Sastra Hidup Prie GS

“Hidup itu berat, maka gepuklah. Hidup itu ringan, maka bentuklah”, sebuah pesan sesuai fakta yang terlihat menggunakan bahasa main-main, namun kata ini keluar dari seorang sastrawan terkenal tanah air, seorang komikus, jurnalis, seniman teater, hingga puclic speaker. Beliau adalah Bapak Prie GS. Pak Prie pada hari selasa diundang oleh PIC PK LPDP Bapak Shabahul Arafi untuk mengisi di sesi kedua PK 144 LPDP Santri setelah Kyai Habiburrahman El-Shirazy, penulis novel fenomenal “Ayat-ayat Cinta”.
Kami semua para peserta PK Santri angkatan 144 sudah mendengarkan secara antusias dari Kang Abik sebelumnya. Bahkan, bukan hanya kami saja, Pak Prie GS sebagai pembicara kedua, juga hadir lebih pagi dari yang dijadwalkan oleh LPDP. Beliau duduk bersama para peserta dan tidak berada di atas panggung bersama Kang Abik. Segala yang dipresentasikan oleh Kang Abik, didengarkan secara khusyuk oleh Pak Prie.
Seperti biasa, sebelum acara sesi inti dimulai. Seluruh peserta akan diminta untuk berdiri. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan, dengan dipandu oleh Mbak Monasari, awardee S3 yang akan melanjutkan di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Setiap kali menyanyikan lagu kebangsaan ini, rasa nasionalisme seakan disiramkan kembai ke dalam sanubari. Siapa lagi yang akan mencintai bangsa ini kalau bukan para anak bangsanya sendiri.
Usai bernyanyi Indonesia Raya, dilanjutkan dengan pembacaan bersama ikrar penerima beasiswa LPDP. Suara tegas terdengar dari seluruh ruangan. Saya berusaha mendalami setiap kata yang terucap, memasukkan ke dalam hati. Takut sekali terhadap diri ketika kata hanya tingal kata, tidak merasuk ke dalam hati. Saya takut ketika setiap kata yang terdengar hanya masuk ke dalam telinga kanan dan keluar lewat telinga kiri, tidak sampai menembus ke dalam hati.
Lagu Cantrikabinaya Nagarajaya selalu dinyanyikan bersama setelah lagu kebangsaan dan pembacaan Ikrar LPDP. Dalam seluruh sesi ini, semua dari kami berdiri. Kelompok Sultan Agung, dimana saya menjadi anggotanya masih berada duduk di kursi paling depan sebelah kanan. Seragam yang kami gunakan pada hari selasa pagi ini adalah memakai setelah hitam hitam, pakaian hitam, celana hitam, bersepatu resmi. Sebagaimana kesepakatan dulu saat acara PK (Persiapan Keberangkatan) belum dilaksanakan dan PA (Perwakilan Angkatan), Mas Gilang dan teman-teman rapat dengan PIC PK yang dikepalai oleh Pak Rafi.
Pak Rafi masih menjadi pembawa acara yang menemani pembicara, setelah sebelumnya juga menyertai Habiburrahman El-Shirazy. Seperti halnya Kang Abik, Pak Prie GS adalah tokoh nasional yang sudah senior. Bahkan, saat Kang Abik tadi menjadi pembicara, beliau bercerita bahwa, Pak Prie merupakan salah satu guru sastranya. Pada saat pulang ke Indonesia setelah menuntut ilmu di Mesir dan mulai berkiprah di tanah air, Pak Prie merupakan salah satu orang yang didatangi oleh Kang Abik untuk belajar sastra.
