80 Coret Mesir

“Mas, buku 80 Coret Mesir dari Pak Thamrin Dahlan sudah datang”, sambil menunjukkan paketan dari TIKI, istriku membuka sebuah buku baru, setelah sebelumnya aku menyelesaikan pengajian Al-Barzanji, kitab tentang kisah kehidupan Rosulullah Muhammad Saw. bersama para santri di Pondok Pesantren Minhajut Thullab Putri. “Aku pengen jalan-jalan mas, sudah lama kita tidak keluar rumah”, istriku melanjutkan obrolan denganku.

“Ayo, pengen kemana?”, tanyaku yang tanpa berfikir panjang langsung mengiyakan ajakannya. Padahal, hari sabtu ini, aku punya jadwal mengajar sekolah diniyyah di Pesantren dengan materi kitab fiqih Fathul Qorib bersama para santri kelas 1 wustho. Demi keinginan istri, aku rela mengalah. “Aku ingin ke pantai”, katanya. “Bagaimana kalau kita bawa buku, empat buku sekalian. Buku serial Mesir berjudul 926 Cairo, Cairo Oh Cairo, Umroh Koboy dan buku yang baru datang; 80 Coret Mesir”, pintaku kepadanya. “Boleh Mas”, jawabnya.

“Pantai paling dekat ya di Alas Purwo, mau?”, lanjut aku bertanya. “Aku taat kepadamu”, “Memang istri sholihah”, batinku menjawab. Aku meminta istri untuk mempersiapkan semuanya. Terutama empat buku serial Mesir yang hendak dibawa. Alas Purwo dari rumah kami tinggal di pesantren Minhajut Thullab, Sumberberas, Muncar, Banyuwangi, perjalanannya sekitar 30-40 menit dan hanya melewati satu kecamatan saja. Alas Purwo berada di kecamatan Tegaldlimo, timurnya kecamatan Muncar, tempat kami tinggal.

“Aku memakai sarung saja ya?!”, “Terserah anda, nyamannya bagaimana”, jawab istriku lagi. Aku berfikir, Alas Purwo tidaklah terlalu jauh dari rumah, sehingga aku memutuskan untuk memakai pakaian santai saja, dengan bawahan sarung, atasan memakai baju lengan pendek santai, tetapi tetap memakai jaket kulit dan dilengkapi masker, karena harus keluar rumah, serta memakai helm, karena kami berkendara memakai motor, bukan mobil.

“Khilni dititipkan mbak-mbak santri saja, kasihan kalau ikut, nanti kecapean, dari pagi dia belum tidur”, pintaku kepada istri. Ya, sejak pagi hari tadi, Khilni bermain dengan para santri, hingga siang ini, dia belum istirahat, sebenarnya aku ingin mengajaknya, tapi takut dia kecapean, jadi kami menitipkannya kepada mbak-mbak santri di pesantren yang biasa mengasuhnya. “Siap mas, sudah aku titipkan ke Aisyah, yang biasa ikut di rumah kita”, jawab istriku.

Kami berjalan memakai motor keluar gerbang pesantren, melewati jalur ke arah selatan, menyeberangi jembatan ke Tegalpare yang masih wilayah kecamatan Muncar. Lalu sampai ke jalan di Kedunggebang. Desa Kedunggebang merupakan desa pertama yang masuk kecamatan Tegaldlimo. Jalanan ramai dan lancar karena hari ini adalah sabtu dan weekend, waktunya orang berlibur. Saat kami melaju menuju Alas Purwo ini, aku menemui beberapa mobil dengan plat dari luar kota yang sepertinya juga sedang menuju ke tujuan yang sama.

Bahkan, ketika sudah masuk di hutan Alas Purwo, aku disalip oleh mobil travel Hiace yang ditulisan belakang mobilnya terbaca jelas sekali; Damri. “Berarti travel di Banyuwangi sudah mulai bergeliat pasca corona melanda”, batinku berbicara sendiri. Ketika sudah dekat dengan desa terakhir sebelum ke Pancur, ada keramaian, aku melambatkan motor. Rupanya sedang ada acara music di desa, banner bertebaran, “Pendukung 01 sedang kampanye mas”, ucap istriku.

Setelah beberapa ratus meter, ada keramaian lagi. Aku bertemu kembali dengan mobil travel hiace yang menyalip kami. “Nah, kalau yang ini kampanya 02 mas”, lanjut istriku. Benar, hanya berjarak beberapa ratus meter saja, ada dua kelompok pendukung calon bupati Banyuwangi yang sama-sama sedang asyik menikmati music disertai dengan kampanye. Pertama yang aku temui, mengajak untuk memilih calon nomor urut 01 yakni Pak Yusuf dan Gus Riza, sementara setelah beberapa ratus meter berikutnya, pesta music untuk mendukung dan memilih Bu Ipuk dan Bapak Sugirah yang menjadi nomor urut dua. Siapapun pilihannya, berharap Banyuwangi nantinya akan semakin maju. Itu saja harapanku.

