Transformasi Botol Plastik Menjadi Dinding Teras, Pembelajaran Berbasis Lingkungan

Anda pasti ingat film The Last Samurai yang dibintangi Tom Cruise. Kisah yang menceritakan veteran perang AS, Nathan Algren, dipaksa situasi untuk menerima tawaran menjadi pelatih perang pasukan kekaisaran Jepang untuk menumpas pemberontakan separatis kelompok samurai yang dipimpin oleh Katsumoto.

Dalam film itu dikisahkan Nathan dan pasukannya mengalami kekalahan. Dia sendiri terluka parah dan menjadi tawanan pasukan Katsumoto. Sebagai tawanan Nathan diperlakukan dengan manusiawi dan mendapatkan perawatan dari Taka (Koyuki), adik Katsumoto dan janda seorang samurai yang dibunuh oleh Nathan sendiri.

Perlakukan Katsumoto dan warga samurai membuat Nathan memilih menjadi bagian dari keluarga dan kelompok samurai.

Kisah film The Last Samurai menunjukkan bahwa lawan bisa menjadi kawan, musuh menjadi sahabat.

Apa hubungannya dengan sampah? 

Sampah adalah musuh yang dapat berdampak bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan jika tidak ditangani dengan tepat.

Tidak ada musuh yang jahat jika diperlakukan dengan baik. Dan tidak ada sesuatu yang benar-benar berbahaya jika ditangani dengan baik.”

Jadi begini

Bangunan sekolah saya memanjang dari utara ke selatan. Ada dua unit bangunan. Secara keseluruhan terdiri dari enam ruang kelas. Tiga ruang kelas di sebelah utara dan tiga lainnya di sisi selatan. Dua unit itu dipisahkan ruang kantor (guru) dan ruang kepala sekolah. Bangunan yang memanjang itu diikuti dengan teras yang juga memanjang.

Teras nan panjang tanpa sekat itu menjadi jalur lalu lalang siswa saat istirahat. Seringkali anak-anak itu kejar-kejaran di teras sambil teriak-teriak dan menimbulkan suara gaduh. Saat istirahat suara mereka kerap mengganggu jika ada tamu di ruang kepala sekolah.

Namun bagaimanapun juga demikianlah perilaku anak-anak. Rasa senang yang meluap biasanya mereka ekspresikan dengan cekikikan tanpa menyadari ada orang lain yang terganggu. Suara kaki yang berlari menghentak lantai menimbulkan suara tak nyaman. 

Belum lagi kalau musim hujan. Sepatu anak-anak setelah bermain di halaman sekolah dibawa ke teras dan membuat kotor keramik.

Sejak lama sekolah berencana membuat teralis pembatas teras di depan ruang kantor itu untuk mengurangi keributan dan menjaga kebersihan teras akibat ulah anak-anak.

Namun kondisi keuangan sekolah yang pas-pasan membuat rencana itu selalu tertunda. Honor guru saja mencapai 35% dari anggaran belanja keseluruhan. Akibatnya pemasangan sekat tidak dapat diwujudkan.

Alternatif lain yang mungkin untuk dilakukan adalah membuat sekat dengan biaya murah, terjangkau, dan ekonomis. Ecobrick

Apa itu Ecobrick?

Ecobrick adalah botol plastik yang dijejali dengan sampah plastik dengan kepadatan tertentu. Hasilnya dapat digunakan kembali sebagai blok bangunan. Ecobricks dapat dijadikan bahan dasar pembuatan berbagai barang termasuk furnitur, dinding taman, dan struktur lainnya. 

Ecobricks diproduksi terutama sebagai solusi untuk mengelola plastik dengan cara mengisolasi, menyimpan dengan aman, dan melindungi plastik secara efektif. Ini dapat meminimalisir penyebaran plastik di lingkungan sekitar. Metode ini juga dipercaya sebagai cara aman untuk mencegah degradasi plastik menjadi polutan dan mikroplastik.

Setiap aktivitas yang melibatkan banyak orang selalu secara niscaya menghasilkan sampah, mulai dari aktivitas rumah sakit, pasar, perkantoran, sampai aktivitas di sekolah. Salah satu jenis sampah itu adalah plastik.

