Media Massa Menghancurkan Kehidupan Keluarga Kartam*

Bagi banyak keluarga Lebaran tentulah merupakan waktu yang dinanti-nantikan karena semua anggota keluarga berkumpul di kampung halaman sambil merayakan Idulfitri, tapi lain bagi Kartam, 50-an tahun (di tahun 1993).

Kartam adalah ayah alm. Cece (bukan nama sebenarnya), 22 tahun, seorang wanita yang diidentifikasi HIV-positif di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ini tidak bisa berlebaran bersama Cece, putri sulungnya itu, karena Cece tidak pulang ke kampungnya.

Sejak putrinya dipulangkan dari Provinsi Riau karena dinyatakan HIV-positif (berdasarkan hasil surveilans tes HIV yang tidak sesuai dengan standar prosedur operasi yang baku di Riau) Agustus 1993 keluarga Kartam sudah terusir dari kampungnya, dari sebuah desa di Kecamatan Cibuaya, 5 km ke arah utara Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Penduduk setempat mengetahui Cece sebagai ‘pengidap AIDS’ karena berita di media massa, termasuk kunjungan pejabat mulai dari tingkat kelurahan sampai kabupaten ke desa itu yang selalu menyangkut Cece. Wartawan pun silih berganti pula datang ke sana.

Akibat pemberitaan media massa masyarakat mengucilkan mereka. Keluarga ini terpaksa pindah ke sebuah desa di kawasan Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, untuk bekerja sebagai pencetak batu bata di lio (tempat pembuatan dan pembakaran batu bata). Namun, Kartam tetap ingin merayakan lebaran di kampung halamannya. Untuk itu Kartam meminjam uang Rp 60.000 dari rekannya sesama pekerja di lio.

Padahal, Kartam sudah berutang Rp 80.000 kepada majikannya di lio itu. “Ah, itu bukan utang,” kata Kartam di tempat tinggalnya yang baru, juga di lio sekitar 100 km dari Karawang, kini masuk wilayah Provinsi Banten. Soalnya, 11.000 batu bata yang sedang dibakar sebelum dia meninggalkan lio itu belum dibayar pemilik lio. Upah mencetak satu batu bata Rp 10, sehingga Kartam berhak memperoleh Rp 110.000.

Kartam sendiri berpindah-pindah dari satu lio ke lio lain karena diusir pemilik lio. Rupanya, ada saja orang yang membisiki pemilik lio yang mengatakan Kartam sebagai ‘Keluarga AIDS’. Jika hal itu terjadi maka Kartam pindah ke lio lain, tapi baru satu dua bulan mereka pun diusir lagi karena pemilik lio mengetahui putri Kartam ‘AIDS’. Setelah beberapa kali pindah dari satu lio ke lio lain di Cikarang akhirnya tidak ada lagi pemilik lio yang mau menerima Kartam. Karena tidak bisa lagi bekerja di Cikarang Kartam pun memboyong istri dan anak-anaknya ke Banten.

Semula Kartam dan istrinya sangat berharap bisa bertemu dengan Cece di setiap hari Lebaran. Itulah sebabnya Kartam memaksakan diri pulang ke kampung halamannya ke Karawang walaupun harus meminjam uang dari temannya sesama pekerja lio di Banten. Kartam sangat yakin Cece akan pulang. Cece sendiri meninggalkan Kartam sejak Juni 1995, ketika itu mereka bekerja di sebuah lio di Cikarang, tanpa memberitahukan tujuannya, “Kami tidak tahu persis di mana Cece,” kata istri Kartam sambil terisak-isak.

Kartam sangat berharap bisa menjenguk Cece ke Riau. Cuma, Kartam terbentur ongkos karena kalau mencari Cece dia harus memulainya dari kampung istrinya di Indramayu, Jabar. Kalau di sana tidak ada barulah dia menelusurinya ke Riau.

Di Indramayu sendiri Kartam sudah berutang kepada saudara-saudara istrinya. Uang itu dipakai untuk membiayai Cece ke Arab Saudi setelah terusir dari kampung halamannya. Sayang, Cece cuma sebulan di Arab sehingga upahnya di Arab tidak bisa membayar utang yang jumlahnya hampir satu juta rupiah (1995). Ketika hendak ke Arab Cece juga menjalani tes HIV. Ketika itu hasilnya negatif sehingga dia bisa berangkat ke Arab Saudi sebagai tenaga kerja wanita (TKW).