Mengawali pembicaraanya, Pak Prie bercerita bagaimana beliau dulu awal kenal dengan Kang Abik. Saat Kang Abik dulu belum terkenal dan menulis novel “Ayat-ayat Cinta”. Draft dari novel itu diserahkan Kang Abik kepada Pak Prie. “Secara sastra novel ini minim sastra, penulisnya bukan seorang sastrawan. Tapi yang menulis novel ini adalah orang ‘alim, orang sholeh, seorang yang mengerti agama. Novel ini penuh dengan nilai keagamaan yang mulia”, itulah penilaian yang diungkapkan oleh Pak Prie pada saat itu ketika diminta pendapat oleh Kang Abik mengenai novel Ayat-ayat Cinta.
Pak Prie menghargai apa yang sudah dilakukan oleh Kang Abik. Beliau lebih mendahulukan adab dari pada knowledge, pengetahuan. Ternyata benar, beberapa bulan berikutnya, novel Ayat-ayat Cinta booming. Terkenal bukan hanya di Indonesia, tapi menjadi best seller Internasional. Bahkan menginspirasi banyak sekali orang yang ada di seluruh dunia. Seandainya pada waktu itu Pak Prie hanya melihat dari sisi nilai sastranya saja, beliau bisa saja mengejek hasil karya Kang Abik waktu itu, tetapi beliau berpegang pada “Al-Adab fauqal ilmu”, “Adab itu posisinya di atas ilmu”.
Beberapa kali beliau selalu menekankan untuk lebih mendahulukan adab, nilai, tata krama, dari pada knowledge yang dimiliki. Saya salut dengan Pak Prie. Dengan ketenaran yang sudah beliau raih selama ini, kesederhaan dan rasa hormat kepada setiap orang, senantiasa beliau jaga. Bahkan istilah “Al-Adabu fauqal Ilmi”, bagi saya sebagai seorang santri bukanlah hal yang asing. Semenjak di pesantren, guru-guru saya dulu selalu menekankan untuk selalu mendahulukan adab dari pada ilmu yang sudah dikuasai.
Kitab “Ta’limul Muta’allim” yang berisi tata krama bagaimana seorang murid berhubungan. Mulai dari hubungan murid dengan gurunya, murid dengan kitabnya, murid dengan sesamanya, hingga seorang murid dengan orang tuanya. Kitab ini selalu dikaji di pesantren-pesantren salaf di Indonesia. Pada saat saya mondok di Pesantren Darussalam Blokagung, setiap bulan ramadhan, Kyai Hasyim Syafaat selalu mengkaji kitab ini di dalam masjid pesantren, mengajarkan santri agar beradab, bukan hanya berilmu.
Saking pentingnya sebuah adab, sampai KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama’ juga Menyusun sebuah kitab bernama “Adabul ‘Alim wal Muta’alim”, sebagaimana kitab “Ta’limul Muta’alim”, kitab karangan Mbah Hasyim juga mengajarkan bagaimana adab seorang murid kepada gurunya, tata krama guru kepada muridnya, hingga adab seorang murid kepada kitabnya. Semuanya dijelaskan oleh beliau dengan disertakan dalilnya dari al-qur’an dan haditsnya Rosulullah Saw. Sama dengan kitab “Ta’limul Muta’allim”, kitab “Adabul ‘Alim wal Muta’allim” juga selalu dikaji di pesantren-pesantren salaf di Indonesia.
Pak Prie GS mulai bercerita saat dulu beliau melaksanakan ibadah haji. Apa yang hendak beliau ceritakan tentang haji ini, cerita lengkapnya sudah pernah beliau tuliskan ke dalam bukunya yang fenomenal berjudul “Mendadak Haji”. Ada banyak sekali pelajaran yang didapatkan dari orang yang pergi haji. Dari semua pelajaran hidup yang disampaikan oleh Pak Prie, bahasa yang digunakan sederhana, namun penuh makna.
Bukan hanya sederhana dan penuh makna saja, beliau selalu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Sebagai seorang seniman dan pemain teater, sangat mudah bagi beliau untuk membawa suasana dalam cerita kehidupannya yang terasa mengalir dan kami seakan hadir berada dalam cerita itu. Otak kami diajak untuk berkelana bersama, berjalan bersama Pak Prie, mulai dari proses awal akan melaksanakan ibadah haji, hingga haji di tanah suci. Saya terbengong dengan semua cerita itu.
