Episode Rindu Xuzhou

EPISODE RINDU XUZHOU

Abdul Hakim

Jalan dibuat untuk perjalanan, bukan tujuan.

Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah – Confucius

 

Prolog

Kangen. Banget malah. Setahun lebih telah berlalu. Akan tetapi, kalau mengingat-ingat kebersamaan kita, rasanya belum lama. Waktu yang berlalu dan ruang yang terpisah, tak mampu menghempas setiap lembar kisah. Ia telah menjadi catatan sejarah. Pun, andai tak kita tulis dalam deretan kata, ia akan tetap terselip indah, tak terlupa. Sebab, ia begitu memesona.

Ya, kebersamaan kita itu umpama puisi cinta. Diksinya terpilih dan sarat makna. Pertemuan yang menggoda. Kita mengawali pada sebuah pagi yang istimewa. Kita keluar dari dormitory, berbaris di halaman serupa bocah. Celetukan dan tawa kecil terdengar sangat bahagia. Dingin menerpa. Tangan bersedekap atau kita masukkan ke dalam saku jaket agar rasa dingin tak berkuasa.

Langkah kaki  kita melintasi jalanan kampus di sela pepohonan yang rerantingnya membentuk lukisan indah, Daunnya telah tiada. Ia jatuh ke tanah. Musim gugur sebelumnya telah melepasnya. Sebagian dedaunan kering masih tersisa, terserak di bawah batang pohonnya. Hanya beberapa jenis pohon yang masih mampu mempertahankan dedaunnya.

Ada cahaya tipis dari matahari yang masih malu-malu membuka  wajahnya. Cahayanya berpendar, berkilatan di antara reranting dan menyapa bangunan-bangunan yang dominan krem warnanya. Angin berhembus pelan menambah dingin yang harus kita tahan. Sebuah romantisme yang tak biasa. Kita sangat berbahagia.

Kita sedang di tempat yang berbeda, Saudara. Sebuah tempat yang tak pernah kita bayangkan untuk menjangkaunya. Sebuah titik di mana peradaban manusia berlangsung begitu hebat dan bukti berbagai kejayaannya masih tampak kokoh dan perkasa. Dan, kita di sini. Kaki kita menapaki tanahnya. Tanah sebuah negeri yang sejak kecil kita eja namanya. Ia bernama China. Nama itu begitu akrab di lidah dan telinga. Hadis tentang menuntut ilmu yang menyebutkannya. Hampir semua kita menghafalnya. Sekurangnya kita paham artinya, “Tuntutlah ilmu walau sampai negeri China.”

Xuzhou.

Kota ini yang di kemudian hari kita rindukan. Hati kita tertambat. Andai tidak jauh, barangkali kita sudah bolak-balik ke sana. Ada banyak hal yang kita dapatkan dan bawa pulang: pengetahuan, wawasan, dan lainnya, termasuk souvenir beragam tiga yuan. Namun, ada sepenggal kisah yang harus kita tinggal. Ada saudara-saudara baru kita yang wajahnya tak terlupakan. Ada teriakan-teriakan ajakan yang terus mengiang. Go, go, go! Ayok, ayok, ayok! Kita bergegas, sebagian berlarian, tertawa menghalau lelah. Lalu, kita memilih tempat paling asyik  di bus, persis anak sekolah.

Pagi dari atas dormitory                      Senja di Xue Cheng Lu Street (3 yuan lurus)

Xuzhou memamerkan kemolekannya. Sebagai pehobi fotografi, saya cukup dimanjakkan setiap sudutnya. Sekian banyak folder foto yang berisi ratusan foto indah ada di dokumentasi saya. Meski hanya menggunakan smartphone untuk memotretnya, karena kamera yang kubawa ngambek sejak hari pertama, tetapi tak apalah. Kecantikan objeknya tetap tergambar nyata.

Rahman, Pateson, Chano. Apa kabar kalian?

Kita berasal dari negara yang berbeda, tapi rasa persaudaraan begitu dekatnya. Meski tak lama, tapi kita menjadi keluarga. Apa yang kalian rasa sepertinya serupa dengan yang kami rasa. Kalian orang jauh: Rahman (Yemen/Yaman), Pateson Vades (Cameroon), dan Chano (Mozambik). Kita dipertemukan di Xuzhou dalam kedekatan yang membuat hati dan raga tak ingin berpisah. Kalian benar-benar menjadi pendamping istimewa. Tidak ada yang tidak terlayani. Rasanya kadang kami yang tak tahu diri. Tak memerhatikan waktu dan bagaimana lelahnya raga kalian. Kami minta diantar ke sana, ke sini, minta tolong ini, itu, tanpa tahu waktu. Akan tetapi, kalian baik-baik saja. Tak kenal lelah. Padahal, sesekali wajahmu kusut. Lelah yang kau abaikan. Kalian memang jagoan. Rasanya, waktu itu, sekalian ingin kami “kemasi” kalian. Lalu, membawamu pulang agar jarak tak membentang panjang, agar rindu ini tak melelahkan. Semoga kalian sehat dan sukses selalu adik-adik  tercinta.

