Dampak Buruk Politik Oligarki, Bagaimana  Perempuan Harus Beraksi?

Tahun telah berganti. Namun rakyat Indonesia belum bisa lepas dari aneka problem, tak terluput kaum perempuan. Persoalan kekerasan masih banyak menimpanya, termasuk perampasan lahan dan tempat tinggal atas nama pembangunan. Peringatan hari ibu dan hari perempuan seakan hanya  ceremonial semata yang tak memberi pengaruh pada nasib mereka. Apa sebenarnya yang menjadi akar masalah dan bagaimana seharusnya perempuan beraksi menuju perubahan yang benar?

Demokrasi Pangkal Oligarki

Politik oligarki tak bisa dilepaskan dari demokrasi.
Demokrasi yang basisnya membuang peran agama ďalam politik telah membuat  penguasa  untuk membuka pintu oligarki begitu luas. Para oligark terlibat dalam pengaturan ekonomi negara dan pada akhirnya mengendalikan seluruh kebijakan. Sesuai dengan namanya dalam bahasa Yunani,  oligo berarti sedikit, arko artinya mengatur. Menjadi petaka bagi rakyat, saat penguasanya sibuk memenuhi tuntutan para oligark alias pengusaha.

Kita bisa melihat pada proyek strategis nasional (PSN), penguasa begitu tega mengambil tanah rakyat demi kemaslahatan para investor. Secara real yang terjadi adalah perampasan lahan. Rakyat dipaksa pindah dan akan mengalami kerugian, gangguan ketenangan  ketika kompensasi yang diberikan adalah ganti rugi.

Beraneka janji manis pembangunan terhenti pada janji tanpa realisasi, bahkan seakan hanya narasi untuk melanggengkan hegemoni oligarki. Pembangunan infrastruktur yang gencar tak memberi kesejahteraan. Pembangunan yang tak tepat sasaran, malah menambah pengangguran, membuat masalah yang dihadapi rakyat kian rumit.

Politik oligarki tak hanya menghadirkan problem ekonomi, problem sosial budaya pun juga mengemuka. Hal ini karena kemiskinan berhubungan dengan aneka masalah. Perceraian, KDRT, kriminalitas, kenakalan remaja, gizi buruk, dan semacamya merupakan turunan dari masalah kemiskinan.

Kemiskinan berdampak buruk pada perempuan dan anak-anak. Mereka yang selayaknya terlindungi dan dijamin nafkahnya dalam  keluarga,  dipaksa sistem untuk terlibat langsung dalam aktifitas ekonomi. Perempuan harus bekerja dengan peran ganda mendidik anak dan tugas rumah tangga menjadikan perempuan kian menderita.

Politik oligarki  telah menjadi penyebab buruknya kualitas kehidupan perempuan dan generasi. Penguasa mengambil peran sebatas regulator antara oligark dengan rakyat. Mereka berlepas tangan terhadap apa yang menjadi persoalan umat, sedangkan sistem pemerintahannya dikendalikan oleh para oligark. Sungguh sebuah kondisi yang buruk.

Harus dihindari pembajakan potensi strategis perempuan demi mengukuhkan hegemoni politik oligarki. Karenanya perempuan harus
mengetahui peran strategis mereka dan apa yang bisa dilakukan yaitu:

Pertama,  perempuan wajib memahami tujuan hidup yang hakiki. Untuk itu akidah harus tertanam kuat pada dirinya sehingga ia memiliki tujuan jelas dalam kehidupannya, yaitu semata untuk beribadah kepada Allah Taala.

Kedua, para perempuan harus memahami peran utama bagi dirinya, yaitu sebagai ibu dan manajer rumah tangga. Inilah tugas utama para perempuan yang dapat mewujudkan  terlahirnya generasi emas. Peran ini pula yang membawa perempuan pada posisi mulia.

Ketiga, para perempuan harus turut serta dalam perubahan sistemik  yang akan menghentikan keterpurukan para perempuan. Itulah sebabnya mereka harus rajin menuntut ilmu dan berdakwah agar keberkahan hidup cepat diraih.

