” Membunuh ” Waktu

Profesi abadi

Pada ghalibnya pensiun itu berdimensi waktu, namun profesi yang dua ini tidak memiliki usia pensiun. Waktu  pensiun bagi pegawai pemerintah ditetapkan oleh undang undang ketika memasuki usia 58 tahun. Profesi yang awak maksudnya tidak memiliki batasan usia pensiun adalah pekerjaan abadi sebagai PENULIS dan PENDIDIK. Menulis adalah pekerajaan sepanjang masa selagi jiwa masih bersatu dengan raga.  Demikian pula dengan mendidik, apakah itu di lembaga formal ataupun non ormal, tidak ada batasan expired date selama hayat masih di kandung badan..

Awak dulu bekerja di pemerintah, tepatnya sebagai Anggota Polri.  Masuk bekerja  mengabdi sebagai pelindung, pelayan dan pengayom masyarakat pada tahun 1980.  Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat, masa pengabdian selesai ketika masa kerja kedinasan mencapai 30 tahun.  Ya tepatnya 1 Agustus 2010, di usia 58 tahun awak mendapat Surat dari Presiden RI yang menyatakan terima kasih atas pengabdian pada negara dengan embel embel Surat Keputusan berhak mendapatkan dana pensiun setiap bulan. Terimakasih.

Itulah pensiun pertama dalam kapasitas sebagai abdi negara.  Persiapan pensiun pastilah sudah dilakukan jauh jauh hari.  Memasuki usia pensiun bagi awak,  mungkin juga para jobless lainnya adalah memasuki masa bebas dari kewajiban rutinitas. Variabel waktu 8 jam setiap hari menjadi kendala, karena ketika pensiun yang harus dipikirkan dan dipersiapkan adalah bagaimana kita menghabisi waktu “dinas” tersebut.  Alhamdulillah ketika masih berkeja di pemerintah awak ada juga kegiatan mengajar, jadi dosen begitu tepatnya.  Namun menjadi dosen hanya di 1 perguruan tinggi tidak cukup untuk menbabat waaktu 8 jam perhari.

Membunuh Waktu Luang.

Oleh karena itu dalam masa injury time awak mencari lowongan mengajar di perguruan tinggi lain.  Ya mengajar itulah satu satunya kemampuan yang melekat pada diri karena pekerjaan ini seiring dengan kesukaan atau hobby kata anak zaman sekarang. Alhamdulillah berkat Rahmat Allah SWT melalui syariat Prof Dr. Johan (teman ketika bersama mengikuti Wajib Militer), awak bergabung di Universitas Gunadarma Jakarta.  Tidak tanggung tanggung langsung di beri kepercayaan mengajar  7 kelas.  Subhanallah,  inilah salah satu  karunia terbesar dalam perjalanan hidup.  Karunia ini bukan menyangkut gaji dosen yang diterima, tetapi lebih kepada peluang membunuh waktu luang. Memberikan mata kuliah  Ilmu Kewarganagaraan, Pancasila dan Ilmu Budaya Dasar dan berkomunikasi dengan mahasiswa memberikan suasana tersendiri yang memacu adrenalin.

Profesi kedua yang tidak berdimensi waktu pensiun adalah menulis.   Seperti yang pernah awaak tulis sebelumnya bahwa menulis lebih intens di masa pensiun adalah pekerjaan yang mengasyiekkan.  Menulis setiap hari dan di publish sungguh mengasyiekkan malah. Profesi ini tidak sengaja awak geluti ketika seorang karib menghimbau agar awak bergabung ke kompasiana.com. Sebelumnya hanya berinternet ria di Facebook,  rasanya itu sudah cukup dengan sesekali melongok email dan web berita (news) lainnya untuk berkomunikasi dengan dunia maya. Namun setelah terverifikasi di kompasiana, hidup dan kehidupan terasa menjadi lebih bergairah terutama dalam upaya menulis dan membaca guna mengulur datangnya penyakit pikun.


Nikmatnya Pensiun

Namun apa hendak dikata, takdir baik awak temukan di kost kostan si ana.  Inilah content sosila media yang telah merasuk jiwa. Ketika dulu masih bekerja di  kepolisian awak dipaksa menulis, apakah itu berbentuk makalah,  menyusun laporan, membuat konsep peraturan, draft sambutan / pidato komandan atau tulisan dina lainnya. Kini suasana menjadi terbalik 180 derajat. Sekarang justru awak yang memaksa diri untuk menulis, kata populernya adalah kecanduan atau addict. Ya awak mendapatkan ruh  didunia tulis menulis. Ruh menulis itu hadir ketika tulisan kita yang di publish mendapatkan apresiasi dari kompasianer.  Inilah komentar atau tanggapan baik itu positif maupun negatif yang menghidupkan setiap karya tulis di sosiaol mmedia.

Suatu keajaiban lagi dengan menulis awak rasakan adalah  berani beraninya menerbitkan buku. Ketika belum bergelut di dunia tulis menulis awak menganggap menerbitkan buku itu adalah pekerjaan orang besar  dan orang hebat.  Namun ternyata tidak.  menerbitkan buku bisa juga dilakukan oleh penulis amatir sepereti awak.  Kenapa tidak, karena artikel telah diposting sudah banyak tinggal di jilid. Awak menggunakan istilah sederhana di jilid bukan di buat buku.  Penerbit buku diera digital sudah begitu banyak, dalam arti penerbit ysng bersedia mencetak buku dari bukan orang terkenal. Tanpa terasa dalam waktu kurang dari 10 tahun, sudah 30 buku yang awak terbitkan secara mandiri dengan bantuan Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD)

Pensiun pertama sudah awak lewati dengan mulus, malah seorang sahabat mengatakan ” anda sudah khusnul khatimah”   Mungkin maksudnya awak bisa menikmati masa pensiun dengan tenang di alam bebas, tidur nyenyak, tidak kuatir di kejar kejar BPK atau KPK. hahaahahaha.  Ya sekarang dari profesi yang digeluti awak tidak mengharapkan penghasilan besar untuk menjadi kaya raya.  Cukuplah penghargaan dari negara yang awak terima setiap bulan serta penghasilan lumayan dari mengajar dan sesekali mendapat keuntungan finasial dan material dari menulis. Alhamdulillah cukupal untuk menunjang kehudupan keluarga.

Yes Profesi menulis dan mengajar tidak memiliki dimensi waktu pensiun, tidak ada pensiun jilid dua. No Way.   Pekerjaan ini bisa dilakukan selama nikmat kehidapan di dunia masih dipercayakan  Allah SWT untuk berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi sesama.  Inilah kiat awak dalam upaya membunuh waktu luang ketika pensiun datang.  Semoga bermanfaat bagi para pembaca dan yang jelas menulis dan mengajar (atau profesi lainnya yang sesuai dengan hobby anda) masa pensiun bukanlah masa akhir pengabdian. Awak telah mempraktekkan kiat ini selama 3 tahun dan rasanya nikmat hidup di dunia tidak berbeda ketika masih bekerja di pemerintahan, malah kini lebih terasa nyaman karena tidak ada beban.  Terima kasih.

Salamsalaman

TD

Tinggalkan Balasan