 

 

Mr. Wang dan Miss Mona.

Mr. Wang yang cocok jadi peragawan, Miss Mona yang lembut dan keibuan, dan rekan-rekan dari CUMT apa kabar, ya? Semoga sehat selalu dan sukses juga, amin. Oh, ya, tentang Miss Mona, aku berjanji kepada seorang kawan (peserta) akan menuliskan namanya menjadi salah satu tokoh cerita. Maafkan, masih tertunda. Percayalah, aku masih mencatatnya. “Masihkah terpampang bayangan indah di langit-langit kamarmu?” (Sssst…, jangan kepo!)

Selanjutnya, izinkan saya menggunakan “aku” dan “kalian” kepada Bapak-ibu sebagai bentuk keakraban. Sama sekali tak bermaksud mengurangi rasa penghormatan. Maafkan.

Sengaja aku tak ceritakan pengalaman mendapatkan ilmu dan wawasan yang begitu beragam. Saudara-saudaraku semua telah saling melengkapkan. Menulisnya dalam kisah perjalanan yang begitu menawan. Semuanya hebat, penuh semangat. Kagumku, haruku, dipertemukan Tuhan dengan guru-guru luar biasa dengan berbagai keahlian. Biar aku berkisah tentang hati yang tertawan pada semua yang menjadi kisah perjalanan.

Aku bangga pernah bertemu dan bersama kalian. Memang, China telah memberikan pelajaran dan wawasan global. Akan tetapi, adamu telah menyempurnakan. Teman-teman hebat dengan berbagai prestasi maupun pengalaman. Itu adalah sebuah pelajaran tersendiri yang menurutku menjadi nilai yang tak bisa diangkakan. Kisah kalian yang telah menjadi juara ini-itu, menulis atau melakukan penelitian ini-itu, dan telah menjadi ini-itu, dengan perjuangan yang begitu melelahkan, memang harusnya ditulis dan dibukukan agar  bisa menjadi pembelajaran bagi banyak orang. Mereka adalah anak-anak kita, para siswa, rekan sejawat, dan yang peduli kepada pendidikan.

Banyak di antara kita yang berasal dari pelosok jauh atau dari kampung yang tak diperhitungkan. Mas Jaka Afriana, misalnya. Beruntunglah engkau bisa mengabdi di tanah kelahiran. Meski lokasinya jauh dari perkotaan, tapi nyali untuk berprestasi membawamu melintasi lautan. Kau menyebutnya “Guru Kampung Go Internasional”. Keren! Ibu Zalna Fitri yang semula diremehkan, akhirnya bisa membuktikan bahwa ia layak diperhitungkan. Ibu Tri Agustin, guru pinggir hutan, tapi sangat antusias dan membanggakan. Ibu Nani, guru muda yang terus bersemangat untuk berkreasi dan berprestasi, meski setiap hari pulang-pergi naik motor berpuluh kilometer menuju sekolahnya. Pak Hamzah yang jiwanya menggelora, tampak api semangat yang membara. Teman-teman lain kisahnya juga sangat inspiratif dan mengharukan. Kalian memang layak mendapat penghargaan. Mohon maaf, tak kusebut namamu satu per satu. I love you.

Tak semua harus berbentuk kejuaraan atau perlombaan, lalu  menjadi pemenang. Sebab, perjuangan menjadikan siswa menjadi berpengetahuan, sementara dalam waktu yang bersamaan kita juga berjuang memenuhi kehidupan, itu juga sebuah kemenangan. Kemenangan yang sangat mulia dan tak patut diremehkan. Pak Sarno, saudaraku, aku gerimis membaca kisahmu. Aku bangga.

Untuk saudaraku semua, “Tahu enggak, kalian itu gokil, bro…!”

 

Kita bisa saling belajar tentang kreativitas, inovasi, semangat, dan perjuangan yang tidak mudah. Prestasi bukanlah hadiah. Ia adalah wujud dari usaha dan doa-doa. Kita beruntung karena berkesempatan melakukan perjalanan dan belajar bersama. Kita telah mendapatkan banyak hal. Harus kita ingat bahwa perjalanan itu bukan sekadar melihat pemandangan baru, tetapi membuka mata baru. Semoga apa yang sudah kita lihat dapat menjadi bekal untuk memandang segala sesuatu dengan lebih terbuka dan kreatif.