Sampailah kami di pintu gerbang pertama Alas Purwo. Ada tulisan jelas di sana yang dulu tidak aku temukan sebelum virus corona melanda Banyuwangi, “hanya melayani tiket sejak pukul 08.00 hingga pukul 16.00”. Aku lihat jam di hp, kami tiba tepat pukul 15.00, kurang satu jam lagi, loket sudah tutup. Kami mengambil beberapa gambar, lalu istriku berjalan ke loket yang jaraknya dekat aku berhenti. “Habis berapa?”, tanyaku ketika sudah selesai membayar di loket. “15 ribu, dua orang”, “Murah”, jawabku.

Sekitar 100 meter dari loket tempat kami membayar, kami berhenti. “Sepertinya ini lokasi cocok dibuat foto-foto”, ajakku kepada istriku. Kami mengambil 4 buku yang aku taruh di bagasi motor. Istriku mengambil satu buku yang warnanya sama dengan warna bajunya, yaitu buku Umroh Koboy yang sama-sama warna biru. Ketiga buku yang lain, aku taruh di atas jok motor. Aku yang menjepretkan foto memakai kamera hp redmi note 9. Baru saja aku menjepretkan foto, lagi-lagi mobil hiace yang tadi menyalip kami lewat.

“Mampir ke Sadengan tempat hewan banteng-banteng tidak?”, tanyaku kepada istri ketika hendak melewati pertigaan, dimana ketika lurus ke arah Sadengan dan ketika ke kanan akan menuju ke Pancur, Alas Purwo. “Ke Sadengan dulu, kita foto-foto di sana”, jawabnya dengan penuh kemantapan. Jalanan ke Sadengan sampai saat ini belum beraspal, namun sejak memasuki Alas Purwo tadi sudah aspal hotmix, atau orang Banyuwangi, teman-temanku sering menyebutnya dengan istilah aspal Korea, karena aspalnya yang halus, bahkan lebih halus dari jalanan aspal yang ada di pasar Sumberayu, Muncar.

Motor kami parkir tidak jauh dari Sadengan. Hanya tampak dua mobil yang parkir dan motor hanya 4, artinya tempat wisata ini masih belum terlalu ramai. Itupun, mereka semua hanya sedang bersantai di warung yang ada di pojok tempat parkir. Aku mengagandeng istriku berjalan ke arah Sadengan. Kami duduk di tempat duduk permanen sembari melihat para banteng yang sedang makan rumput.

Istriku menyiapkan tripot yang kami bawa dari rumah, aku mengeluarkan empat buku serial Mesir yang kami bawa. Buku “80 Coret Mesir” menjadi buku pertama yang aku buka. Aku membuka artikel pertama yang tertulis. Ingatanku seketika ditarik kembali ke Mesir. “Ogah Pulang, di Mesir Enak” adalah artikel pertama yang aku cantumkan di buku 80 Coret Mesir. Dulu artikel ini aku tulis pada saat siang harinya aku berdiskusi dengan teman-teman dari berbagai negara ketika aku kursus bahasa arab di Fajr Center for Arabic Language di Cairo. Kami saling memberikan pendapatnya, kenapa banyak mahasiswa merasa betah di luar negeri dan ogah pulang ke negaranya ketika lulus kuliyah? Jawaban kami berbeda-beda waktu itu.

Jasadku duduk di Sadengan, Alas Purwo. Istriku beberapa kali membidikkan kamera kepadaku, ingatanku dan akalku sedang berada di Mesir, sedang berdiskusi dengan teman-teman di Cairo. Saat aku membaca artikel “80 Coret Mesir”, judul yang sama dengan nama buku yang aku pegang, aku diingatkan saat bergelantungan di bus 80 Coret yang penuh penumpang ketika hendak pergi ke kampus Al-Azhar. 80 Coret di Mesir adalah bus yang sangat berkah dengan segala kekurangan yang dimilikinya. Setiap generasi orang-orang Indonesia di Mesir, pasti pernah merasakan 80 Coret. Bahkan, pada saat menonton film Ayat-ayat Cintanya Habiburrahman El-Shirazy, di sana ada bus 80 Coret yang dinaiki oleh Fachri.

Aku masih diingatkan dengan banyak kisah nyata yang aku alami sendiri saat membaca buku 80 Coret Mesir ini. Sosial budaya masyarakat Mesir terekam jelas di otakku. Mulai dari kebudayaan masyarakat Mesir yang ada di pinggiran sungai nil, kecintaan orang Mesir terhadap presiden Soekarno, pada saat Syeikh Muhammad Thantawi, yang pada waktu itu menjabat sebagai Syaikhul Azhar, Grand Syeikh Al-Azhar, mengeluarkan sebuah kebijakan pelarangan cadar di Al-Azhar, aku masih merekam kisah itu semua. Dengan membaca artikel-artikel ini, aku sedang kembali ke Mesir.