Pembelajaran berbasis lingkungan

Sekolah menjadi salah satu penghasil sampah plastik yang cukup besar. Ini juga tergantung jumlah siswa atau warga sekolah. Makin banyak orang yang ada di sebuah sekolah makin besar pula potensi sampah yang dihasilkan. Penanganan sampah di sekolah penting untuk dilakukan dalam rangka membangun kesadaran siswa tentang lingkungan.

Ecobrick sebagai salah satu solusi tidak memerlukan biaya besar. Bahannya hanya botol bekas dan kemasan plastik jajanan, mainan, dan berbagai hasil produksi lain yang dapat ditemukan di berbagai tempat. Ecobrick dapat dijadikan salah satu instrumen pembelajaran lingkungan.

Mengurangi sampah dengan cara yang aman

Teknik ecobrick akan berdampak pengurangan sampah plastik, paling tidak, di sekitar sekolah. Sampah itu akan tersimpan dengan aman dalam botol-botol ecobrick. 

Dilansir dari Wikipedia, “plastik yang dibakar melepaskan sejumlah racun dalam proses pembakaran, termasuk dioksin, furan, merkuri, dan bifenil poliklorinasi. Ketika dibakar di luar fasilitas yang dirancang untuk mengumpulkan atau mengolah racun, hal ini dapat menimbulkan efek kesehatan dan menciptakan polusi udara yang signifikan.”

Zat beracun yang dilepaskan melalui pembakaran plastik dalam jumlah besar sangat berpotensi besar menimbulkan ancaman bagi tumbuh-tumbuhan, kesehatan manusia dan hewan serta lingkungan secara keseluruhan. (sciencedirect.com)

Oleh karena itu, ecobrick merupakan metode penanganan sampah paling aman untuk jangka waktu tertentu. Sebuah teknik reuse, menggunakan kembali limbah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk keperluan sehari-hari.

Melatih Kerja Sama dan Tanggung Jawab

Pendidikan karakter menjadi salah satu prioritas utama saat ini. Dalam setiap kurikulum aspek ini menjadi salah satu tujuan pembelajaran yang harus dikembangkan.

Program ecobrick yang dilakukan di sekolah secara konsisten diharapkan dapat menanamkan sikap kerjasama dan tanggung jawab siswa dan warga sekolah terutama terhadap keberadaan sampah plastik. Asumsinya, penanganan sampah dengan ecobrick tidak bisa dilakukan secara individu tetapi memerlukan kerja bersama semua komponen sekolah. Kepala sekolah, guru, siswa, dan pihak eksternal serta semua pihak terkait diharapkan memiliki rasa bertanggung jawab untuk melakukannya.

Menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan 

Ecobrick sebagai bagian dari kegiatan sekolah, setidaknya memberikan sebuah ide kepada siswa bagaimana mewujudkan kepedulian lingkungan dengan cara yang lebih realistis. Keterlibatan anak-anak untuk mendaur ulang plastik dengan cara sederhana akan lebih bermakna daripada sekadar berbicara tentang panjang lebar tentang lingkungan dalam proses pembelajaran.

Kebiasaan membuang sampah (plastik khususnya) secara sembarangan diharapkan dapat berubah menjadi kebiasaan menempatkan sampah pada wadah yang tersedia.

Menumbuhkan Kewirausahaan sekolah

Salah satu tugas kepala sekolah dalam standar pelayanan pendidikan adalah mengembangkan kewirausahaan. Gagasan kewirausahaan sejauh ini kerap diartikan sebagai upaya ekonomi untuk mendapatkan keuntungan finansial.

Kewirausahaan dalam dunia pendidikan lebih mendasar daripada sekadar keuntungan material. Pengembangan kewirausahaan lebih mengarah kepada sisi prinsipal, seperti kemandirian, daya inovasi, kerja keras, serta memiliki motivasi dan semangat yang muat. Salah satu wujud dari kewirausahaan itu adalah mengoptimalkan sumber daya yang ada (alam dan manusia).

Lombok Timur, 19 – 01 – 2023

Tinggalkan Balasan