Ada beberapa hal penting yang mengiang sepulang dari China. Misalnya, teman-teman tentu masih mencatat tagline ini: cinta adalah pondasi kerja guru. Guru: love and respect. Guru adalah inisiator perubahan: mengawal diri dan siswa untuk mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin. Belajar tidak takut mati, artinya dalam belajar harus tangguh dan pantang menyerah. Pembelajaran didesain bukan sekadar inovatif dan produktif, tetapi harus bermakna dan mudah dicerna. Yang dikembangkan: membentuk karakter, merangsang minat, membangun percaya diri, berorientasi pada kualitas yang tinggi, dan optimis. Yang dibiasakan: berpikir kritis, keterampilan komunikasi verbal, berbagi pandangan, gigih, dan giat. Saya mencetak tabal frasa komunikasi verbal karena itu sangat tampak dalam pembelajaran. Hal ini bermakna bahwa keterampilan berbicara sangat dipentingkan. Agar pemahaman siswa komprehensif, pembelajaran dilaksanakan benar-benar dengan multicara atau metode. Kreativitas, objektivitas, dan umpan balik adalah beberapa contoh hal penting  yang harus dibudayakan. Bakat dikawal sejak dini. Satu lagi yang kita saksikan, teknologi canggih tidak membunuh karakter baik siswa. Ini adalah pekerjaan rumah yang berat buat kita, orang tua, dan Indonesia.

Ingat kata Pak Praptono, biaya untuk memberangkatkan kita itu tidak murah. Oleh karena itu, kita harus mampu menjadi sosok pencerah yang lebih baik dan bermanfaat. Kita harus mampu berbagi ilmu atau pengalaman  sekaligus memberi motivasi kepada rekan sejawat dan mengajar dengan penuh cinta kepada para siswa.

Itu sebagian besar sudah terbukti. Pada reuni virtual yang digagas Om Jay (Wijaya Kusumah) pada 20 September 2020, kita dengarkan kiprah teman-teman di daerah masing-masing. Semua semakin cemerlang dan kompeten. Ada yang juara lomba lagi, menulis buku lagi, menjadi kepala sekolah, pengawas, berpindah ke kantor Dinas Pendidikan, dan lain-lain. Luar biasa.

Oh, ya, ini tentang Om Jay. Konsistensinya dalam menulis perlu kita tiru. Guru blogger Indonesia ini sungguh-sungguh dalam menjalani pilihan sebagai penulis. Ini tidak mudah, tapi Om Jay telah membuktikannya. Selama belajar di CUMT, saya dibuat kagum karena setiap hari keluar tulisannya di blog. Sampai hari ini, beliau juga bersemangat menjadi mentor bagi teman-teman guru yang ingin belajar menulis. Salut!

 

 

Beijing dan sedikit kisah.

Waktu itu kita berkesempatan melakukan perjalanan ke Beijing dengan tujuan utama melihat kebesaran Tembok China (Great Wall), teman-teman yang ikut berkesempatan berkunjung ke Kedutaan Besar Indonesai di Beijing. Saat itu, kita bertemu dengan Bapak Dr. Yaya Sutarya, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Beijing. Saya biasa memanggil namanya saja, Yayak. Dia memanggil saya Mas Hakim. Dia adik kelas saya, berbeda jurusan, di fakultas yang sama, yaitu di FPBS IKIP Malang (Uniiversitas Negeri Malang). Kami juga aktif dalam kegiatan yang sama, yaitu kepenulisan. Sewaktu lulus, tanpa direncanakan, sama-sama merantau ke Kalimantan Timur. Jadi, kami masih sering bertemu. Singkatnya, setelah menjadi kepala SMP di Sangatta, Kutai Timur, ia diterima sebagai kepala sekolah Indonesia yang dikelola Kedubes Indonesia di Singapura. Setelah itu, ia pindah di Kemdiknas, lalu ke Beijing.

Allah sudah mengaturnya untuk bertemu lagi setelah sekian lama tidak berjumpa. Terakhir, sudah lama sekali, saya bertemu dengannya di Singapura dan mendapatkan layanan istimewa, diantar berkeliling negeri singa, termasuk mengunjungi kedutaan. Nah, tiba saatnya dapat rezeki belajar di China, Mas Yayak tengah bertugas di sana. Alhamdulillah. Berbagai kemudahan dan fasilitas lainnya selama berkunjung ke Beijing adalah atas jasanya. Terima kasih saudaraku. Sukses selalu!

