Allah Tergantung Hambanya

Allah Tergantung Kita

Cing Ato

Guru Blogger Madrasah

Suatu hari ada keluarga santri berkunjung ke tempat di mana putra mereka menuntut ilmu pengetahuan, hampir setiap bulan mereka berkunjung, setidaknya mereka datang untuk memberikan semangat putranya dalam menuntut ilmu agama di pondok pesantren. Karena mungkin ini sejarah bagi keluarga mereka menghantar putranya untuk menuntut ilmu di pondok pesantren. Waktu kecil mereka punya keinginan mondok, tetapi orang tua mereka tidak mengizinkan, mungkin permasalahan ekonomi keluarga.

Anak-anak mereka rata-rata punya kemampuan di bidang ilmu eksak atau ilmu pasti (Matematika dan IPA) mungkin nurun dari uminya. Karena uminya salah satu guru yang diperhitungkan di Madrasahnya. Berdasarkan penelitian sifat kepandaian anak nurun dari orang tua, 60 % nurun dari ibu sementara 40 % nurun dari bapak.

Fokus mereka memasukkan putranya pada Tahfidzul Qur’an karena ingin mempersiapkan  putranya menjadi imam masjid atau musholla untuk menggantikan ayahnya, mereka berprinsip seorang pemimpin harus dipersiapkan dan berkualitas. Akhirnya mereka memasukkan putranya ke pondok pesantren Ar-rahmaniyah di daerah Cilodong Jawa Barat. Pondok ini berbasis Tarbiyah dan Tahfiz.

Pondok ini hanya menargetkan 5 juz untuk syarat kelulusan, tetapi  jika melebihi target sangat bagus. Ketika tahun ke tiga mereka berkunjung, tanpa disengaja mereka melihat sebuah spanduk berukuran besar terpampang di tembok pondok pesantren  menghadap ke arah masjid. Mereka lihat  ada beberapa tulisan motivasi diri santri dengan di bubuhi tanda tangan santri.

Semua tulisan penuh inspiratif dan optimistik, mereka kaget, “Allahuakbar,….. masyaAllah,….” ucap suami.

“Umi….umi…..ke sini cepat….cepaaat….” panggil suami.

“Ada apa abi?” Jawab istri.

“Itu…..lihat…lihat… lihat….nama siapa

….Raju ….umi….Raju …..miiii” kata suami sambil sedikit gemetar tangannya.

“Subhanallah, semoga terwujud keinginannya” timpal istrinya

“Aamiin yaa Robbal’aalamiin.” Jawab suami.

Bagaimana tidak haru melihat semangat anak bercita-cita menghafal Alquran 30 juz? Semua orang tua pasti terharu. Putra keduanya jarang bicara, tetapi sering membuat kejutan.

Melihat keinginan anak, sebagai orang tua senjata yang paling ampuh adalah do’a. Alhamdulillah, setiap ba’da magrib dan subuh mereka selalu mendoakan anak-anaknya.

“Ya Allah, jadikanlah kami, anak-anak dan keturunan kami, golongan penghafal, memahami Al-Qur’an, pencinta ilmu, dan  ahli kebaikan .Jangan kau jadikan kami golongan yang buta akan ilmu, jauhkan kami dari keburukan dan jadikan hidup kami sejahtera dunia dan akhirat. Aamiin”

Alhamdulillah, putranya masuk di kelas unggulan dan kelas akselerasi al-Qur’an, putranya dengan teman-temanya dikarantinakan di Gedung khusus kelas akselerasi al-Qur’an, tujuannya agar konsentrasi dalam tahfiznya.

Ketika liburan sekolah, putranya pulang ke rumah selama satu pekan.

“Raju ke sini…..” panggil uminya.

“Ada apa umi ?” Jawab Raju.

“Raju sudah hafal berapah juz..” tanya uminya.

“Hehehehe,…. rahasia….lihat saja umi nanti!” jawab Raju sambil tersenyum.

“Ya, sudah. Umi percaya ko, sama Raju, tetapi jangan lupa muraja’ah” kata uminya.

“Ya, umi…..” jawab Raju.

Di akhir tahun pelajaran ada kabar gembira dari musyrif-pembimbing santri- lewat whatsapp.

“Assalamualaikum, abi dan umi ada kabar gembira, Ahmad Syirajuddin Rabbani baru saja menghatamkan hafalan al-Qur’an 30 juz, selamat ya, untuk abi dan umi, ” kata musyrif memberitahu.

“Waalaikum salam, ya, Allah. Alhamdulillah, terimakasih ustadz atas informasinya,” jawab umi.

Alhamdulillah, ketika acara wisuda dan syukuran tahfidz, putranya tampil di depan dengan 10 santri lainya, mereka ikut mendampingi ke atas panggung. Hanya 11 santri yang hafal al-Qur’an sampai 30 juz. Sebagai penghormatan atas jerih payahnya mereka mendapat reward rihlah ke rumah tahfiz di negeri jiran  Malaysia.

