam Alkitab, di mana di dalamnya terdapat Pasal 119 yang adalah pasal terpanjang (berisi 176 ayat). Bertajuk “Bahagianya orang yang hidup menurut Taurat TUHAN”, pasal ini cukup terkenal dalam hal kebahagiaan dan romantisme penulisnya. Pasal ini sudah banyak memberikan pertolongan bagi orang-orang yang mencari Tuhan, untuk menemukan kekuatan dan penghiburan di kala mengalami beban. Untuk tetap merasakan kebahagiaan, bahkan dalam kondisi sulit sekalipun.

Simbolon menyebut pasal ini sebagai pasal romantis. Daud mengekspresikan suara hatinya sedemikian rupa dalam pasal ini, dengan kata-kata indah, tentang rasa kagum dan keterikatannya pada Taurat Tuhan. Pasal ini diawali dengan kata “berbahagialah”, lalu pada ayat 167 berbunyi “Aku berpegang pada peringatan-peringatan-Mu, dan aku amat mencintainya.” Pada ayat 104, Daud menyatakan dirinya sebagai seseorang yang jatuh cinta pada Taurat Tuhan.

Daud mengungkapkan cintanya yang menggelora dalam Mazmur 119 ayat 97-104. Sebenarnya, kita bisa menemukan romantisme Daud pada bagian lain Kitab Mazmur. Lewat kidungnya, kita akan takjub membaca bahwa pagi, siang, malam, perhatian Daud tertuju pada-Nya. Mazmur 119 ayat 97 jelas-jelas menggambarkan bahwa Daud mencintai Tuhan sepanjang hari. Daud berseru, “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” Nyata, bahwa Daud tidak mencintai Tuhan hanya dengan berdoa pada saat bangun tidur atau ketika mau tidur, melainkan sepanjang hari. Bahkan, kecintaannya pada Tuhan membuatnya berani dan rela memberikan apapun yang dia punya untuk menyenangkan hati Tuhan (Kitab 1 Tawarikh 22 ayat 2-19).

Redundasi

Mazmur 119 ayat 1 berbunyi “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.” dan ayat 2 “Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati”. Pengulangan ini, dari segi semantik, bisa saja dinilai tidak diperlukan. Alias, pemborosan atau redundansi. Namun, tidak demikian halnya dengan pengulangan itu bagi yang mengekspresikannya. Pengulangan itu dinilai perlu untuk memberikan penekanan pada pesan yang disampaikan.

(Ya, seperti yang saya lakukan dengan tulisan ini. Saya sengaja melakukan pengulangan kata “bahagia” untuk menekankan pesan bahwa saya memang sedang berbahagia.)

Redundansi tentang esensi “bahagia” bisa ditemukan juga dalam bagian lain Alkitab. Menurut penghitungan komputer, terdapat 43 kata “bahagia” dalam Alkitab (Reformed Exodus Community, 2018).  Termasuk di dalamnya Mazmur 1 ayat 1-3. Yang spesial adalah kata “Berbahagialah” dalam Injil Matius 5 : 1- 12 yang berisi pesan untuk berbahagia bagi mereka yang miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus, murah hati, suci hati, membawa damai, dianiaya oleh karena kebenaran, serta jika karena Tuhan kepadanya (malah) difitnahkan segala yang jahat.

Bahwa ada redundansi kata “bahagia”, menurut Simbolon, itu bisa dimaklumi, karena sejak jaman penciptaan, memang kebahagiaanlah yang dicari oleh manusia.

Pengulangan yang sifatnya redundant juga ditemukan pada bagian lain Mazmur, seperti pada Mazmur 42 dan 43.

  • Mazmur 42 ayat 5: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah!  Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
  • Mazmur 42 ayat 11: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
  • Mazmur 43 ayat 5: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”

Ada kemiripan, bukan? Apakah Daud tidak menyadarinya? Rasanya, tidak. Kejadian serupa terjadi pada Mazmur 14 dan Mazmur 53. Juga pada bagian lain Alkitab, misalnya pada teks yang agak panjang yaitu 2 Raja-Raja 18:13-20:11 & Yesaya 36:1-22:8, serta 2 Raja-Raja 24:18-25:30 & Yeremia 52. Masih banyak yang bisa disebutkan untuk menunjukkan adanya redundansi dalam Alkitab.