Tentu ada sedikit pelajaran yang hendak saya sampaikan dari sosok yang dulunya adalah guru dan kepala sekolah yang inovatif dan visioner ini. Yang saya tahu, sejak kuliah Mas Yayak adalah pekerja keras, berani mencoba, dan sungguh-sungguh. Tidak hanya di bidang pendidikan, semasa masih di Kalimantan, dia sukses sebagai entrepreneur. Pengalamannya banyak. Tak heran jika kariernya bagus. Serupa kisah teman-teman, hanya berbeda jalurnya. Intinya, yang sungguh-sungguh dalam berusaha akan mendapatkan keberkahan dan keajaiban dari Tuhan, sesuatu yang tak disangka-sangka.

Tentang dua sosok istimewa.

Teman-teman, saatnya kita ngegosipin Mas Hery Azhar dan Mbak Rohmi dari Kemendikbud. Mumpung orangnya tidak ada. Jangan keras-keras, sebentar lagi mereka akan kembali dari Lotus (salah satu mal dekat kampus).

Apa yang bisa kita katakan tentang mereka? Terlalu banyak jika harus kita rinci. Intinya, Mas Hery dan Mbak Rohmi adalah teman perjalanan yang sangat baik. Jika kita mengaggap keduanya sebagai teman, semoga mereka tidak mengartikan sebagai tindakan kurang ajar, ya, hehehe. Kita yakin, mas Hery dan Mbak Rohmi sangat paham soal itu. Mereka ini selalu ada buat kita. Berbaur, tanpa sekat, tetapi kita tetap hormat. Mereka yang membuat perjalanan kita menjadi terasa tidak berat. Mereka ini ngemong, padahal masih muda. Benar, kan? Menjawab tidak, jewer lho, hehehe. Terima kasih ya, Mas Hery dan Mbak Rohmi. Kapan lagi kita jalan bersama?

 

Mas Her, terima kasih sudah menyorot nama-nama kami di tabel excel untuk mengikuti program pelatihan di CUMT yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Bapak dan Ibu bisa terpilih dari sekian banyak nama yang ada pada hari itu merupakan garis takdir,” ujar Mas Hery saat reuni. Saya termasuk yang beruntung karena ditelepon saat daftar nama peserta sebelumnya sudah keluar. Saya mengira sudah terlewati. Alhamdulillah.

Musim semi tiba.

Kita sampai di Xuzhou saat musim gugur telah berlalu. Kita tak berkesempatan menikmati elok dedaun berguguran dan salju yang konon juga turun di kota ini. Kita memasuki awal musim semi. Dari info yang kita dapatkan, saat program pendidikan kita usai, bunga-bunga belum bermekaran karena diperkirakan baru terjadi pada akhir Maret atau awal April. Ya, hati serasa kecewa. Namun, Allah Mahakuasa, sebelum kita mengangkat kaki dari kota ini, kita disuguhkan pemadangan elok nan menawan. Pepohonan berbunga di mana-mana. Beberapa taman penuh bunga yang kita datangi ramai dikunjungi warga. Kita bahagia dapat menatap dekat keindahannya dan mendokumetasikan dalam foto-foto cantik yang selalu membangkitkan ingin untuk kembali menikmatinya. MasyaAllah.

Epilog.

Tanggal 24 Maret 2019. Kami berkemas. Dormitory, CUMT, para panitia, Xuzhou, dengan berat hati kami harus berucap selamat tinggal. Chano, kamu tidak ikut mengantar kami menuju Bandara Nanjing karena sedang ada tugas kuliah hari itu. Kami sedih. Pasti kamu juga. Chano, meski Bahasa Inggrismu agak terbata, tapi ketulusanmu tak terbantah. Kami bersyukur karena Rahman dan Pateson berkesempatan mengawal kami untuk terakhir kali.

Selain kisah bersama, pasti teman-teman punya kisah tersendiri yang berbeda. Pun, dengan saya. Ini sedikit kisahnya. Sejak pertama bertemu, saya langsung akrab dengan Rahman. Tepatnya, saat dijemput di Nanjing, lalu kami naik bus menuju Xuzhou. Saat di bis, kami ngobrol, lumayan akrab untuk sebuah first impression. Kebetulan bus longgar, Rahman duduk di kursi bersebelahan dengan saya, berbatas lorong tengah. Kami tertawa-tawa, saat saya katakan bahwa kami bersaudara karena namanya sama-sama ada Abdul-nya.

