oleh

Sakitnya Ayah, Buat Kami Pergi Bersama.

-Edukasi, Humaniora-Telah Dibaca : 509 Orang

Sabtu, 17 April 2021 sedari pagi Bumi Berazam Karimun sudah diguyur hujan. Berkah bagi yang berpuasa tentunya dengan cuaca seperti ini membuat puasa menjadi lebih tidak terasa.

Belum juga eksekusi apa yang akan dijadikan santapan untuk berbuka puasa, ada berita yang membuat hati agak berdebar. Sebenarnya berita ini sudah diterima pada whatsapp grup keluarga pada pukul 18 .30 kemaren malam.

Adik yang paling bungsu mengatakan bahwa Ayahnda dari pagi badanya panas dan muntah – muntah. Akhirnya penuh lah chat keluarga dengan pertanyaan – pertanyaaan tentang kondisi Ayahnda yang sudah hampir setahun ini memang kurang sehat.

Penyakit tua yang sering menyerangnya terakhir ini sering kali kambuh, selain diabetes yang memang harus diwaspadai. Sering demamnya juga menjadi masalah akhir – akhir ini.

Chat pada pukul 13.23 membuat jantung sedikit berdenyut, maklum tadi malam memang sudah ada rencana jika sampai hari ini Ayahnda masih juga panas walaupun sudah diberikan parasetamol akan dibawa kerumah sakit. Walhasil kesepatan mengantar Ayahnda kerumah sakit pukul 14.00. Bersiap ala kadarnya pergi dengan suami, walaupun dalam hujan lebat melanda bumi berazam.

Sampai dirumah orang tua, saya fikir hanya saya dan suami yang akan mengantar Ayahnda kerumah sakit ternyata adik – adik saya semua mau ikut, akhirnya kami seperti mau pergi jalan – jalan saja berramai – ramai kerumah sakit. Sesampainya dirumah sakit hanya 1 orang yang boleh mengatar Ayahnda masuk ke IGD.

Sebenarnya tujuan utama bukan mau kerumah sakit tapi hanya ke dokter praktek saja, tapi ketika dalam perjalan menelepon dokter praktek katanya buka jam 15.00. akhir kami memujuk Ayahnda untuk pergi kerumah sakit saja, kebetulah dokter penyakit dalam Ayanda kami juga bertugas sore ini sehingga nanti obatnya bisa disesuaikan dengan obat penyakit lain yang setiap 2 minggu sekali harus kontrol.

Sambil menuju rumah sakit, kami semua memperhatikan ekspresi Ayahnda yang keberatan di antar kerumah sakit. Akhirnya aku berusah mencari cara untuk mengurangi rasa ketidak senangannya, rupanya Ayahnda trauma ke rumah sakit. Dalam waktu setahun ini jika sakit cek kerumah sakit pasti langung di opname, itu yang membuatnya tidak mau tadi sewaktu aku mengatakan kita langsung kerumah sakit saja daripada ke dokter praktek.

Senyum terkulum kami berempat mendengar penjelasan Ayahnda, memang terakhir kali Ayahnda harus diopname perawat yang akan memasang infuse kesulitan menemukan nadi untuk memasang infusnya, sehingga beberapa kali jarum yang disuntikan membuat tangan Ayahnda sakit karena perawat tidak menemukan urat nadinya.

Tapi dengan bermacam cara kami menyakinkan Ayahnda bahwa sore hari ini hanya berobat saja tidak akan sampai diopname, dan Alhamdulillah setelah diperiksa dokter Ayahnda diperbolehkan pulang, dengan catatan Ayahnda tidak boleh berpuasa dulu. Sekali lagi wajah masamnya terlihat, mau tidak mau kami 3 beradik memujuk Ayahnda untuk tidak berpuasa dulu. Suami yang lagi menyetir mobil hanya tersenyum melihat kami bertiga memujuk Ayahnda untuk mau tidak berpuasa dulu.

Hujan masih mengiringi kami kembali kerumah, sebelum turun adikku yang menemani Ayahnda bertemu dokter berkata

“Jika besok demamnya belum turun, kemungkinan akan diopname.” Aku berdoa semoga deman Ayahnda cepat turun, semoga Ayahnda tidak diinfus, karena infus yang membuatkan tidak mau dirawat, semoga.(AZ)

Komentar

Tinggalkan Balasan