oleh

KMAA # 3: Petinju Indonesia Pertama yang Menantang Juara Dunia, Thomas Americo

Menantang Juara Dunia
                    Promosi Kejuaraan Dunia

Thomas Americo, seorang mantan petinju profesional Indonesia asal Timor Timur, dilahirkan di Bobonaro tanggal 24 Desember tahun 1958. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan dari suku Tetun, penduduk asli Timor Timur. Ayahnya Mamel Borgis berasal dari Angola. Ia pernah menjadi petinju kebanggaan Indonesia sebelum era Ellyas Pical hingga Chris John.

Thomas Americo tidak pernah mengenal ayahya karena semenjak dalam kandungan, ayahnya telah kembali ke Angola. Thomas diangkat anak oleh Killin Sidabalok, seorang laki-laki kelahiran Pulau Samosir dan berpangkat kapten TNI-AD. Ia dibawa oleh Killin Sidabalok ke Malang, Jawa Timur pada tahun 1976 dan diserahkan ke sasana arek Malang.

15 Agustus 1980, Thomas Americo di usia yang masih muda 22 tahun sudah mendapat kesempatan menantang juara kelas Welter Ringan OPBF (Oriental and Pacific Boxing Federation) yang saat itu dikuasai oleh petinju Korea Selatan, Sang Mo Koo. Ia kemudian berhasil merebut gelar juara tersebut melalui kemenangan KO di ronde ke 8 dalam pertarungan yang diselenggarakan di Jakarta, Indonesia.

Kemenangan tersebut melambungkan nama Thomas Americo. Namanya mulai disebut-sebut sebagai calon penantang juara dunia kelas Welter Ringan versi WBC yang saat itu dikuasai oleh Saoul Mamby. Di usia 23 tahun Thomas Americo pun mendapat kesempatan yang langka, menantang juara dunia. Thomas Americo, menjadi orang Indonesia pertama yang mendapat kesempatan menantang juara dunia.

Ia naik ring tanggal 29 Agustus 1981 untuk berusaha merebut gelar juara dunia dari juara bertahan Saoul Mamby. Dengan gemilang Ia berhasil memberikan perlawanan terhadap juara dunia asal Amerika Serikat tersebut. Thomas Americo harus mengakui keunggulan Saoul Mamby melalui kekalahan angka setelah bertarung ketat selama 15 ronde di Stadion Bung Karno,Jakarta Indonesia.

Pertandingan tersebut dipimpin oleh wasit Ken Morita dari Jepang. Dengan para juri Marcello Bertini dari Italia yang memberi nilai 147-139 untuk kemenangan Saoul Mamby. Rudy Ortega dari Amerika Serikat yang memberi nilai 146-141 untuk kemenangan Saoul Mamby. Dan Takeo Ugo dari Jepang yang memberi nilai sama/draw 146-146. Pupus sudah harapan Indonesia untuk memiliki juara dunia tinju.

20 Desember 1981, setelah gagal merebut gelar juara dunia, Thomas Americo berupaya menantang juara OPBF. Ia melakukan debut dalam menjalani karier di luar negeri. Ia melanglang buana ke Korea Selatan menghadapi petinju tuan rumah Sang Hyun Kim, yang merupakan mantan juara dunia kelas Welter Ringan versi WBC. Dalam pertandingan tersebut ia menderita kekalahan angka.

2 April 1982, Thomas Americo di usia 24 tahun melanjutkan petualangannya ke luar negeri. Ia kembali naik ring untuk menghadapi petinju veteran tuan rumah, Jeff Malcolm dari Australia. Kembali ia mengalami kekalahan melalui kekalahan angka dalam pertarungan 10 ronde di Sidney Opera House, Sidney, New South Wales, Australia. Kekalahan tersebut semakin meredupkan nama Thomas Americo.

Setelah menjalani 8 pertandingan berikutnya, 29 Juni 1987, Thomas Americo di usia 29 tahun mencoba bangkit lagi. Ia menantang juara nasional kelas Welter Ringan, Bongguk Kendy. Kembali ia mengalami kekalahan dalam upayanya merebut gelar juara. Ia mengalami kekalahan angka dalam pertarungan 12 ronde di Jakarta. Kekalahan tersebut membuat Thomas Americo mengundurkan diri.

Setelah beristirahat panjang, delapan tahun kemudian tepatnya tanggal 15 Juli tahun 1995, Thomas Americo di usia 37 kembali naik ring. Ia menghadapi T Tara Singh di Dili, Timor Timur. Pertarungan yang dijadwalkan berlangsung selama 4 ronde tersebut dimenangkan oleh Thomas Americo dengan KO di ronde ke 2.

Pertandingan tersebut merupakan pertandingan terakhir untuk Thomas Americo karena empat tahun kemudian tepatnya tanggal 7 September 1999, Thomas Americo meniggal dunia dalam usia 41 tahun. Thomas yang dimasa mudanya disanjung bak pahlawan, di akhir hayatnya harus tewas di tangan milisi dalam perang saudara di Timor Timur.

Pada hari-hari terakhir integrasi Timor Timur ke dalam NKRI yang berlangsung dari tahun 1975 hingga 1999, terjadi tindak kekerasan di jalan-jalan kota Dili, kampung halaman Thomas Americo. Thomas Americo adalah korban salah satunya, ditembak mati oleh milisi tidak lama sebelum Timor Timur lepas dari NKRI.

Komentar

Tinggalkan Balasan