Secebik Kisah Manis di CUMT

SECEBIK KISAH MANIS CUMT

Oleh

Wawat Tustiawati, S.Pd.,M.M.

Finalis Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2018

Pemerintah dalam melaksanakan program pengembangan kompetensi guru telah melakukan beberapa program kegiatan yang dilakukan di dalam negeri. Dalam rangka memberikan wawasan kepada guru terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, maka Pemerintah memberikan kesempatan kepada guru untuk mengikuti pelatihan di luar negeri. Guru dapat langsung mendapatkan pengalaman dalam proses pembelajaran untuk mengubah cara mempersiapkan diri sebelum mengajar, selama proses pembelajaran, mengevaluasi hasil belajar, dan mengalami serta memperhatikan langsung budaya belajar di sekolah dan institusi yang dikunjunginya.

Pelatihan guru ke luar negeri ini diikuti 100 orang yang diantaranya 50 orang akan belajar di Universitas Jiangsu, Republik Rakyat Tiongkok. Program ini merupakan apresiasi dalam peningkatan kompetensi bagi guru yang telah mengabdikan dirinya dengan penuh tanggung jawab dan berdedikasi serta memiliki prestasi dalam melaksanakan tugas sebagai guru.

 

Rabu, 27 Maret 2019 Bapak Menteri Pendidikan Bapak Muhajir Effendy membuka acara pembekalan dan pelepasan 1000 orang guru untuk mengikuti pelatihan ke luar negeri. Selama 4 hari kami diberi pembekalan untuk persiapan keberangkatan menuju negara yang masing-masing kami tuju, dalam pembekalan kami diberi informasi tentang keadaan dan suhu di sana. Di Indonesia dengan suhu rata-rata 26º – 31º C sementara di negara China 7º – 17º C, Belanda 4º – 14º C, dan di Australia berkisar 17º – 22º C. Begitu juga dengan kebiasaan-kebiasaan negara tersebut akan sangat berbeda dengan kebiasaan-kebiasaan di negara Indonesia, untuk itu kita harus lebih menjaga etika dan mengikuti aturan dan kebiasaan di negara tersebut. Lain lubuk lain belalang, begitulah pribahasa yang sesuai.

 

Minggu, 3 Maret 2019 hari yang kami nantipun tiba, setelah sholat subuh kami mulai menaiki bus yang akan mengantar kami menuju Bandara Soekarno Hatta, sepanjang perjalanan rasanya haru dan berdebar terus, masya Allah begitu banyak keberkahan yang Allah berikan sehingga penulis diberi kesempatan untuk menuntut ilmu ke luar negeri. Perjalanan menuju ke Juanghu China, transit di Hongkong selama 4 jam dan dilanjutkan penerbangan menuju Nanjing China.

 

Tibalah kami di kampus CUMT di kota Xuzhou dini hari sekitar pukul 02.00 waktu setempat kota Pendidikan yang berada diprovinsi Jiangsu, udara sangat dingin hingga terasa menusuk kulitku meski sudah kulapisi dengan mantel tebal, kami langsung disambut dengan ramah dan sudah disiapkan hidangan makanan yang hangat dan lengkap, kami dilayani dengan sopan dan salah satu cara menghargai tamu, mereka mengambilkan makanan ke piring yang kami bawa dan waaaww… sungguh luar biasa porsinya bagi kami,terutama saya yang jauh porsinya sangat berbeda, alhasil kali pertama makan hampir teman-teman perempuan  tidak habis, untuk esok kami meminta biarkan kami melayani sendiri saat makan supaya tidak ada yang terbuang. Ada hal yang unik dan menarik yang mesti kita tiru yaitu usai makan kita wajib menyimpan peralatan makan kita yang kotor dan membuang sisa makanan sendiri ke dalam tempat sampah yang sudah disediakan, meskipun ada pelayan yang berdiri menunggu piring bertumpuk untuk langsung dibawa ke dapur untuk dicuci.