Inilah sebaik-baik kontribusi perempuan untuk perubahan. Bila peran strategis tersebut  dilaksanakan optimal oleh kaum perembuan, niscaya keberkahan hidup akan didapat. Begitu pun derajat mereka akan terangkat di sisi Allah Swt, sebab ia telah menjadi penolong agama Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. Allah menyeru orang mukmin, jika mereka membela dan menolong agama-Nya dengan mengorbankan harta dan jiwa, niscaya Ia akan menolong mereka dari musuh-musuhnya.” (QS Muhammad: 7).

Perlu Perubahan Sistem

Keterpurukan umat, termasuk para perempuan hari ini, telah nyata disebabkan oleh bercokolnya sistem politik oligarki. Sudah selayaknya sistem  kehidupan yang rusak ini ditinggalkan  diganti dengan sistem yang lurus. Perubahan sistem ini harus  diperjuangan oleh seluruh kaum muslim.

Para perempuan tidak boleh absen dalam perjuangannya sebab peran strategis mereka dapat mengantarkan pada kemenangan yang nyata. Perubahan itu harus ke arah sistem kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia, yaitu sistem politik Islam. Beberapa poin berikut menjadi alasan.

Pertama, sistem politik Islam atau sistem Khilafah menempatkan penguasa sebagai pengurus dan pelindung umat. Seluruh kebutuhan pokok rakyat dijamin oleh negara. Kaum perempuan  mendapatkan jaminan nafkah sehingga bisa fokus peran utamanya.

Kedua, kontestasi yang  sederhana disertai keimanan yang  tinggi pada para politisnya akan menghalangi intervensi para oligark. Kebijakan penguasa yang independen dan fokus pada kemaslahatan umat inilah yang akan mewujudkan kehidupan yang aman dan sejahtera. Penguasa akan tegak di garda terdepan dalam melindungi rakyatnya bila ada pihak-pihak yang mencoba merampas hak mereka.

Ketiga, sistem pemerintahan Khilafah akan mengatur hak kepemilikan berbasis syariat. Syariat Islam telah memberi batasan, tak semua lahan bisa dikuasai individu. Begitu pun sumberdaya alam yang melimpah,  haram dimiliki  individu. Harta tersebut milik rakyat yang harusnya dikelola negara untuk dikembalikan manfaatnya pada rakyat.

Waspada Pembajakan Peran Perempuan

Kaum perempuan harus hati-hati terhadap pembajakan peran strategisnya. Aneka program yang gencar dipromosikan  hari ini berupa narasi pemberdayaan ekonomi akan menjerat mereka. Juga anggapan yang salah kaprah, yaitu perempuan berdaya hanya bila mampu berkontribusi terhadap perekonomian keluarga dan negara.

Propaganda ini telah menyeret kaum perempuan untuk sibuk mencari nafkah. Mereka termakan asumsi bahwa derajatnya bakal naik dengan turut berkontribusi terhadap materi. Sebaliknya, perempuan yang tidak produksif secara materi  dianggap sebagai orang lemah dan menjadi beban keluarga. Benar-benar pandangan yang bersifat materialistik.

Begitu pun narasi keterwakilan perempuan di parlemen uang bakal bisa mengangkat kepentingan perempuan. Hal ini menjadikan mereka ikut  memenuhi kursi kekuasaan. Mereka termakan asumsi      bahwa persoalan perempuan akan bisa selesai hanya jika para perempuan terlibat dalam pembuatan kebijakan.

Padahal kenyataanya, terpuruknya perempuan merupakan buah buruk  politik oligarki, bukan karena minimnya mereka di kancah politik. Terpuruknya nasip rakyat hari ini disebabkan oleh politik oligarki yang  sistem lahir dari sistem demokrasi sekuler.

Umat ini perlu sistem yang benar, yang Allah telah siapkan dalam kesempurnaan agama akhir zaman. Sistem ini telah dicontohkan pelaksanaannya oleh baginda yang mulia, Rasulullah SAW. Setelah Rasulullah wafat, khulafaurasyodin yang mulia juga menjaga keberadaan sistem shohih ini. Juga  dilanjutkan khilafah berikutnya hingga masa berganti gelap dengan dipaksakannya sistem Kapitalisme kepada kaum muslimin. Sungguh kini saatnya menghilangkan segala petaka dan kesengsaraan ini dengan kembali kepada sistem Islam.





Tinggalkan Balasan

News Feed