Dari Bongkahan Red Borneo Terbentuklah Batu Cincin Yang Indah

 

Suatu hari saya membeli di lapak online langganan saya, sebuah bongkahan atau rough batu Red Borneo yang berwarna pink. Saya rekues bongkahan batu yang minim bercak warna hitamnya.

Bongkahan batu Red Borneo saya terima selang dua hari kemudian.

Bongkahan batu Red Borneo sempat saya rendam dengan air hujan sebelum saya bawa ke tempat pembuatan batu cincin di langganan saya yang bertempat di Pasar Segar Depok. Warna pink bongkahan batu Red Borneo terlihat lebih cerah setelah direndam air hujan.

Setelah beberapa lama atau tepat satu setengah bulan di rendam air hujan, bongkahan batu Red Borneo tersebut saya bawa ke Pasar Segar untuk saya buat sebuah batu cincin. Istilah yang dikenal dalam pembuatan batu cincin adalah GOSPOL, singkatan dari GOSok dan POLes.

Dedi, demikian nama panggilan penggrajin Gospol yang akan mengerjakan bongkahan batu Red Borneo milik saya menjadi sebuah batu cincin. Dedi merupakan satu satunya pengrajin pembuata batu cincin di Pasar Segar.

Menurut dia, bongkahan batu Red Borneo ini bisa dibuat dua batu cincin dengan ukuruan berdimensi 25 mm x 18 mm. Namun saya hanya membuat sebuah batu cincin saja dan potongan bongkahan lainnya saya bawa pulang dan kembali direndam dengan air hujan.

Sekitar satu jam, Dedi sudah menyelesaikan pekerjaan GOSPOLnya dan memasangkan batu Red Borneo ke sebuah cincin dengan ukuran ring 8. Setelah di GOSPOL, batu Red Borneo terlihat semakin indah, mengkilap dan tembus sinar lampu senter dari HP saya.

Konon menurut ceritanya, batu Red Borneo saat pertama kali ditemukan oleh masyarakat setempat, batu Red Borneo ini dikira sebagai salah satu jenis batu ruby. Penemuan batu ini sempat menggemparkan perdagangan batu akik Indonesia, khusus pada daerah Martapura dan sekitarnya.

Oleh karena itu, batu ini awalnya disebut dengan nama Ruby Borneo. Barulah setelah dilakukan pengamatan oleh beberapa pakar gemologi, diketahui batu ini ternyata merupakan jenis Rhodonite (MnSiO3).

Menurut sejarahnya, bstu Red Borneo ditemukan di kawasan hutan lindung, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Batu ini merupakan yang termasuk kelompok bijih mangan, hal itu berbeda dengan ruby yang merupakan Aluminium Oksida yang berikatan dengan Kromium.

Batu Red Borneo ini berwarna pink dengan motif dendrit berwarna hitam dan warna hitam di dalam batu ini merupakan logam mangan. Motif dendrit yang ada dalam batu ini sebenarnya justru memberikan keindahan tersendiri, walaupun banyak juga yang ingin menghilangkan warna hitam yang ada pada batu ini.

Dengan menggunakan hardness pencil maka dapat mengetahui kekerasan dari batu Red Borneo ini yang berkisar antara 5.5 – 6,5 skala mohs.

Batu Red Borneo ini memiliki harga yang cukup mahal pada saat awal-awal ditemukannya pada awal tahun 2011. Penyebab utamanya adalah karena banyak pedagang yang menjualnya sebagai batu ruby yang berasal dari Kalimantan. Pada saat itu satu buah batu Red Borneo yang berukuran sekitar 20 mm x 15 mm dibanderol dengan harga mencapai 5 juta rupiah, tergantung dari tingkat kemerahannya.

Hanya saja, setelah diketahui bahwa batu ini bukan termasuk ruby, harganya menjadi terus turun karena peminatnya yang makin berkurang.

Saat ini harga batu Red Borneo yang berwarna pink muda dengan motif dendrit berwarna hitam sudah tidak terlalu mahal lagi. Akan tetapi untuk yang berwarna kemerahan dan tanpa motif dendrit hitam, harga batu Red Borneo masih terbilang mahal.

Perbedaan jauh ini dikarenakan pembeli batu saat ini sangat mementingkan kualitas batu yang akan dibelinya.

Untuk perawatan batu Red Borneo ini, saya gunakan minyak zaitun dengan memolesnya secara berkala agar batu semakin mengkilap dan semakin memerah.

Batu Red Borneo milik saya ini adalah batu yang tanpa dendrit atau warna hitam. Selain itu, batu Red Borneo ini sesekali saya jemur di bawah terik matahari pagi dengan terlebih dahulu saya poles dengan minyak zaitun.

Saya berharap warna batu Red Borneo ini semakin memerah dan tentu saja semakin indah dipandang dan semakin percaya diri bila dipakai di jari manis saya .. hehehe ..

 

NH

Depok, 5 November 2020

Tinggalkan Balasan