Keinginan yang kuat dibarengi  dengan usaha yang maksimal akan berbuah kesuksesan. Kini mereka melihat lagi spanduk yang dahulu bertuliskan sebuah cita-cita luhur, kini berubah menjadi keniscayaan. Terbukti dengan foto-foto terpampang lebar di depan pondok  bertuliskan “Santri-santri penghafal al-Qur’an 30 juz”. Sungguh bahagia rasa hatinya melihat putranya sukses menjadi penghafal al-Qur’an.

Cerita di atas adalah cerita tentang melawan kemustahilan dengan tetap percaya dan berserah diri kepada Allah SWT. Suatu yang tidak mungkin jika dilakukan dengan kepercayaan diri yang tinggi dan dibarengi dengan usaha sungguh-sungguh, maka suatu yang mustahil menjadi sebuah keniscayaan.

Motivasi diri dan penuh keyakinan yang kuat kepada kekuasaan Allah SWT, hasilnya melebihi apa yang diminta. Ingat Allah SWT akan senantiasa memberikan apa yang diinginkan hambanya. sebagai mana pernyataan Allah yang termaktub dalam sebuah hadits qudsi-Nya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya Ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik dari pada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]

Allah Tergantung Hambanya.

Kalau dilihat sekilas kalimat tersebut, kita akan berkomentar”Masasih, Allah tergantung hambanya, berarti Allah diatur hamba-Nya dong? Ya, Allah  memang maha atas segala-galanya dan itu tidak dipungkiri. Terus maksudnya apa? Di sini Allah  bukan diatur oleh hambanya, tetapi Allah  di sini memberikan kebebasan kepada hambanya untuk berbuat sesuai dengan keinginannya, Allah  hanya mengabulkan permintaan hambanya. Jangankan meminta tidak mintapun Allah berikan. Kenapa bisa begitu? Karena Allah mempunyai sifat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Allah melakukan sesuatu yang terjadi berdasarkan sunnah-sunnah-Nya (Sunnatullah) baik yang termaktub dalam  ayat-ayat qauliah (al-Qur’an) atau ayat-ayat qauniah (alam semesta dan isinya). Contoh dari ayat qauliah yang termaktub dalam ayat suci al-Quran, yaitu:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11).

Atau diperkuat dengan hadits qudsi-Nya yang sudah dibahas di atas.

Adapun ayat qauniah-Nya seperti kalimat tersebut; jika kita belajar pasti pintar, jika kita berusaha sungguh-sungguh pasti dapat, jika kita makan pasti kenyang dan lainnya. Ini merupakan ketetapan Allah.

Jadi kenapa Allah tergantung kita atau hambanya? Maksudnya bahwa kesuksesan, keberhasilan kita dalam meraih keinginan, harapan-harapan atau cita-cita itu tersebut atas usaha kita sendiri, Allah hanya mengarahkan dan memberi petunjuk serta motivasi kepada kita dengan ayat qauliah dan qauniah-Nya.

Langkah Mewujudkan Sebuah Keinginan

Sebagai manusia biasa kita hanya wajib menjalankan apa yang sudah digariskan oleh Allah. Karena semua sudah diatur dalam kitab suci al-Qur’an dan al-Hadits Rasulullah. Adapun langkah-langkah tersebut di antaranya:

Pertama, keyakinan yang kuat kepada Allah. Keyakinan murapakan modal yang paling utama dalam melakukan sesuatu usaha, ketiadaannya menjadi penghalang untuk melakukan tindakan. Ketika kita yakin akan kemahabesaran Allah, maka akan tertanam sifat optimis dalam  melakukan sesuatu. Contoh, ketika Siti Hajar istri Nabi Ibrahim ditinggal di Padang gurun yang gersang dan hanya diberikan bekal seadanya, Siti Hajarpun bertanya”Apakah ini perintah Allah?” Nabi Ibrahim AS menjawab”Iya, ini perintah Allah”  Siti Hajarpun terdiam. Kenapa? Karena dia yakin, jika itu perintah Allah, maka Allah tidak akan membiarkan Siti Hajar dan Ismail sengsara. Itulah sebuah keyakinan yang sempurna.

Kedua, usaha yang sungguh-sungguh. Jangan bermimpi sesuatu yang diharapkan menjadi sebuah kenyataan, jika tidak dibarengi dengan usaha yang sungguh-sungguh. Dalam surat Ar-Ra’du ayat 11, secara tersurat menjelaskan, bahwa perubahan itu ada pada usaha manusia, jadi tercapai atau tidaknya tergantung usaha manusia itu sendiri. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika kita mau berusaha dengan sungguh-sungguh, kita pasti bisa mewujudkannya.

Demikianlah,  Allah berbuat sesuatu tergantung kepada apa yang kita inginkan. Tentunya semua kembali kepada seberapa besarnya usaha kita. Hasil tidak mengkhianati proses. Jika proses usahanya baik dan terukur maka hasilnyapun baik. Sebaliknya jika proses usahanya tidak maksimal, maka hasil yang didapati juga tidak maksimal. Maka itu, hasil  yang kita peroleh berbanding lurus dengan usaha yang kita lakukan.

 

Tinggalkan Balasan