Diperlukan

Pegiat rohani Kristen, David T. Lamb membenarkan adanya redundansi pada awal Mazmur 119 adalah baik. “Redundancy is good,” kata Lamb dalam website pribadinya. It’s good to repeat things that are important.”

Menurut Lamb, Kitab Hakim-Hakim juga berisi konten yang redundant. Demikian halnya kitab injil Matius, Markus, dan Lukas. Kitab Kejadian bahkan redundant di banyak tempat. “And I like redundancy in the Bible. It makes a point clearly.”

Lamb menggarisbawahi Mazmur 119, di mana penulisnya dinilai telah mengulang-ulang gagasannya untuk menekankan pentingnya pemahaman mengenai hidup seturut Taurat Tuhan. Ini bisa dilihat pada ayat-ayat berikut ini:  27, 34, 73, 99, 100, 104, 125, 130, 144, dan 169.

Pentingnya redundansi juga diungkapkan oleh Pastor Joe McKeever melalui situs pribadinya. McKeever dulu biasa menerbangkan pesawat kecil bermesin ganda dengan sistem redundansi sebagai backup untuk mengatasi kondisi darurat, bilamana diperlukan. McKeever mengatakan tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia terbang tanpa backup. Mati atau malfungsinya satu bagian mesin akan berdampak pada bagian yang lain dan itu membahayakan. Untuk itulah redundansi menjadi penting. Jadi, katanya, tidak selamanya redundansi itu kurang baik atau perlu dihilangkan. Bahkan, pemilik perusahaan tidak mesti memecat karyawannya jika memang terdapat redundansi. Jika ada karyawan dinilai kurang pas dengan slot kerjanya, mungkin akan lebih baik bila perusahaan memberi kesempatan bagi karyawan tersebut untuk meng-upgrade diri. Dengan demikian, perusahaan justru akan diuntungkan pada waktunya karena memiliki human capital yang baik.

Menyinggung redundansi dalam Alkitab, Keever merujuk pada Kitab Efesus untuk membuktikan bahwa redundansi itu perlu. Dalam bagian ini, meskipun Rasul Paulus tidak menggunakan kata “redundansi”, kata Keever, dia berusaha keras untuk menyampaikan kepada kita tentang siapa kita di dalam Kristus. Juga, untuk menggunakan berbagai ungkapan untuk apa yang telah Tuhan lakukan bagi semua orang yang ditebus.

Kebahagiaan

Jadi, cara menuju bahagia adalah dengan taat kepada Tuhan, mencintai Tuhan. Nats di atas menunjukkan bahwa Tuhan berjanji kita akan bahagia bila kita taat pada perintah-Nya.

Seperti apa bahagia itu? Banyak orang mengaitkan kebahagiaan dengan kesenangan, kekayaan, kenyamanan, kesuksesan, kekuasaan, dan semacamnya. Tidak mengherankan bila akhirnya kebahagiaan dipandang sebagai lawan kata dari kesusahan. Kekayaan mungkin bisa membuat orang makan enak sambil tertawa. Tapi, seperti kata pepatah, uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Teori umum mengatakan, sebelum menemukan kebahagiaan, kita mesti bisa mendefinisikan dulu apa itu bahagia. Selanjutnya kita mengevaluasi diri apa yang kurang pada diri kita untuk menggapai kebahagiaan itu.

Kunci kebahagiaan sebenarnya ada dalam hati kita. Hati yang penuh rasa syukur dan yang percaya bahwa semua hal terjadi atas seijin Tuhan, termasuk hal-hal yang kita nilai sebagai kesusahan atau penderitaan. Tuhan selalu mampu membalikkan keadaan. Jika kita menyadari itu dan mencintai Tuhan siang-malam, dalam suka-duka, kita pasti menemukan kebahagiaan.

Alkitab mengajarkan bahwa penderitaan bisa menjadi bagian dalam kebahagiaan. Bagaimana bisa? Menurut ukuran dunia, hal itu memang kelihatan tidak mungkin. Tetapi secara rohani, itu mungkin. Menyerahkan hidup untuk memperoleh pengalaman dalam Tuhan, dapat membawa kita pada pertemuan dengan kebahagiaan. ***

 

 

Tinggalkan Balasan