oleh

Ketika Guru Ngaji Menjewer Telingaku,  

-Islam, Peristiwa, YPTD-Telah Dibaca : 51 Orang

Ketika Guru Ngaji Menjewer Kupingku,

Catatan Thamrin Dahlan

 

Ketika guru ngaji menjewer kupingku, rasanya dunia ini kiamat.  Aku berdusta, itu saja salahku.  Aku berdusta tidak mengaji sore itu karena diajak teman teman mandi.  Boedak  seumuranku tidak syah menjadi warga teladan Tempino bila belum pernah mandi di kolam Pak Kasim

Alasan ke guru ngaji

“Tuan Guru aku sakit.”

Inilah kebohongan pertama dalam hidupku. Akhirnya Tuan Guru mengetahui kelakuan burukku.  Beliau marah besar kemudian menghukumku.

” Berdusta  adalah suatu kenistaan”

Hukuman di pukul pakai rotan. kaki bukan badan atau kepala.  Sakitnya bukan main, 5 pecutan rotan itu menyetuh sanubari ku. Inilah hukuman badan yang berlaku di tempatku mengaji.  Dipukul karena bersalah agar kapok tidak berbuat kesalahan lagi.

Teman teman sepengajian menyaksikan. Hukuman adalah suatu metode pegajaran dengan tujuan ada efek jera.  Bukan karena benci Tuan Guru kepada ku dan teman teman.  Namun lebih jauh dari itu belajar mengaji sejak kecil harus ditanamkan nilai nilai kejujuran.

” Anak anak ku kejujuran adalah nilai paling tinggi dan mulia dalam pejalanan kehidupan”

Tuan Guru mengajar cara membaca Al Qur’an.  Mendidik kami sepenuh hati dengan penuh kasih sayang.  Disiplin adalah pokok perbuatan melakukan kebajikan,  Usaha dan berdoa. Istiqomah itulah nilai sejati kedisiplinan.  Biar sedikit namun terus menerus

Tuang Guru Ulama di kampong Tempuno  sangat disegani dan dihormati

Sejak menerima  hukuman rotan, Aku berubah.  Tidak akan berdusta lagi.  berjanji akan menerapkan nilai nilai kejujuran.  Mandi di kolam Pak Kasim bisa dilakukan ketika do hari libur.  Tidak akan pernah meninggalkan jadwal mengaji.

Bapak dan Mamak heran melihat perbuatan anaknya. Demikian pula dengan saudara sekandung Uda dan Uni dan Adik ku M. Yahya Bin Dahlan. Mengaji si kampong saat itu menggunakan kitab turutan.  belum ada sistem Iqro. Terbata bata, InshaAllah lambat laun lancar..

Bapakku seorang ulama,  Beliau menyuruh kami mengaji ke Tuan Guru.  Bapak ku mengajarkan peri kehidupan melalui contoh tauladan bersikap sopan santun dalam pergaulan.  Berbagi atau sedekah adalah  anjuran Bapak kepada kami putra putri nya.

Amanah Bapakku Almarhum Haji Raden Dahlan bin Affan asal Seblat Bengkulu :

“Sertai setiap sedekah niatk ikhlas sem,ata mengharap redha Allah SWT. Tidak usah menunggu kaya raya, sedekahlah dalam kondisi apapun”

Anda tentu acap menyaksikan pengajian di Masjid Nabawi Madinah dan Masjidil Maram Makkah Mukaromah.  Ketika menunaikan Ibadah Haji 1994, 1998, 2003 dan Umroh 2017 dan 2022 awak menyaksikan  hukuman rotan. Aneh bin ajaib ternyata sebilah rotan itu dijual di toko toko bersamaan dengan sajadah dan kurma.

Disela sela antara 2 shalat wajib kita menyaksikan ada pengajian.  Dipimpin oleh ulama berserifikasi Hafidz. Santri mengelilingi sang Tuan Guru.  Mereka menyetorkan hafalan al Qur’an.   Subhanallah Tuan Guru itu disamping tempat duduknya ada sebilah rotan.

Inilah sunatullah memberi hukuman kepada santri yang belum bisa menyetorkan hafalan dengan baik dan benar.

Ya benar sekali  pukulan hukuman rotan dikaki sangat membekas. Artinya santri akan lebih fokus belajar mengaji.  Tentu mereka akan berusaha membaca tajwid Al Qur’an sesuai dengan diajarkan Tuan Guru. Sejatinya hukuman rotan adalah keniscayaan dengan catatan tujuannya untuk efek jera. dan santri  semakin disiplin.

Alhamdulillah perubahan akibat didera rotan itu sangat mempengaruhi perjalanan  hidup.

 

  • Salamsalaman 250123
  • TD

Komentar

Tinggalkan Balasan

1 komentar