  1. Jadi Objek Taruhan

Jangankan biaya untuk mencari Cece ke Riau. Untuk membayar uang sekolah dua putranya yang masih duduk di kelas 3 SD, di tempatnya yang baru di Banten, Kartam sudah kebingungan. Tentu sangat sulit baginya untuk meminjam uang kepada majikannya karena baru sepekan ia bekerja di sana. Padahal, ketika itu tahun ajaran baru.

Kartam bersama istri dan anak-anaknya, termasuk Cece, terpaksa bekerja di lio di Cikarang karena mereka tidak diterima lagi di kampung halamannya. Semula Kartam bekerja sebagai buruh tani yang membantu mengetam padi. Istrinya berjualan telur asin.Tapi, sejak ada berita di media massa yang menyebutkan Cece ‘pengidap AIDS’, pejabat dan wartawan silih berganti datang maka kabar itu pun tersebar luas. Akibatnya, semua orang menjauhi mereka. Tidak ada yang mau lagi mempekerjakan Kartam dan tidak ada lagi yang membeli telur asin yang dijajakan oleh ibu Cece.

“Orang-orang takut tertular, Pak,” kata seorang penduduk di kampung Kartam, di wilayah Kec. Cibuaya, Kab. Karawang. Rupanya, penduduk di sana tidak bisa menerima kehadiran Cece dan keluarganya karena mereka takut tertular. Bahkan, seorang pegawai instansi pemerintah mengatakan berdekatan dengan Cece saja penyakit itu (AIDS, pen.) bisa nepa (menular). Pemuda di kampung itu menuduh Cece membawa aib dan penyebar maut.

Soalnya, berita-berita di media cetak dan elektronik menjurus kepada ‘vonis mati’ terhadap Cece. Dalam berita disebutkan Cece, termasuk dua wanita lain teman Cece yang juga dipulangkan dari Riau, sebagai ‘penderita AIDS’ tinggal menunggu waktu dijemput maut. Bagi masyarakat berita itu menunjukkan bahwa AIDS berarti tinggal menunggu ajal. Maka, tidak mengherankan kalau kemudian ada tetangga Cece, ketika mereka masih di Karawang, yang bertaruh: Cece akan mati dua tahun lagi. Artinya, kalau Cece hidup lebih dari dua tahun dia akan membayar taruhan.

Padahal, sampai akhir Mei 1995 belum ada gejala-gejala AIDS pada diri perempuan yang dirundung malang itu. Bahkan, Lebaran tahun 2001 Cece kembali ke kampungnya. Tidak ada gejala-gejala terkait AIDS pada diri perempuan itu. Setelah merayakan lebaran Cece kembali ke Riau.

“Kalau dikorankan lagi saya akan lari,” kata Cece ketika ditemui penulis awal Maret 1995 di sebuah lio di Cikarang, Kab. Bekasi, Jawa Barat. Cece tahu penulis wartawan dari orang tuanya.

Ayah dan ibunya pun mengatakan bahwa pemberitaan di media massa tentang putrinya sebagai sumber malapetaka bagi keluarganya. Akibat berita di media cetak dan televisi penduduk mengucilkan mereka, aparat mencaci maki dan tidak ada orang yang mau mempekerjakan Kartam. Tidak ada lagi yang mau lewat di depan rumah mereka.

Beberapa judul bercerita tentang Cece memang menyebutkan bahwa putrinya itu sudah ‘menderita AIDS’ (mencapai masa AIDS-pen.). Padalah, ketika itu sama sekali belum ada gejala-gejala AIDS. Tes yang dijalani Cece di Riau pun hanya surveilans dan hasil tes surveilans itu tidak dikonfirmasi dengan tes lain.

Ketika darahnya diperiksa di Riau dia baru sekitar dua tahun di sana (berangkat ke Riau tahun 1992) dan bekerja di toko kelontong yang menjual makanan dan minuman ringan. Pemilik toko ini kemudian mengawininya.

Penduduk di sekitar rumah Cece di Karawang menyebutkan bahwa mereka mengetahui Cece ‘mengidap AIDS’ setelah melihat wajah perempuan itu di salah satu acara sebuah stasiun televisi swasta nasional. Tidak cuma rumah Cece yang dihindari orang, tapi hajatan pesta sunatan di rumah tetangga Cece pun tidak dikunjungi tamu. Undangan sudah disebarluaskan, tapi tidak satu pun yang diundang datang ke hajatan itu.