Ada banyak pelajaran dibalik kisah kehidupan, walaupun banyak orang menganggap itu adalah kisah yang sederhana dan kurang bermakna. Pak Prie menunjukkan hal itu saat bercerita perihal pengalaman hidupnya “Mendadak Haji”. Haji mengajarkan kedisiplinan. Pada saat beliau hendak terbang berangkat haji, harus tepat waktu karena jama’ah haji berangkat secara rombongan, tidak sendiri-sendiri.
Tepat waktu saat keluar rumah dan menuju bus yang mengantarkan ke embarkasi. Kalau telat, bisa ketinggalan bus rombongan dan kemungkinan terburuknya tentu akan ketinggalan pesawat dan tidak jadi haji. Inilah pelajaran pertama, haji mengajarkan kedisiplinan. Disiplin ini juga selalu diajarkan dalam rangkaian seluruh ibadah haji nanti ketika di tanah suci. Tawaf hanya boleh sampai tujuh kali putaran mengelilingi ka’bah, tidak boleh lebih, juga tidak boleh kurang.
Haji mengajarkan tertib. Ini adalah nilai kedua yang beliau paparkan dalam cerita kehidupan “Mendadak Haji”. Orang yang berhaji akan selalu diajarkan ketertiban. Terutama tertib dalam menjalankan shalat berjama’ah. Pada saat berada di tanah suci, setiap orang akan berlomba-lomba untuk melaksanakan shalat secara berjama’ah. Pada saat di Madinah, selalu tertib menunaikan jama’ah di Masjid Nabawi, pada waktu di Makkah, tertib shalat jama’ah di Masjidil Haram. Harapannya, nilai tertib ini akan berlanjut ketika nanti pulang, selesai menunaikan ibadah haji.
Setiap detik dari nafas yang keluar dari tubuh ini ada nilainya. Setiap kejadian yang dialami selalu ada pelajarannya. Seperti itulah yang diajarkan kepada kami dari Pak Prie. Beliau memberikan nasehat-nasehat hidup selain pelajaran dari ibadah haji yang beliau laksanakan dulu. Dalam berhubungan bersama istri dan anak, beliau berpesan untuk selalu memberikan kasih sayang. Jangan sampai berbicara dengan menggunakan intonasi yang terlalu ketinggian, karena bentakan dari intonasi itu akan membekas di masa depan istri dan anak nanti.
Beliau mengulang kembali pesan yang disampaikan di awal tadi. Namun, bahasanya menarik. Kang Abik pada saat presentasi sebelum Pak Prie GS, menyinggung peran santri di Nusantara pada masa lalu hingga masa kini. Nah, santri-santri pada masa lalu rata-rata membawa serta ajaran tarekat dari para gurunya. Lalu, saat ini Pak Prie memberikan pesan kepada kami dengan kata, “Adab merupakan salah satu tarekat yang murah menuju Tuhan”.
Saya hanya berusaha mendiskripsikan apa yang sudah disampaikan oleh Pak Prie GS. Namun, fakta sesungguhnya ketika berhadapan dengan Pak Prie dan mendengarkan pemaparan beliau secara langsung, sungguh sangat jauh sekali kualitasnya. Mendengarkan cerita-cerita beliau yang sepertinya sederhana sangat luar biasa, bagi saya sungguh memukau. Bahkan, saya tidak bisa mendiskripsikan dengan kata-kata yang pas di dalam tulisan ini. Pak Prie sangat piawai bercerita, sesi pada saat Pak Prie berbicara, saya tidak menemukan satupun peserta yang mengantuk, tidak ada peserta PK yang tidur. Semuanya larut dalam tawa dan takjub.
