Perjuangan Belum Berakhir

Indonesia telah merdeka sejak tahun 1945, di tanah tempat kita berdiri ini yang dahulu telah di perjuangkan oleh pahlawan-pahlawan Indonesia dengan penuh semangat perjuangan. Mulai dari perjuangan melawan penjajah hingga memproklamasikan negeranya sendiri. Ia bukan sekedar lahir dari perjuangan, melainkan dari rasa persatuan dan kesatuan serta rasa senasib-sepenanggungan yang terus di galakkan.

Perang antara pasukan Indonesia dengan pihak asing tersebut menjadi sebuah pertempuran yang paling besar dan paling berat sepanjang sejarah Revolusi Nasional Indonesia. Kemudian, peristiwa ini dijadikan symbol nasional atas perlawanan Bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan menjadi peran militer dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Kita patut bangga dengan para perjuangan para leluhur kita karena mereka kita bisa berada sampai saat ini melakukan aktivitas dengan normal, makan dengan enak dari kekayaan alam di Indonesia, bahkan bisa tertidur dengan nyenyak tanpa suara ledakan. Tanpa semua itu mungkin kita tidak akan menjadi negara seperti sekarang ini. Untuk itu kita harus terus mengenang dan menghargai perjuangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa ini.

Dan untuk saat ini, negara membutuhkan generasi muda sebagai penerus yang mempunyai jiwa patriotisme, pantang menyerah, berdisiplin, juga berkarakter menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan di bidangnya. Generasi muda yang sadar kalau bangsanya memiliki keberagaman dalam agama, adat istiadat, budaya dan suku. Namun mereka mampu memanfaatkan keberagaman itu sebagai modal sosial untuk menjadikan bangsanya unggul dalam pergaulan dunia internasional.

Kemerdekaan sudah kita rasakan dan sekarang kita memasuki era globalisasi dimana serba keterbukaan informasi dan kemudahan akses teknologi. Hal ini menciptakan mobilitas tinggi dan interaksi tanpa batas jarak, waktu maupun negara. Beda zaman, beda pula tantangan yang dihadapi oleh Indonesia. Kalau dulu para pahlawan kita memberantas penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan. Kini tantangan yang dihadapi pemuda bervariasi. Mulai dari derasnya arus informasi, daya saing tenaga kerja yang ketat, hingga kemajuan teknologi yang bisa menggantikan manusia.

Para pemuda dijajah dengan beragam euphoria kesenangan yang ditawarkan hingga membentuk perilaku konsumtif dan hedonis yang akhirnya melahirkan sosok pemuda yang semakin terdistorsi dan terpolar dalam ragam kepentingan serta dibuat apatis terhadap lingkungan sosialnya. Para generasi bangsa tidak mampu menunjukkan perannya yang signifikan, miskin karya, miskin gagasan, dan miskin semangat juang serta tenggelam dalam budaya individualis dan matrealistis yang membuat hati begitu miris.

Teringat sebuah ungkapan yang menghentak nurani “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai dan menghormati jasa-jasa pahlawannya”, demikian pula sebuah wejangan flamboyan yang pernah dikatakan Bung Karno “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” atau yang disingkat “Jasmerah”. Ungkapan-ungkapan tersebut mengingatkan kepada masyarakat Indonesia modern untuk selalu mengingat jasa-jasa pahlawan. Dalam hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan Undang-undang Dasar (UUD) 45 dan Pancasila adalah keharusan bagi pemuda untuk mengerti akan peran dan fungsinya dalam melanjutkan proses perjuangan. Karena bagaimanapun sejarah Indonesia tidak lepas dari perjuangan pemuda yang tangguh di masa silam.

 

Tinggalkan Balasan

News Feed