Tetangga Cece tadi rugi besar, bahkan yang punya hajat itu pun harus menyerahkan uang Rp 400.000 kepada aparat di kecamatan itu. “Katanya, sih, uang denda,” kata seorang penduduk di sana.

Rupanya, yang punya hajat tadi adalah orang yang membawa Cece ke Riau dan mempekerjakan Cece sebagai pembatu rumah tangga di rumahnya sebelum Cece kawin di sana. Orang itu pulalah yang membawanya pulang ke kampung ketika Cece ‘diusir’ dari Riau. Sejak peristiwa itu yang punya hajat tadi pun tidak pernah lagi pulang kampung. Padahal, biasanya setiap tahun mereka pulang kampung untuk merayakan Lebaran.

Beberapa hari setelah Cece tiba di kampungnya dari Riau, rumah-rumah penduduk di sekitar rumah Cece disemprot oleh aparat keamanan setempat. Seorang polisi berpakaian dinas berdiri di depan rumah Cece. Sambil bertolak pinggang polisi itu menghardik Cece, “Kamu datang ke sini hanya untuk menularkan penyakit!”

Polisi tadi pun menuduh Cece sebagai pelacur. Kartam yang ketika itu terbaring di ranjang karena sakit hanya bisa mengurut dada mendengar cercaan polisi itu. “Kalau saya tidak sakit akan saya lawan biar pun dia polisi karena anak saya bukan pelacur!” kata Kartam sambil terisak-isak mengenang peristiwa itu.

Setelah beberapa bulan bekerja di rumah tetangganya yang membawanya ke Riau sebagai pembantu rumah tangga Cece kawin dengan seorang lelaki China, pemilik toko kelontong tadi. Karena tidak menikah ‘resmi’di KUA itulah, tampaknya, Cece menjadi salah satu objek pemeriksaan HIV di Riau karena ada mitos yang menyebutkan HIV menular melalui zina.

Instansi di Riau pun, tampaknya, hanya memilih perempuan pendatang sebagai objek surveilans tes HIV di daerahnya, padahal tidak tertutup kemungkinan penduduk lokal pun ada yang menjadi ‘bini simpanan’ pendatang yang tidak menikah resmi di KUA.

  1. Dikorankan

Cece sendiri dipaksa oleh seorang petugas keamanan, ketika di Riau, ke rumah sakit. Di sana darahnya diambil untuk dites. Beberapa hari kemudian ada seseorang yang tidak dikenalnya datang memberitahu bahwa Cece sakit, yang kemudian diketahuinya sebagai ‘penyakit AIDS’ yang sebenarnya hanyalah terdeteksi HIV-positif melalui surveilans. Karena disebut sakit Cece memilih dipulangkan ke kampungnya. Sesampainya di kampung Cece berobat ke rumah sakit di Karawang, tapi pemeriksaan di rumah sakit itu tidak menemukan penyakit pada diri Cece.

Prosedur pemeriksaan dan pemulangan Cece ternyata melanggar asas kesepakatan internasional yang menyangkut HIV/AIDS. Darahnya diambil tanpa konseling sebelum tes dan tanpa persetujuan (informed consent) dari Cece. Kemudian hasil tesnya diketahui umum secara luas. Mulai dari aparat di tingkat Provinsi Jabar, Kabupaten Karawang, Kecamatan Cibuaya sampai ke desa dan pengurus RT serta penduduk dan wartawan. Bahkan, petugas di RS Bayukarta Karawang pun dengan ringan tangan menunjukkan medical record Cece kepada wartawan. Pemulangan Cece ke kampung asalnya pun merupakan perbuatan yang melawan hukum karena tidak ada aturan yang membenarkan pemulangan seseorang yang HIV-positif dari satu daerah ke daerah asal. Cara-cara yang dilakukan di Riau dan di Karawang merupakan perbuatan yang melawan hukum dan pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia (HAM).

Biar pun perlakuan terhadap Cece, mulai dari pembocoran identitas, pemulangan dan pemberitaan di media massa, melawan hukum dan melanggar HAM, tapi tak satupun instansi yang merasa bertanggung jawab terhadap nasib Cece dan keluarganya. Sehari setelah tiba dari Riau petugas puskesmas setempat mendatangi rumah Cece dan mengambil contoh darahnya tanpa konseling dan persetujuan.