 

Hari demi hari kami lalui dengan penuh tantangan dan pengalaman yang luar biasa. Akademik, budaya, keadaan suhu di sana yang ternyata berbeda dari prediksi saat masih di Indonesia. Setiap pagi kami nikmati udara dengan suhu 0 sampai dengan 3 derajat celcius, menggunakan bajupun berlapis-lapis sebelum menggunakan mantel, bahkan ada teman sampai menggunakan plastik sebelum menggunakan pakaian katanya supaya tidak sesak. Jika sudah selesai kegiatan berburu ke kamar untuk segera menyalakan AC penghangat, sangat berbeda yaa dengan keadaan di tanah air. Selain itu kamipun harus terbiasa berjalan kaki berjalan menuju kampus atau keperluan lainnya, karena kampus ini sangat luas kemuungkinan dalam satu hari lebih kurang kami bisa berjalan kaki mencapai 40 km dari pagi hingga usai kegiatan, belum lagi jika malam ingin berpetualang ke pusat pertokoan. Mingu pertama kakiku yang terbiasa manja saat di tanah air, dekat saja selalu menggunakan kendaraan, terasa sekali jika malam waktu istirahat tiba,beruntung orang tua murid tersayang membekali aku dengan minyak gosok herbal yaaaah…., meski sedikit bau namun alhamdulillah saat bangun pagi kakiku ini sudah siap kembali berjalan meski tak secepat teman sekamarku yang berasal dari Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.

Selama 21 hari di negeri tirai bambu ada banyak teman, ilmu, dan pengalaman yang luar biasa, itu semua keberkahan dari Allah yang kuterima melalui doa terbaik dari orang-orang tersayang yang mendukungku menuju guru berprestasi tingkat nasional hingga aku mendapatkan kesempatan untuk belajar di negeri orang. Tujuan utama yang harus kami pelajari adalah tentang pelaksanaan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering n Math)  dan HOTS (Higher Other Thinking Skill) di negeri panda ini. Ada pengalaman yang sangat berkesan Ketika kami mengunjungi sebuah SD di kota Xuzhou ini, biasanyak jika sekolah kita kedatangan tamu yang siap memberikan pengarahan atau menjelaskan adalah guru yang terbaik di sekolah itu atau langsung kepala sekolahnya, namun ini sangat berbeda sekali sekolah dengan bangunan kokoh berlantai empat ini semua yang menjelaskan dan memaparkan bagaimana Pendidikan, kegiatan dan sejarah sekolah adalah mereka yang memaparkan dengan baik dan jelas tanpa sedikitpun keraguan atau tidak percaya diri, mulai dari kelas 3 SD yang memaparkan di lantai satu sampai dengan siswa kelas 6 di lantai empat dengan Bahasa mandarin dan ditranslate oleh fasilitator kami secara bergantian, Patterson, Barman dan Chano.

 

Selain kami belajar kamipun mengunjungi beberapa tempat bersejaran dan terkenal di negara Tiongkok ini, salah satunya keajaiban dunia yaitu Great Wall atau Tembok China yang sangat terkenal. Dengan susah payah akhirnya akupun dapat menaiki tangga demi tangga menuju puncaknya.

 

Kebersamaan kami selama 21 hari menjadikan kami seperti saudara, saling menyayangi, saling berbagi dan sampai saat ini tetap silaturahim dalam dunia maya, meski beberapa kali kami dipertemukan dalam kegiatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjadi ajang reuni dan melepas rindu, tak ada bosannya kami selalu bercerita dan mengenang kembali hal-hal yang lucu, mengesankan, atau kejadian yang aneh. Hingga Om Jay (panggilan akrab Pak Wijaya Kusumah) mengajak dan memfasilitasi kami untuk temu kangen secara virtual melalui zoom meeting, tentu saja ikut bergabung Bapak dan Ibu semang kami saat di China, yaiu Pak Herry Azhar dan mba Rohmi yang lemah lembut.

 

Alhamdulillah bisa bertemu meski saat itu berada di luar rumah karena ada acara dan hujanpun sangat deras hingga signalku kurang bagus. Berharap Om Jay mengulang kembali acara seperti ini berbagi pengalaman dan kisah pasca short course juga melepas rindu. Saat ini saya diberikan kepercayaan memimpin di SDN Tangerang 14 di Kota Tangerang, tidak jauh dari sekolahku bertugas saat menjadi guru. Inilah secebik kisahku tentang pengalaman berlatih ke negeri China, insya Allah lebih lengkapnya ada pada buku goresan tinta eh belajar menulis dengan menghasilkan buku.  Salam sukses untuk alumni CUMT (China University of Mining Technology).

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar

  1. Ping-balik: Boutiq carts
  2. Ping-balik: link dultogel