Ya, hari selasa ini memang istimewa. Dua sastrawan, dua penulis, dua tokoh nasional memberikan banyak pelajaran ke saya, ke kami para awardee LPDP Santri. Selanjutnya beliau berpesan untuk menjadi diri sendiri, jangan menjadi orang lain. Berusahalan selalu memahami apa yang sedang terjadi di sekitar dan ambillah pelajarannya. Selalu meyakini dengan segala sesuatu yang sedang dikerjakan, bahwa suatu saat nanti akan menghasilkan sesuatu yang baik.
“Melepaskan segala capaian prestasi yang sudah diraih, karena semua itu adalah pertolongan dari Tuhan dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya tujuan hidup”, lanjut pesan Pak Prie. Itulah beberapa pesan yang disampaikan oleh Pak Prie. Tentu bahasa yang digunakan oleh Pak Prie dan gaya dalam menuturkan pesan itu, tidak bisa saya deskripsikan dengan lengkap. Terlalu sempurna bagi saya, gaya yang dilakukan oleh Pak Prie.
Pada saat sesi tanya jawab, ada tiga penanya yang diberikan kesempatan. Yang bertanya pertama kali adalah Maya, dia adalah awardee yang akan melanjutkan S2 di Universitas Negeri Malang. Pertanyaannya adalah bagaimana cara “mensastrai” kehidupan sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Pak Prie selama ini?
“Berbuat baik, meminta maaf. Hadapilah hidup ini, karena kehidupan memang keras. Adab lebih tinggi dari pada dunia dan seisinya, sehingga Tuhan akan menjawab doa-doa dan keinginanmu. Terkadang, hidup memang tidak seperti yang kita inginkan, namun serahkanlah segala yang dikerjakan kepada Tuhan dengan selalu memiliki prasangka yang baik”, jawaban yang luar biasa dari Pak Prie GS.
Galuh menjadi penanya kedua, dia adalah awardee S2 UIN Malang, bertanya bagaimana mengubah kegalauan menjadi sastra? Bagaimanakah menjinakkan penderitaan, sehingga menderita dengan bahagia?. Pak Prie menjawab pertanyaan Galuh dengan cara mencintai segala sesuatu yang ada di luar diri. Ketika segala sesuatu yang ada di luar diri (makhluk Tuhan) bisa dicintai, maka segala soal-soal kehidupan akan dibantu oleh Tuhan.
Penanya yang terkahir adalah Gus Yasin, salah satu keluarga dari Pondok Pesantren Gading, Malang. Teman-teman langsung riuh, pasalnya Gus Yasin sebelum bertanya, langsung memperkenalkan diri dan membuka kartu bahwa dirinya baru saja menikah, lalu ikut PK, jadi harus berpisah lebih dari satu minggu dengan istrinya. Pertanyaannya adalah bagaimana caranya istiqomah, konsisten memandang keluarga selalu baik, dibanding keluarga yang lain?
Jawaban Pak Prie dari pertanyaan yang terakhir ini sekaligus menutup presentasi Pak Prie yang pagi hari ini membawakan tema “Seni dan Budaya sebagai wujud Identitas Bangsa”. Jawabannya adalah “Saat engkau ridlo terhadap aduhmu, maka Tuhan tidak akan tega denganmu. Selalu berusaha membuat rasa syukur dengan tingkat eskalasi kekaguman terhadap keluargamu. Selalu mengungkapkan rasa syukur dan terus menerus berusaha meningkatkannya”.
Pada saat sesi berakhir, Pak Prie Gs didampingi Pak Rafi hendak meninggalkan ruangan. Para peserta semuanya berdiri, satu persatu dari kami secara bergiliran menyalami beliau sambil berjalan keluar. Di setiap detik dari kehidupan yang dilalui, selalu ada pelajaran ketika seorang manusia mau memaknainya. Itulah yang menjadi pesan dari semua kisah yang diceritakan oleh Pak Prie GS. Terimakasih Pak Prie. Setiap detik dari kehidupan adalah anugerah Tuhan yang istimewa.

Tinggalkan Balasan