Utang di Bank maupun Teman, Harus Dilunasi!

sumber gambar : Fimela.com

 

Hampir setiap manusia pernah mempunyai utang. Pada dasarnya utang tidak mengenal strata ekonomi, mulai dari orang yang berada pada taraf miskin sampai para konglomerat, semuanya pernah berutang.

Dilihat dari jenisnya, utang ada dua macam  yaitu utang yang bersifat konsumtif dan utang yang bersifat produktif. Utang yang bersifat konsumtif bisa berupa utang yang digunakan untuk kebutuhan yang sangat mendesak, seperti keperluan membeli bahan pokok karena ketiadaan uang, musibah yang sifatnya mendadak, termasuk berutang dalam rangka kepemilikan rumah.

Itu semuanya bersifat konsumtif karena berakibat bertambahnya pengeluaran di beberapa waktu yang akan datang, sementara pos-pos pemasukan (income) tetap.

Sedangkan utang yang bersifat produktif dapat berupa pembelian mesin-mesin produksi secara kredit, walaupun pengeluaran kedepannya bertambah, namun pemasukanpun berpeluang bertambah selama pruduktifitas kerja tetap terjaga.

Dilihat dari sumbernya,  utang ada dua macam. Yaitu utang yang bersumber dari pinjaman lembaga keuangan seperti bank, koperasi, maupun pinjaman online.

Utang jenis ini sifatnya formal dengan syarat-syarat yang jelas dan mengikat. Sedangkan sumber utang yang lain bisa berasal dari teman sejawat, saudara, sanak famili dan handai taulan.

Secara normatif, utang bisa muncul karena pengeluaran lebih besar dari pemasukan. Hal ini bisa disebabkan karena memang pendapatan (income) yang dimiliki tidak sebanding dengan beban hidup yang harus dikeluarkan dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok.

Banyak rumah tangga berkategori miskin disebabkan oleh faktor ini, sehingga untuk menyambung hidup mereka terpaksa harus utang sana utang sini.

Namun ada juga kelompok masyarakat yang menjadikan utang sebagai budaya. Utang dijadikan sarana pemenuhan gaya hidup, bukan untuk pemenuhan kebutuhan (pokok) hidup.

Misalnya, baru lunas sebuah angsuran smartphone berharga belasan jutaan rupiah, segera mencari cicilan baru untuk membeli smarphone lain yang lebih baru dan mahal.

Terlepas dari jenis utangnya, apakah kosumtif atau produktif, apakah berasal dari sumber yang formal ataupun informal, utang haruslah dibayar. Jangan pernah coba-coba meremehkan utang, terlebih kalau berutang kepada bank atau pinjaman online. Mengapa? Karena bank maupun pinjaman online menerapkan sistem bunga dan denda keterlambatan jika utangnya melewati jatuh tempo.

Jangan sampai karena utang sudah jatuh tempo, maka utang tersebut jadi bertambah besar karena beban bunga yang terus naik, sampai akhirnya sesuatu yang sangat harus dihindari adalah adanya pengambilan aset oleh bank karena kita dianggap mengingkari perjanjian pelunasan utang.

Pada dasarnya ketika seseorang mengajukan pinjaman utang ke bank, pihak bank sudah mempertimbangkan kelayakan besaran pinjaman yang diajukan dengan aset yang dimiliki si peminjam dan total pendapatan yang dimilikinya.

Hanya saja si peminjam adakalanya tidak jujur, ia besarkan nominal pemasukannya dan dikecilkan nominal pengeluarannya dengan harapan pihak bank meluluskan pengajuan utangnya.

Alhasil ketika pinjamannya cair, ia merasa sangat terbebani dengan biaya cicilan utang tersebut (padahal baru memasuki awal-awal pembayaran), karena memang pada dasarnya tidak ada keseimbangan antara besaran utang yang menjadi pengeluaran barunya dengan pemasukan (income)nya.

Demikian pula bila sumber utang berasal dari sumber informal, seperti teman dekat ataupun saudara. Utang menjadi suatu kewajiban yang harus dibayar. Jangan sampai kita beranggapan kalau berutang dengan teman atau saudara, merupakan hal yang sepele sehingga kita sepelekan pula prihal pelunasannya.

Tidak jarang berutang pada teman atau saudara menjadi awal dari kesenjangan hubungan. Ketika meminjam, memelasnya luar biasa. Namun bila ditagih luar biasa sulitnya. Bahkan tidak jarang justru yang berutang lebih galak dari yang memiliki piutang

Bila kita  berencana meminjam uang ke teman atau saudara, jangan lupa ada etikanya. Jangan sampai demi memenuhi kepentingan kita, orang lain jadi merasa dirugikan.

Satu hal penting yang harus kita tanamkan di pikiran adalah di sini kita yang membutuhkan, bukan mereka. Jadi jangan baper atau sakit hati jika tidak dipinjami. Kita tak pernah bisa melihat hanya dari luarnya saja.

Siapa tahu orang yang kita pinjam uangnya punya kebutuhan yang lebih besar daripada kita, atau kondisi finansialnya sedang tidak sehat. Harus dipastikan kapan kita bisa mengembalikannya, secara tunai atau dicicil. Sebaiknya perjanjian soal waktu pengembalian ini kita yang menyatakan, bukan orang yang meminjamkan uang itu . Tepati janjinya agar tak mencederai hubungan pertemanan atau persaudaraan.

Sebaiknya dalam hidup ini kita tidak punya utang, apalagi utang yang sifatnya konsumtif. Seringkali dengan adanya utang membuat tidur kurang nyenyak dan dunia terasa sempit.

Namun yang terpenting adalah bagaimana cara kita mengelola keuangan, termasuk menyediakan dana darurat agar tidak panik jika ada hal yang tiba-tiba membutuhkan uang dalam jumlah banyak. untuk itu, mulai dari sekarang kita sudah mulai memilah-milah mana yang merupakan kebutuhan dan mana yang merupakan keinginan.

Jika saat ini kita memiliki utang (kepada bank ataupun teman), bersikaplah disiplin dalam waktu pelunasannya, jangan sampai melalaikannya. Mulailah menyisihkan sebagian pendapatan untuk ditabung.

Waktu penyisihannya jangan dilakukan diakhir, setelah dikurangi pengeluaran. Karena hal ini pada akhirnya akan sulit bagi kita untuk memiliki tabungan, karena uang yang ada sudah habis untuk konsumsi.

Sisihkan uang yang akan ditabung di awal, kalau perlu buatlah rekening khusus untuk tabungan yang sifatnya untuk “perencanaan” yang tidak dapat diambil secara bebas, namun baru bisa diambil setelah jangka waktu tertentu yang cukup lama.

Semoga bagi kita yang memiliki utang dapat melunasi utang dengan segera, dan bagi yang memiliki banyak piutang semoga para pemilik utang diberi kesadaran untuk melunasi utangnya tanpa perlu merusak hubungan pertemanan yang sudah terjalin.***

Ropiyadi ALBA
Ropiyadi ALBA Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta.

Tinggalkan Balasan