Kartam mengaku kebingungan karena darah anaknya baru diambil pagi hari, eh, siang hari sudah ada koran yang memuat cerita tentang penyakit anaknya. Rupanya, berita tentang pemulangan tiga perempuan Karawang dari Riau yang terdeteksi HIV-positif itu dikabarkan melalui telegram ke dinas terkait di Karawang dan Bandung beberapa hari sebelum Cece tiba di kampungnya. Telegram itulah yang menjadi sumber informasi bagi wartawan dan pejabat setempat.

Kepada ayah dan ibunya Cece sering mengatakan, “Kalau saya masih di sini (maksudnya di Karawang, pen.) saya akan terus dikorankan (maksudnya menjadi berita di media massa-pen.).” Inilah, agaknya yang membuat Cece memilih pergi tanpa memberitahukan tujuannya. Soalnya, ketika masih di Karawang Cece menjadi pusat perhatian aparat pemda, tumpuan caci maki penduduk serta menjadi buruan ‘nyamuk-nyamuk pers’.

Seorang perempuan lain, juga di Karawang yang juga dipulangkan dari Riau bersama Cece, sebut saja Cici, 22 tahun, justru menjadi sapi perahan aparat desa dan kecamatan. Cici menjalin hubungan cinta dengan seorang pria Cina Singapura. Biar pun Cici sudah pulang kampung pria itu tetap mengunjunginya secara rutin. Jika aparat desa mengetahui pria itu menginap di rumah Cici petugas pun datang memeriksanya. Agar persoalannya selesai Cici pun menyerahkan empat amplop yang semuanya berjumlah Rp 200.000.

Begitu pula dengan seorang Odha perempuan yang menikah di Makassar, Sulawesi Selatan. Pasangan ini berkali-kali diusir dari rumah kontrakannya hanya karena masyarakat di sekitar mereka mengenal mereka sebagai ‘Pengantin AIDS’. Julukan ini tersebar luas di masyarakat karena merupakan judul berita lengkap dengan foto pengantin di media cetak lokal dan nasional.

Rupanya, ada penduduk yang menyimpan koran yang memuat foto pengantin mereka. Maka, ketika suatu hari Odha tadi memakai kaos (T-shirt) yang bertuliskan pesan-pesan tentang AIDS maka ketua RT setempat pun menyelidik-nyelidik. Kebetulan ada penduduk yang menyimpan koran yang memuat foto mereka. Akibatnya, pasangan ini diusir. Mereka sudah beberapa kali diusir penduduk dari tempat kos hanya karena ada penduduk yang mengetahui identitas mereka sebagai ‘Pengantin AIDS’. Terakhir mereka bisa ‘aman’ karena tinggal di rumah salah seorang pegawai sebuah instansi dan memberikan pekerjaan kepada pasangan itu.

  1. Patah Hati

Cece dan Cici serta keluarga mereka tetap tidak percaya Cece dan Cici tertular HIV karena, “Lihat saja badan anak saya gemuk,” kata ayah Cici menjelang lebaran 1996 di rumahnya di sebuah desa di Kab. Karawang. Cici meninggal awal tahun 2000 meninggalkan seorang putri yang juga HIV-positif.

Begitu pula dengan ayah dan ibu Cece mereka juga mengatakan Cece sehat karena badannya gemuk dan tidak pernah sakit. “Kerjanya kuat, pilek pun tidak pernah,” kata Kartam ketika Cece masih bersamanya di Cikarang (1995). Tampaknya, hal itu terjadi karena pemberitaan yang simpang siur tentang HIV/AIDS. Foto-foto Odha (Orang yang hidup dengan HIV/AIDS) yang ditampilkan media massa adalah orang-orang yang kurus yang sudah mencapai AIDS.

Padahal, untuk mencapai masa AIDS ada rentang waktu antara 5-10 tahun sehingga sebelum mencapai masa AIDS seseorang yang HIV-positif tidak menunjukkan tanda-tanda yang khusus. Bahkan, banyak yang sudah mencapai masa AIDS tetapi badannya tetap kekar dan tegar.

Penderitaan Kartam dan keluarganya ternyata belum berakhir walaupun mereka sudah pindah nun jauh dari kampungnya karena mereka tidak mengetahui di mana Cece berada.

