Haji Dahlan Bin Affan Mengembalikan Durian Kebon Sebelah

 

Satu hari sepulang dari Shalat Subuh terlihat Ayahanda membawa dua buah durian. Belum juga istirahat Beliau menyuruh Uda Buyung mengantarkan durian itu ke rumah Tjek.Dung.

Tjek Dung adalah tetangga sebelah rumah. Durian jatuhan itu memang berasal dari kebon wong kito galo panggilan akrab untuk orang asli Palembang. Kebon Tjek Dung merupakan rute lintasan Bapak ketika pulang dari masjid sedangkan ketika berangkat melewati jalanan tanah disiram minyak mentah (bukan aspal) Komplek Pertamina

[Flash Back] : Bapak dan Tjek Dung bersama ratusan perantau lain adalah karyawan Pertamina. Setelah pensiun tahun 1970 tetap tinggal di tanah minyak Tempino. Puluhan tahun tinggal disini dan betah menyebabkan para pensiunan memutuskan menetap di Tempino sebagai kampong halaman ke 2. Walaupun sebenarnya Bapak berkampong halaman di Bengkulu dan Tjek Dung di Palembang.

“Bukan hak kita” demikian ucapan Almarhum Ayahanda H. Rd. Dahlan bin Rd Affan. Padahal dikampong kami Tempino Jambi berlaku adat tak tertulis terkait hak ulayat. Hukum adat disepakati warga bahwa hasil kebun menjadi hak rakyat apabila berbentuk jatuhan (selama tidak dipetik). Artinya warga paham setiap durian jatuhan boleh diambil dan dimiliki warga yang kebetulan lewat.

Tentu saja istri Tjek Dung kaget menerima 2 buah durian. ” Oooi Yung kenapo dibalek ke, ambek bae durian ni” Sesuai amanah Ayahanda, Kakakku tetap tidak mau menerima durian jatuhan itu.

Tiba tiba Tjek Dung yang baru selesai sarapan muncul didepan rumah. “Udahlah kalu mak itu, gawak bae sikok durian, omongke ke Pak Haji Dahlan dulurku, durian ini hadiah dari kami” .

Terpaksa si Uda menerima durian matang beraroma harum. Ketika 1 Durian kembali lagi kerumah, Ayahanda tersenyum, terus berkata ke Mak dan anak anak nya. ” nah kalau sudah begini durian itu baru halal dan syah menjadi milik kita”

Subhanallah, Bapakku, betapa mulia ahlakmu, Hal hal kecil dan sepele selalu menjadi perhatian. Inilah salah satu bentuk kepedulian menyangkut hak dan kewajiban umat menjalankan segala perintah dan sunah Agama Islam secara Kaffah (menyeluruh).

Sebenarnya di kebon kami sendiri ada 3 pohon durian. 1 dekat rumah dan 2 lagi nun jauh diujung kebon dekat balong ke – 7. Musim durian memang jadi tungguan warga Tempino karena tidak banyak kebon memiliki pohon durian.

Khusus untuk pohon durian diujung kebon, keluarga kami mengikhlaskan

apabila ada warga yang menunggui durian jatuh terutama ketika malam hari. “biarlah buah buah durian karunia Allah SWT di nikmati bersama orang sekampong” demikian ucap Bapak terkait durian jatuhan.

Tulisan ini terinspirasi dari berita viral tentang penumpang pesawat terbang dari Bandara Bengkulu yang menolak take off bersebab ada 3 ton durian. Dikuatirkan membahayakan penerbangan maka para penumpang protes sehingga akhirnya pihak manajemen bandara menurunkan si buah maknyus beraroma khas..

Kisah nyata dan inspiratif ini sudah awak abadikan dalam buku Kasidah. Bisa dibaca di buku awak ke- 10 tahun 2016 di halaman 64 dalam tulisan bertajuk Ayahku Nan Sholeh .

Semoga upaya mensyiarkan kembali kisah nyata ini bisa menjadikan salah satu pengabdian dari kami anak cucu untuk Ayahanda H. Rd Dahlan Bin Rd. Affan dan Ibunda Hj. Kamsiah binti Sutan Mahmud. Amin ya Rabbal Alamin

Salamsalaman

TD.

Tinggalkan Balasan

News Feed