(Dok: nesabamedia.com)

DALAM kehidupan sehari-hari kita jumpai bahwa setiap insan senantiasa dalam keadaan berbuat dan bergerak, kecuali bila ia sedang tidur. Seseorang dapat duduk, berdiri, melihat, memikirkan, merasakan dan lain-lain adalah merupakan gejala-gejala ia sedang bertingkah laku. Bentuk tingkah laku yang disengaja dan disadari memiliki latar belakang dan tujuan tertentu. Manusia berbuat sesuatu dan mengarah untuk tercapainya suatu tujuan, erat dengan apa yang disebut “motivasi”.

Secara umum, istilah motivasi mengacu kepada faktor-faktor dan proses-proses yang bermaksud untuk mendorong orang untuk beraksi atau untuk tidak beraksi dalam berbagai situasi. Motivasi sendiri adalah wujud yang tidak nampak pada orang dan yang tidak bisa kita amati secara langsung. Yang dapat diamati adalah tingkah lakunya yang merupakan akibat atau manifestasi dari adanya motivasi pada diri orang itu.

¨¨¨

Motivasi memiliki dua komponen, yakni komponen dalam dan komponen luar. Komponen dalam ialah perubahan dalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas, dan ketegangan psikologis. Komponen luar ialah apa yang diinginkan seseorang, tujuan yang menjadi arah kelakuannya. Jadi, komponen dalam ialah kebutuhan-kebutuhan yang ingin dipuaskan, sedangkan komponen luar ialah tujuan yang hendak dicapai.

Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau pertentangan yang dialami antara suatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Apabila kebutuhan seseorang individu tidak terpenuhi, individu tersebut akan menunjukkan perilaku kecewa. Sebaliknya jika kebutuhannya terpenuhi, individu tersebut akan memperlihatkan perilaku yang gembira sebagai manifestasi dari rasa puasnya.

Sedangkan tujuan adalah sesuatu yang hendak dicapai oleh suatu perbuatan yang apabila tercapai akan memuaskan individu. Adanya tujuan yang jelas dan disadari akan mempengaruhi kebutuhan dan ini akan mendorong timbulnya motivasi. Jadi, suatu tujuan dapat juga membangkitkan timbulnya motivasi dalam diri seseorang. Antara kebutuhan-motivasi-perbuatan atau kelakuan, tujuan dan kepuasan terdapat hubungan dan kaitan yang kuat.

Setiap perbuatan senantiasa berkat adanya dorongan motivasi. Timbulnya motivasi oleh karena seseorang merasakan sesuatu kebutuhan tertentu dan karenanya perbuatan tadi terarah kepada pencapaian tujuan tertentu pula. Apabila tujuan telah tercapai maka ia akan merasa puas. Kelakuan yang telah memberikan kepuasan terhadap sesuatu kebutuhan akan cenderung untuk diulang kembali, sehingga ia akan menjadi lebih kuat dan lebih mantap.

Jadi, fungsi motivasi itu meliputi:

  1. Mendorong timbulnya kelakuan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.
  2. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan kepencapaian tujuan yang diinginkan.
  3. Motivasi berfungsi sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

¨¨¨

W.S. Winkel, Wahjosumidjo, Kamlesh, mengemukakan bahwa motivasi terbagi atas dua bentuk, yakni: motivasi ekstrinsik dan intrinsik. Motivasi ekstrinsik itu bentuk motivasi yang ditimbulkan oleh berbagai sumber dari luar seperti pemberian hadiah, penghargaan, sertifikat, pertentangan, persaingan yang bersifat negatif, hukuman dan sebagainya.

Sebagai contoh motivasi ekstrinsik dalam olahraga, yaitu atlet yang berlatih dengan giat hanya pada waktu akan diselenggarakan perlombaan saja. Latihan yang dilakukan tersebut akhirnya mengendur lagi apabila tidak ada perlombaan dengan hadiah yang menarik.

Motivasi intrinsik itu dorongan alamiah yang mendorong seseorang mengerjakan sesuatu dan bukan karena situasi buatan. Motivasi ini sering juga disebut motivasi murni. Motivasi yang sebenarnya yang timbul dalam diri individu sendiri, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperoleh informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, keinginan diterima oleh orang lain, dan lain-lain.

