Ini 3 Keunikan “Rires”, Lemang dalam Balutan Lintas Budaya

Memasak rires (lemang) pada pesta adat kerja tahun (Dok. Teo Tarigan)

Sejarah menunjukkan bahwa budaya, bahasa, keyakinan dan agama bangsa-bangsa seringkali tersebar di berbagai tempat. Baik karena sukarela akibat hubungan dagang, diplomasi antar bangsa, maupun karena pemaksaan akibat perang, bencana dan lain sebagainya.

Maka tidak heran, kita menemukan berbagai kemiripan dalam corak budaya, bahasa, maupun keyakinan dan agama bangsa-bangsa di berbagai belahan dunia.

Kali ini kita akan melihat cuplikan keunikan akulturasi dalam balutan kuliner bernama “rires”. Ini adalah salah satu makanan tradisional pada suku Karo.

Rires lebih dikenal secara nasional dengan nama lemang. Itu adalah sejenis penganan dari beras pulut (ketan) yang dicampur dengan santan, kunyit, garam dan lada yang dihaluskan. Dikemas dalam balutan daun pisang, kemudian dimasukkan ke dalam potongan ruas bambu untuk dipanggang dengan kayu bakar.

Dalam tradisi suku Karo, rires dibuat dan disajikan pada acara pesta syukuran setelah panen padi yang dikenal dengan nama pesta “kerja tahun”. Namun, pada masa sekarang rires sudah biasa disajikan pada hari-hari biasa, bahkan banyak yang menjualnya sebagai buah tangan (oleh-oleh).

Ada tiga keunikan yang menarik terkait hubungan sejarah dan budaya Karo dalam tradisi memasak rires ini. Mari kita lihat satu persatu.

  1. Asal kata Rires

Tidak ditemukan secara jelas asal-usul kata rires ini. Namun, kita akan menemukan fakta menarik dari sudut pandang etimologi dan numerologi bila menelusuri asal kata rires.

Secara etimologi, rires adalah kata benda dalam bentuk jamak. Bentuk tunggalnya adalah “rire” (Middle French), “rire” (Old French), “ridere” (Latin), yang berarti tawa. Dalam kelas kata kerja, “rideo” (Latin), atau “rire” (Prancis), berarti tertawa.

Sementara itu secara numerologi, nilai numerik untuk “rires” menurut numerologi Chaldean adalah 4. Sedangkan, menurut numerologi Pythagorean, nilai numerik “rires” adalah 6.

Dalam budaya Karo, kedua angka ini juga memiliki nilai simbolis. Angka 4 (empat) berarti selpat (putus) atau tumpat (sumbat). Maksudnya adalah, doa harapan untuk memutus, menangkal, atau menyumbat semua pikiran jahat dan maksud buruk dari pihak lain.

Sementara itu, angka 6 (enam), berarti gelem (genggam) atau enam (iya, amin). Maksudnya adalah menggenggam atau meng-iya-kan (mengaminkan) doa harapan atas segala hal yang baik bagi pihak yang didoakan.

Apabila penjelasan dari kedua sudut pandang itu dihubungkan tentu akan terasa lebih menyenangkan saat menyantap rires. Makanan yang telah didoakan dengan keyakinan akan hadirnya segala harapan baik, dan tersumbatnya segala keburukan. Dinikmati dalam suasana kekeluargaan penuh gelak tawa, mensyukuri hasil panen padi.

 

  1. Beras yang digunakan

Page si galia adalah jenis beras pulut (ketan) khas sebagai bahan baku rires yang tumbuh secara endemik di desa Serdang Kabupaten Karo. Beras jenis ini  disebut juga “si gedang janggut” (sang panjang janggut), karena tangkai bulirnya yang panjang dengan bulir yang lebat menyerupai janggut.

Rires dari page si galia ini dapat dinikmati dengan gula aren yang dilelehkan disebut “tengguli” dalam versi manisnya. Atau bisa juga dinikmati saat masih hangat bersama ayam gulai dalam versi asinnya.

Lemang dengan bahan “page si galia” dinikmati bersama tengguli atau gula aren (Dok. Teo Tarigan)

Cita rasa dari lemang berbahan baku page si galia ini sudah menjadi trade mark atau hak paten (sejauh yang saya tahu sampai saat ini belum tertulis) yang dimiliki oleh padi yang hanya tumbuh baik di desa Serdang ini. Sebagian besar masyarakat Karo penikmat dan pemerhati lemang di Tanah Karo umumnya sudah mengetahui dan mengakui hal itu.

  1. Lemang sebagai Simbol Budaya Serumpun

Kita bisa mengetahui dari berbagai referensi bahwa suku-suku bangsa rumpun Melayu sama-sama menjadikan lemang sebagai makanan perayaan meskipun berbeda nama di sana-sini. Sebagaimana kita ketahui, ada juga pada suku Dayak, Ulun Lampung, Minangkabau, di Kelantan, pada suku Semai, pada orang-orang Banjar di Samarinda, dan mungkin masih banyak juga pada suku lainnya.

Hamparan padi sawah di desa Serdang dengan latar belakang gugusan bukit TN. Bukit Barisan (Dokpri)

 

Terlepas dari berbagai perbedaan dalam penamaan, bahan-bahan, cara pembuatan, dan cara penyajiannya, setidaknya lemang memiliki satu titik kesamaan pada berbagai budaya.

Lemang umumnya disajikan pada acara selamatan, pesta syukuran, atau pesta adat, sebagaimana halnya “rires” pada pesta “kerja tahun” suku Karo. Mirip halnya dengan penyajian nasi tumpeng yang sudah umum dilakukan oleh berbagai suku di Indonesia.

Satu hal lagi yang tidak kalah penting bahwa penelusuran sejarah, sekalipun hanya dalam balutan makanan, tidak jarang membawa kita kepada sebuah permenungan, bahwa sebenarnya kita semua memang bersaudara.

Salam persaudaraan.

Teopilus Tarigan untuk Inspirasiana.

Tinggalkan Balasan