Rupanya, putrinya patah hati karena pacarnya memutuskan tali cinta mereka. Hal ini terjadi karena ada orang sekampung Cece, yang juga bekerja di lio, yang menceritakan status HIV Cece kepada pacarnya. Pemuda itu sendiri sudah berjanji akan menyunting Cece. “Orang tua mana yang tidak senang mengawinkan anaknya,” kata ibu Cece sambil mengusap air mata.

Penantian Kartam dan keluarganya untuk bisa bertemu dengan Cece tidak sia-sia karena tahun 1999 Cece menemui mereka di kampung halamannya. Rupanya, setelah ‘bertualang’ dari satu lio ke lio lain Kartam dan keluarganya tidak mempunyai pilihan selain pulang ke kampung di Karawang. Tetangga di desa pun sudah bisa menerima Cece dan keluarganya.

Kini, Kartam dan keluarganya sudah kembali tinggal di kampung halamannya. Sedangkan Cece kembali ke Riau dan bekerja di sana. Kartam dan istri serta adik-adiknya pun sudah pernah diajak Cece ke Riau. Tetangga yang dahulu mencaci-maki dan mencibir sudah ada yang menyesal dan meminta maaf. Kartam sendiri mengaku memaafkan tetangganya.

Dua bulan kemudian Kartam menerima telepon dari Cece yang mengajaknya ke Riau. Di sana ada pekerjaan sebagai penjaga kebun durian. Kartam pun memboyong keluarganya ke sebuah pulau di sekitar P. Batam di Kep. Riau. “Saya senang bisa berkumpul dengan Cece.” kata Kartam mengenang pertemuannya dengan Cece ketika ditemui Lebaran lalu (2005) di Karawang.

Selain menjaga kebun durian Kartam juga menderes pohon karet. Sedikit demi sedikit Kartam mengumpulkan uang. Hasil jerih payahnya dipakainya untuk membangun rumah. Sebagian disimpannya, “Untuk membeli tanah di kampung (maksudnya di Karawang, pen.),” katanya terbata-bata.

Selama dua tahun bersama Cece seakan-akan semuanya baik-baik saja. Kartam sudah membayang-bayangkan akan menjadi petani di kampungnya berbekal simpanannya, ketika itu berjumlah Rp 9 juta dan puluhan ayam kampung. Tapi, tiba-tiba semuanya buyar karena Cece sakit.

Menurut Kartam putrinya ‘muntaber’. Bidan yang mereka datangi mengatakan Cece ngidam. Kartam dan istrinya lega. Tapi, ‘muntaber’ datang berulang-ulang. Kalau berobat sembuh. Setelah obat habis sakit lagi. Begitu seterusnya.

Akhirnya, mereka membawa Cece ke rumah sakit. “Mereka tidak tahu apa penyakit anak saya,” kata Kartam. Pemeriksaan laboratorium, termasuk rontgen, tidak menunjukkan penyakit yang diderita Cece.

Hampir satu tahun Kartam dan istrinya mengurus Cece yang terus-menerus sakit. Harta Cece dan simpanan Kartam pun ludes untuk membiayai pengobatan Cece. Cece meninggal dunia lima hari setelah Lebaran tahun 2003. Satu hal yang dibanggakan Kartam dan istrinya adalah penduduk di sana banyak yang datang melayat walaupun mereka pendatang.

Setelah acara seratus hari kematian Cece, Kartam memboyong keluarganya kembali ke Karawang. Untuk biaya pulang Kartam menjual barang yang ada, termasuk rumah yang dibangunnya. Rumah yang dibangunnya dengan biaya sekitar dua juta rupiah hanya laku Rp 800.000.

Kini, Kartam dan keluarganya hanya bisa mengenang masa-masa indah dengan Cece ketika di rantau jauh dari hinaan penduduk karena Cece sudah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. ***

Catatan:

* Naskah ini pertama kali dimuat di Newsletter PMP AIDS-LP3Y, Yogyakarta, Edisi Ke-12, April 1996. Diolah kembali berdasarkan data terbaru tentang Cece dan keluarganya.

** Kartam dan istrinya pernah ditampilkan untuk memberikan testimoni tentang pengalaman mereka sebagai korban pemberitaan media massa pada seminar tentang “HAM terkait HIV/AIDS” yang diselenggarakan oleh LAHSI di Jakarta (8/12-2001).

Tinggalkan Balasan