Manusia Perak

Manusia Perak

Akhir-akhir ini daerah Condet banyak didatangi oleh manusia Perak. Mereka bergerombolan dan memencar ketika ada warung atau rumah makan.

Dilihat dari usianya pun beragam, ada anak-anak, remaja bahkan emak-emak. Kehadiran manusia Perak dapat terlihat mulai dari pangkal jalan Condet Raya sampai ke ujungnya.

Mereka juga menyebar sampai ke Batu Ampar, kampung tengah hingga ke kampung monyet.

Aku melihat mereka sepertinya terorganisir, dilihat dari sebarannya yang merata. Mereka masuk dari warung kewarung, membawa kardus kecil dan menyodorkan kardus itu kepada pengunjung warung dan rumah makan.

Manusia Perak bersaing keras dengan pengamen radio serta ondel-ondel yang terlebih dahulu ” mencari sedekah” dikawasan Condet.

Mengapa mereka datang ke Condet?

Condet adalah kawasan yang selalu ramai, banyak warung dan rumah makan, selain itu pengunjungnya juga tidak sedikit. Jadi, sangat masuk akal, mengapa pengemis radio, ondel-ondel sekarang ditambah manusia Perak rajin mendatangi kawasan Condet.

Yang cukup memprihatinkan adalah dengan kehadiran anak-anak kecil yang menjadi manusia Perak. Kemarin aku melihat, satu “keluarga”, aku enggak tahu apakah mereka satu keluarga atau tidak. Yang jelas aku melihat seorang ibu manusia Perak menggendong anak kecil yang juga tubuhnya penuh dengan perak beserta anak balita Perak, Ya Tuhan, alangkah sedihnya diriku melihat fenomena ini.

Pandemi memang telah membuat rapuh perekonomian banyak keluarga Indonesia. Mereka kehilangan pekerjaan sekaligus pendapatan ditambah lagi tidak punya keahlian yang dapat menghasilkan rupiah.

Menjadi peminta-minta adalah alternatif utama, selain tidak butuh keahlian, juga sangat mudah dilakukan, hanya memerakan tubuh, menghilangkan rasa malu, lalu membawa kardus kecil, meminta belas kasihan dari pengunjung dikawasan Condet.

Di kawasan Risdam ( masih di Condet ) manusia Perak berkerumun di pinggir jalan, kalau disini didominasi remaja tanggung, mereka bergantian sepertinya mencegat mobil, motor yang berlalu lalang.

Kehadiran mereka dijalanan akan menambah kesemerawutan jalan yang memang sudah semerawut. Kemacetan tak terhindarkan. Aku tidak mengerti mengapa aparat wabil khusus Dinas sosial belum melakukan tindakan.

Merazia manusia Perak, lalu memanusiakan mereka kembali, melatih mereka dengan berbagai keahlian, lebih bagus lagi dikasih modal agar dapat usaha kecil-kecilan dibandingkan harus memenuhi jalanan yang sudah penuh sesak oleh kendaraan.

Manusia Perak abai dengan keselamatan mereka sendiri, mendatangi motor dan mobil dijalan memiliki resiko tertabrak. Apalagi tidak semua pengendara dalam keadaan stabil emosinya.

Sudah waktunya aparat bertindak terhadap manusia Perak karena kehadiran mereka sudah meresahkan.

Condet, persiapan berangkat nguli…

Tinggalkan Balasan