Mengundurkan Diri Versi Mukidi

Ribut ribut perihal pengunduran diri, Mukidi angkat bicara.  Bukan soal setuju atau tidak setuju, intelektual kampongan ini tergelitik ketika banyak suara sinis terkait pengunduran diri seorang pegawai pemerintahan.

Mengundurakan diri adalah hak azazi manusia.  Tidak ada larangan kecuali memang sudah ada kontrak kerja berbilang waktu.  Misalnya seorang pegawai mendapat bea siswa  maka ada kewajiban bagi dirinya mengabdi sekian tahun sebagai imbalan bea siswa tersebut.

Hak azazi melekat pada seseorang dalam artian kebebasan menentukan jalan hidup kedepan.   Bisa jadi dia tidak nyaman lagi berada disatu lingkungan kerja.  Sudah tidak ada kesesuaian nilai moral nan dianutnya dengan situasi dan kondisi kinerja tempat bekerja.

Mukidi memang seorang cerdas, jernih berpikir dan selalu melihat segala sesuatu persoalan secara objektif. Mengundurkan diri karena gagal melaksanakan tugas ada juga.  Dinegeri matarhari malahan sebagai bentuk kegagalan,  seorang Menteri,  pengunduran diri bahkan membunuh diri atawa harakiri.

Inilah hebatnya tabiat seseorang yang memegang prinsip hidup dunia akherat. Pekerjaan bisa bergonta ganti,  tak perlu kuatir banget kehilangan pekerjaan. Bukankah rezeki makhluk di muka bumi dijamain Tuhan Yang Maha Kaya.

Daripada dari pada berada dilingkungan yang tidak menyenangkan hati lebih baik hijrah.  Itulah kata yang paling tepat ketika pengunduran diri merupakan aplikasi  Hijrah.  Pindah dari satu tempat yang kurang nyaman ke tempat yang berkesesuaian dengan hati nurani.

Hijrah tidak sepenuhnya berbentuk pindah geografie.  Hijrah hati sudah merupakan kemajuan memegang komitment agar tidak terkontaminasi dengan perilaku buruk lingkungan.

Nah Mukidi memiliki prinsip seperti yang diutarakan diatas.  Oleh kareana pesinis pesinis yang mengatakan  pengunduran diri secara negatif,  Pergilah anda dari alam keniscayaan.  Apakah anda tidak pernah berpikir bahwa jidup ini ada masanya dan masa itu ada pelakonnya.

Tiada nan abadi didunia ini.  Apa yang kaucari selaksa harta atau ketenangan jiwa.  Inilah perilaku ajaib nan sudah jarang ditemui dikerumuan hidup hedo manusi.  Manusia pengejar kenikmatan sesaat.

Mukdi hanya bisa mengelus dada.  Dia tidak punya kewenangan mengubah sesuatu bersebab  memang tak punya jabatan di pemerintah.  Namun dalam posisi seperti itu Mukidi tetap bahagia.  Walaupun virus corona belum ada jawaban pasti mau dibawa kemana oleh pengusaha dan penguasa di negeri antah berantah.

Salam Mukidi

YPTD

 

 

Tinggalkan Balasan