“Kita pindah tempat ke Pancur yuk mas?”, suara istriku menyadarkan kekhusyukan akalku yang sedang berada di Mesir. Ternyata aku masih di Alas Purwo. Kami berjalan kembali dengan motor menuju Pancur. Pantai selatan Banyuwangi yang jika berenang akan sampai ke Australia. Dari Pancur, jika kami mau terus berjalan, akan sampai ke pantai Plengkung, sering juga terkenal dengan nama G-Land, karena pantainya yang indah dan sering digunakan untuk perlombaan surving internasional. Konon, ombak pantai G-Land hampir sama kualitasnya dengan pantai di Hawai, Amerika.

“Aku lapar yang, kita makan dulu”, aku mengajak istriku untuk pergi ke warung dekat dengan pantai Pancur. Hanya kami yang ada di sana, tidak ada tamu lain, padahal banyak kendaraan travel juga sedang parkir, entah pada kemana orang-orang yang datang di pantai ini. Mungkin sedang menikmati sunset di pantai selatan ini. Habis kopi hitam satu dan sepiring nasi pecel, aku mengajak istriku untuk shalat berjama’ah ashar dulu. Lagi-lagi di masjid yang ada di Alas Purwo ini, hanya kami yang sedang melaksanakan shalat, di kamar mandi dekat masjid, ada beberapa tamu yang sedang antri mandi.

“Kita langsung ke pantai Pancur mas”, ajak istriku setelah shalat ashar. Di pantai aku membuka kembali buku “80 Coret Mesir” dan membaca kembali beberapa artikelnya. Aku seakan ditarik ke Mesir kembali. Aku sedang membaca artikel tentang “Mesir Negara tanpa Lampu Merah”. Aku sedang di mobil bersama Omar dan berkeliling di kota-kota yang ada di Mesir. Hampir semua wilayah di Cairo, lampu merahnya tidak berfungsi. Keberadaan lampu merah digantikan oleh para polisi lalu lintas yang kebanyakan adalah para pemuda wajib militer Mesir. Banyak cerita yang aku jumpai bersama Omar, sahabatku orang Mesir, ketika kami bersama di jalan raya.

Lalu aku diingatkan kembali pengalaman pada saat menaiki kereta cepat bawah tanah yang menjadi transportasi andalan masyarakat Mesir. Ada yang menjadi perhatianku waktu itu, yakni tulisan “Khosh Lissayyidat” di beberapa gerbongnya. Ya, itu adalah gerbong-gerbong khusus untuk para penumpang perempuan. Pengalaman itu aku tuliskan secara rinci di buku “80 Coret Mesir” ini.

Lagi-lagi istriku menyadarkanku. Aku diajak untuk berfoto-foto layaknya seorang kekasih yang sedang dimabuk asmara. Aku mengikuti pose yang diinginkannya. Termasuk kami memfoto 4 buku serial Mesir yang kami bawa dengan beberapa gaya. Lumayan, bisa dibuat untuk media promosi di media sosial yang kami miliki. Aku bisa menggunakan foto-foto ini sebagai marketing, memasarkan buku-buku yang sudah aku tulis di facebook, Instagram dan whatsapp.

“Sudah jam 5 mas, kita pulang yuk!”, hari mulai petang, istriku mengajakku pulang. Kami berjalan ke arah parkiran. Kami berjalan pelan menyusuri hutan. Hari mulai gelap. Tiba-tiba, “Mas berhenti, di depan banyak babi hutan!”, aku kaget dengan suara istriku dengan nada keras yang terlihat ketakutan. Saat aku membuka kaca helm, ada puluhan babi hutan yang sedang menyeberang jalan. Aku menghentikan motor. Beberapa babi hutan yang ada di depan kami berhenti, melihat kami.

“Mas, kita kembali saja. Dia sepertinya mau menubruk kita”, kata istriku penuh ketakutan. “Sudah diam saja, semoga tidak terjadi apa-apa”, jawabku berusaha mantap. Lalu, ada beberapa motor yang juga berhenti di samping kami berhenti. Kami menunggu beberapa babi hutan di depan kami menyeberang. Sampai beberapa menit kami berhenti, bersabar menunggu. Akhirnya semua babi hutan menyeberang jalan dan kami lanjut berjalan kembali.

Kami shalat maghrib di sebuah masjid setelah lepas dari hutan Alas Purwo dan berjalan pelan ke rumah kembali. Sampai di rumah Pondok Pesantren Minhajut Thullab pada saat adzan isya’ berkumandang. Alhamdulillah, hari ini bisa berjalan-jalan bersama istri tercinta, bisa mendapatkan foto-foto untuk 4 buku serial Mesir yang kami bawa.

Aku bisa membaca buku ke 4 berjudul “80 Coret Mesir”. Aku bisa ke Mesir kembali, walaupun hanya dengan mengimajinasikannya lewat membaca. Aku rindu dengan Mesir, semoga lekas ke sana kembali. Seperti ungkapan yang terkenal itu, siapa yang pernah minum air sungai nil, suatu saat akan ke Mesir kembali. Dulu aku pernah minum air sungai nil.

Tinggalkan Balasan