Tidak Ada Kata Terlambat Untuk Menerbitkan Buku

Epitaf Cinta adalah antologi puisi di mana penulis berkontribusi dalam beberapa puisi lainnya adalah koleksi saya.Saya tengah bersiap mempunyai buku sendiri dari YPTD (dokpri)

Ketika saya dikontak oleh Pak Thamrin Dahlan untuk membuat buku, kaget sekaligus gembira. Cita- cita saya untuk menulis memang telah lama. Saya pengin mempunyai buku yang ditulis khusus oleh saya sendiri, bukan keroyokan, bukan antologi seperti yang pernah saya ikuti. Saya memang sudah pernah mengikutsertakan artikel, cerpen, puisi menjadi sebuah buku. Namun saya sampai saat ini belum terlalu pede untuk menulis dari kumpulan tulisan saya.

Buku Pertama dari solo buku yang saya tulis di YPTD
Sebagai rekan sesama Kompasianer Pak TD telah kenyang dalam dunia menulis. Selain mengenal tulisannya di Kompasiana juga sering ketemu ketika menulis di Indonesiana. co. Pak TD sangat luwes dalam bergaul sehingga ia mempunyai banyak relasi yang bisa beliau ajak kerjasama dalam kegiatan kepenulisan. Saya melihat pak TD adalah pribadi yang mampu merangkul para pegiat literasi yang kesulitan menerbitkan buku.

Kadang banyak penulis mempunyai cita – cita melambung hanya membuat buku dari penerbit mayor. Namun untuk bisa dilirik penerbit mayor tentu tidak mudah kalau tulisan benar- benar mampu menjual dan mampu memberi inspirasi banyak orang.
Tawaran pak TD untuk menerbitkan buku gratis ber ISBN dengan dibantu dengan editor dan juga desain caver telah menaikkan rasa percaya diri penulis. Saya termasuk yang tertantang untuk menerima tawaran pak TD dengan YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan).Sudah banyak penulis yang terbantu sehingga mampu menerbitkan bukunya.

Tidak Ada Kata Terlambat Menerbitkan Buku
Umur saya sudah 50 tahun sebetulnya cukup tua untuk bersaing dengan yang muda dalam hal literasi. Saat ini banyak penulis muda bertebaran dan terus menulis di blog, platform blog yang menampung hasrat menulis para pegiat literasi. Namun saya mengamati baru sekitar 20 persen yang mau bekerja dalam bidang literasi, sisanya mereka sibuk main game, menikmati aplikasi – aplikasi canggih dari handphone, dan selalu update hal – hal lebih spesifik ke visual bukan yang dunia literasi entah, menulis, menjadi penyair, sastrawan ataupun penulis artikel.

Konten – konten visual lebih dinikmati dari konten yang berangkat pada dunia sastra, konten yang mendorong orang-orang muda menyukai bacaan, menyukai kegiatan tulis menulis.


Sampai saat ini saya masih lebih sibuk untuk bekerja sebagai guru, mengabdi pada dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan yang sarat pengetahuan, sarat dengan dunia transfer ilmu membuat guru harus selalu dituntut untuk update ilmu dan pengetahuan. Saya melihat dunia guru akan lebih berkembang ketika gurunya sendiri aktif menulis. Ia tidak hanya mendorong siswanya belajar tetapi juga mendorong diri sendiri untuk selalu belajar, belajar dan belajar, berlatih, berlatih dan berlatih.

Menulis Membiasakan dengan Perubahan
Dengan menulis saya menjadi terbiasa dengan perubahan. Apalagi di masa PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) mau tidak mau guru harus kreatif, menciptakan pembelajaran jarak jauh yang tidak membosankan tidak membuat boring para siswanya. Bagaimana caranya pembelajaran menjadi tidak boring. Tentunya mindset guru yang harus didorong untuk selalu siap menyambut perubahan, selalu pengin belajar cepat menerima perubahan yang ada.


Buku adalah salah satu sumber ilmu, saya pernah menjadi salah satu guru yang ikut menyumbangkan tulisan untuk mata pelajaran. Salah satu kenapa saya mudah membuat tulisan karena kebiasaan sehari – hari selain sebagai pengajar juga menyukai dunia tulis menulis.
Dalam satu dekade ini sudah banyak tulisan yang dihasilkan. Hampir sebagian besar adalah ketika menulis di platform blog yang sekarang ini banyak di internet.

Menulis bagi saya adalah sebuah pendewasaan pikiran, melatih kepekaan, melatih keberanian, melatih rasa percaya diri. Setelah menulis lebih dari seratus artikel saya mulai pede bahwa saya memang bisa menulis. Namun meskipun sudah mampu menata kata atau lema, saya tidak pernah berpikir untuk berhenti belajar. Sebab kunci utama kualitas penulis adalah pengetahuan penulis yang luas. Dalam buku yang saya rencanakan diterbitkan di YPTD banyak hal bisa dishare kepada para pembaca. Saya menulis dengan judul Bukan Sekadar Menulis.

Dari judul itu harapan saya bahwa pembaca bisa mencari alternatif bacaan yang memberi banyak pengalaman. Semoga saja generasi sekarang lebih melek literasi, banyak membaca dan lebih bagus lagi beraktifitas menulis. Salah satu faktor kenapa Indonesia masih dikatakan ketinggalan dengan negara lain adalah karena budaya membaca dan menulis belum menyentuh banyak generasi muda sekarang ini.

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu penulis favorit saya. refleksi tulisannya sangat dalam terutama satu quotenya yang membuat saya berani menulis:Menulis adalah sebuah keberanian.:”Semua harus ditulis, apa pun, jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna”

Menulis berarti selalu memperbarui pengetahuan, menambah ketajaman analisa, melatih kepekaan dalam merangkai kata – per kata. Semakin sering membaca, semakin sering belajar dari orang lain akan semakin dalam apa yang ditulis manusia. Menulis itu sebuah refleksi, baik bathin maupun kemampuan menyerap ilmu pengetahuan.

Saya masih bisa melacak jejak tulisan saya dari file saya di komputer dan yang selalu tersimpan sebagai karya tulis yang tersimpan di jejak digital dunia internet. Dengan menulis klue judulnya dan mencari di google saya dengan mudah menemukan jejak digital berupa tulisan- tulisan yang pernah saya posting di platform blog ataupun blog pribadi. Untuk memori file besar bisa disimpan di drive, untuk memori yang tidak banyak memenuhi memori saya menyimpannya di dokumen.

Keberanian Untuk Memulai yang Terpenting dalam Menulis
Tidak ada kata terlambat untuk menulis, dan harus mempunyai keberanian untuk menulis dan menjadikannya sebuah buku. Mempunyai buku seseorang merasa tertahbiskan menjadi seorang penulis. Salah satu yang bisa membuat semangat dan menciptakan peluang untuk meyakinkan diri bahwa kita bisa menulis dan mencantumkan nama di perpustakaan nasional, sekaligus tercatat dalam sejarah.
Semoga semangat untuk membantu para penulis untuk mencatatkan namanya sebagai pelaku sejarah literasi tetap bergema dalam hati dan pikiran pak TD dengan YPTDnya. Semangat terus dipupuk, tua itu hanya usia semangat tetap harus muda untuk selalu belajar dan terus belajar meningkatkan kemampuan diri.

Tinggalkan Balasan

News Feed