Guru Ranto Belajar STEM ke China

Humaniora0 Dilihat

GURU RANTO BELAJAR STEM KE CINA

Nama saya Taufiq, guru SDN 07 Rantau Utara, Kabupaten Labuhanbatu. Dari sederetan guru hebat yang ada di tanah air, suatu hal yang mengejutkan bagi saya ketika menerima undangan dan dipilih sebagai peserta yang akan mengikuti program pelatihan guru ke luar negeri tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI).

Meskipun merasa heran, namun saya tentu sangat bahagia dengan berita tersebut. Tidak hanya saya, keluarga, teman sejawat di sekolah, dan pimpinan di dinas pendidikan juga merasakan hal yang sama kala itu. Bagaimana tidak? Guru yang notabene adalah guru dari kota kecil yang bernama Rantauprapat (biasa disebut Ranto), bisa terpilih mewakili jutaan guru yang ada di Indonesia berangkat ke China untuk belajar tentang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Berangkat ke Cina merupakan pengalaman pertama saya mengikuti pelatihan STEM, juga pengalaman pertama saya mengikuti pelatihan berskala internasional, dan sekaligus pengalaman pertama saya menginjakkan kaki di luar negeri. Tidak seperti saat mengikuti pelatihan-pelatihan biasanya. Ketika hendak mengikuti pelatihan STEM ke China, muncul kekhawatiran tentang bagaimana saya bisa mengikuti kegiatan pelatihan tersebut? Sebab saat itu saya belum memiiki paspor, tidak mengerti sama sekali Bahasa Cina/Mandarin, dan belum pernah sama sekali bepergian ke luar negeri.

 

Bismillah. Kata itu yang menguatkan tekad saya agar tidak kehilangan peluang yang mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya. Dengan doa yang selalu saya mohonkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya segala kekhawatiran tersebut berangsur sirna. Apalagi setelah mendapatkan penjelasan dari panitia bahwa sebelum keberangkatan ke Cina, seluruh peserta akan mendapatkan pembekalan tentang pelaksanaan program pelatihan tersebut.

Ternyata, ketika keberangkatan menuju Cina dan selama pelaksanaan pelatihan di CUMT (China University of Mining and Technology) yang terletak di Kota Xuzhou, Provinsi Jiangsu, Cina. Hingga kembali lagi ke tanah air, kami selalu didampingi oleh para pendamping dari Kemdikbud yaitu Pak Hery Azhar, dan Bu Rohmi. Selama pelatihan berlangsung kami juga didampingi oleh tiga penerjemah yang merupakan mahasiswa CUMT dari negara yang berbeda dengan kami. Ketiganya begitu baik dan ramah. Mereka adalah Pateson dari Kamerun, Barman dari Yaman, dan Chano dari Mozambik.

 

Selama kegiatan pelatihan di Xuzhou, kami banyak berkunjung ke sekolah-sekolah yang telah menerapkan pembelajaran berorientasi STEM. Para guru dan siswa di sekolah-sekolah yang kami kunjungi tersebut terlihat begitu terbiasa dengan pendekatan pembelajaran yang kini telah diterapkan oleh berbagai negara maju di dunia.

Penerapan pembelajaran STEM di sekolah diperkirakan akan mampu menghasilkan output yang bisa bersaing di dunia industri masa kini. Sesuai dengan pendekatan pembelajaran yang digunakan, sekolah-sekolah di Xuzhou yang kami kunjungi telah menerapkan pembelajaran yang terintegrasi dengan IT, seperti penggunaan monitor layar sentuh berukuran besar dan terkoneksi dengan internet. Di seluruh ruangan di sekolah-sekolah tersebut juga dipasang CCTV.

 

Selain ke sekolah-sekolah, kami juga berkunjung ke pusat pengembangan teknologi robotik Kota Xuzhou, pusat kebudayaan Kota Xuzhou, museum, objek wisata, ke beberapa cagar budaya dan lokasi bersejarah.

 

Dua puluh satu hari di Xuzhou membuat kami para guru peserta pelatihan yang berasal dari berbagai daerah di tanah air, bak keluarga dekat. Kemana-mana selalu bersama, selalu gembira, dan saling peduli. Satu sama lain juga saling berbagi pengalaman tentang prestasi dan hobi yang menginspirasi.

 

Hari-hari yang saya jalani bersama dengan teman-teman dalam mengikuti pelatihan STEM di China, terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Alhamdulillah semua rangkaian kegiatan pelatihan selama di Xuzhou berjalan lancar, menyenangkan, dan penuh inspirasi. Dan syukurnya lagi, pelatihan dilaksanakan sebelum pandemi corona terjadi. Tak terbayangkan bagaimana jadinya jika pada saat pelatihan berlangsung, merebak wabah covid-19. Naudzubillahi min dzalik.

 

 

Rantauprapat, 24 September 2020

Penulis,

 

TAUFIQ, M.Pd.

Tinggalkan Balasan

8 komentar

  1. Ping-balik: rich89bet
  2. Ping-balik: sunwin page
  3. Ping-balik: lottovip