Jadi, motivasi ini timbul tanpa pengaruh dari luar. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang hidup dalam diri seseorang. Dalam hal ini pujian dan hadiah atau sejenisnya tidak diperlukan oleh karena tidak akan menyebabkan seseorang bekerja atau belajar untuk mendapatkan pujian atau hadiah itu. Jadi jelaslah, bahwa motivasi intrinsik adalah bersifat riil dan motivasi sesungguhnya.

Sulit untuk menentukan mana yang lebih baik, motivasi intrinsik atau ekstrinsik. Memang yang dikehendaki adalah timbulnya motivasi intrinsik pada seseorang akan tetapi motivasi ini tidak mudah dan tidak selalu dapat timbul. Karena itu maka membangkitkan motivasi ekstrinsik tetap perlu dilaksanakan dengan harapan lambat laun akan timbul kesadaran sendiri pada seseorang untuk menimbulkan self motivation.

¨¨¨

Berbagai pandangan akan dapat membantu dalam memahami bagaimana motivasi mempengaruhi prestasi.

McClelland

Terkenal dengan Achievement Motivation theory, mempelajari persoalan-persoalan yang berkaitan dengan keberhasilan seseorang. Bahwa kenyataannya semua orang memiliki kebutuhan untuk berprestasi, berkuasa dan berafiliasi (berhubungan).

  • Orang memiliki kebutuhan untuk berprestasi tinggi, lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang mengandung resiko dan situasi-situasi dimana mereka dapat memberikan kontribusi nyata. Mereka termotivasi oleh kebutuhan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menantang.
  • Orang yang memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi terhadap kekuasaan, lebih menyukai situasi dimana mereka dapat memperoleh dan mempertahankan kendali sarana untuk mempengaruhi orang lain. Mereka lebih suka berada dalam posisi memberi saran dan pendapat.
  • Orang yang memiliki kebutuhan tinggi untuk berafiliasi ( berhubungan ), umumnya memiliki keinginan untuk membina persahabatan yang erat dan untuk menerima kasih sayang orang lain.

Victor Vroom

Terkenal dengan expectancy theory berusaha menjawab pertanyaan, bagaimana menguatkan, mengarahkan, memelihara dan menghentikan perilaku individu, agar setiap individu bekerja sesuai dengan keinginan pimpinan. Teori ini merupakan proses sebab dan akibat, bagaimana seseorang bekerja serta hasil apa yang akan diperolehnya.

Jadi hasil yang akan dicapai tercermin dari bagaimana proses kegiatan yang dilakukan seseorang. Seseorang melihat kemungkinan yang besar untuk menerima ganjaran, apabila dia bekerja keras misalnya.

Reinforcement theory

Menjelaskan bagaimana konsekwensi perilaku di masa lalu mempengaruhi tindakan di masa yang akan datang dalam suatu siklus proses belajar. Dalam pandangan teori ini, individu bertingkah laku tertentu karena di masa lalu mereka belajar bahwa perilaku tertentu akan berhubungan dengan hasil yang menyenangkan atau akan menghasilkan akibat yang tidak menyenangkan.

Umumnya mereka menyukai akibat yang menyenangkan. Misalnya seseorang akan lebih menaati hukum, karena dengan patuh pada hukum, yang mereka ketahui dari sekolah dan masyarakat, akan menghasilkan “pujian”, dan pelanggaran akan menghasilkan “hukuman”.

 

Referensi

Gunarsa Singgih D. dkk. Psikologi Olahraga. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1989.

Harsono. Coaching Dan Aspek-Aspek Psikologis Dalam Coaching. Jakarta: Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tinggi Kependidikan, 1988.

Setyobroto Sudibyo. Pengantar Psikologi Olahraga. Diktat. Jakarta: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Jakarta, 1985.

________________. Teknik Motivasi Dalam Olahraga. Diktat. Jakarta: Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Jakarta, 1985.

Tinggalkan Balasan