Saya sodorkan telepon genggap (TG) saya saat berkenalan, saya buka note. Lalu, Rahman menuliskan nama lengkapnya, yaitu Abdulrahman Ahmed Barman, dilanjutkan dengan menulis nationality, university, email, dan social media. Tulisan itu masih tersimpan.

Saat ngobrol, sudah tentu saya dengan bahasa Inggris yang terbatas (tolong, Mbak Omi jangan tertawa soal ini, ya! Ingat tidak kejadian di mal malam itu?). Untungnya, ada google translate. Kebetulan, saat mulai ngobrol, TG saya baterainya akan habis, Rahman menawarkan untuk meminjamkan power bank untuk saya pakai. Bonusnya, Rahman juga menawari wifi dari telepon genggamnya. Sempurna. Alhamdulillah. Oh, ya, karena saya tidak membawa power bank, selama di Xuzhou, saat di perjalanan, saya sering diberi pinjaman oleh Mbak Omi yang baik dan tidak sombong. Terima kasih, ya, Mbak.

Sejak saat itu kami lumayan akrab. Dari umurnya, Rahman ini cocok sebagai adik. Iseng, saya ajari dia memanggil mas kepada saya, Mas Hakim, hehehe. Beberapa kali, selepas makan siang, dia salat zuhur di kamar kami, kamar saya bersama Kakak Ki Sutopo.

Kembali ke Bandara Nanjing.

Setelah kami berjibaku di kereta cepat dengan barang bawaan, naik turun tangga manual dan escalator, akhirnya sampailah kami di Bandara Nanjing. Kami antre untuk mendapatkan tiket dan memasukkan bagasi. Beberapa dari kami, travel bag-nya dibongkar secara random, termasuk saya mendapat “rezeki” itu. Padahal, sudah dikemas cukup baik. Gara-garanya soal barang sepele, seperti tempelan kulkas atau sejenisnya.

 

 

Saatnya tiba, kami berpisah. Rahman dan Pateson juga harus segera kembali agar tidak tertinggal kereta menuju Xuzhou. Rasanya mereka juga teramat berat meninggalkan kami. Foto lagi dan foto lagi. Teman-teman menyalaminya. Ada juga beberapa yang memeluknya. Tetiba Rahman bergeser agak menjauh, kudekati. Ada sembab di matanya. Kupeluk. Gerimis menjadi pecah. Sebagian teman-teman menangis melepasnya. Meski tak seperti Rahman, tampak jelas Pateson pun menyimpan kesedihan. Kami lambaikan tangan kepada mereka. Dua lelaki setia dalam perjalanan kami itu lenyap di ujung belokan. Pertemuan terakhir. Berharap suatu saat kami bisa berjumpa lagi. Amin.

Sesaat lagi pesawat akan berangkat. Kubuka TG. Kulihat foto-foto pada galeri. Foto terakhir, saat berfoto bersama teman-teman, mata Rahman begitu sembab. Selamat tinggal, bro! Sukses selalu! Hari itu kamu tampak rapi. Kemeja abu dan sweter hitam garis biru yang kau kenakan tampak keren. Gelangmu juga.

Saudaraku semua, aku dan kamu adalah kita. Xuzhou menjadi latarnya. Biar kita terjebak dalam rindu yang dibatasi tanda koma. Jangan biarkan tanda titik mengakhirinya. Pada tempat dan waktu yang masih rahasia, semoga kita dapat kembali bersua dan tertawa bersama. Amin.

Belajarlah seolah-olah tidak akan pernah bisa menguasainya; tahan seolah-olah Anda takut kehilangannya – Conficius

 

Tentang Abdul Hakim

Abdul Hakim adalah guru Bahasa Indonesia di SMP Yayasan Pupuk Kaltim, Bontang, Kalimantan Timur. Prestasinya antara lain: Juara Lomba Kreativitas Guru dalam Pembelajaran Tingkat Nasional (2009, 2006), Juara Inovasi Pembelajaran Tingkat Kaltim, finalis nasional (2006), Juara Desain Kartu dan Ucapan Tahun Baru Hijriah Tingkat Nasional oleh Kantor Pos Indonesia, Penerima Penghargaan Guru Berjasa Kaltim (2010), Penerima Anugerah Kaltim Education Award (2010), Penerima Intel Education Award dalam Pemilihan Guru Berprestasi Nasional oleh Kemendiknas dan Intel Indonesia Coorporation (2010), Sepuluh Karya Terbaik National Competition of Technology Integration (NACTI, 2011), Juara 3 Olimpiade Guru Nasional (2018), Peserta Training Program in China University of Mining and Technology (CUMT, 2019), Juara 2 Lomba Memotivasi Siswa “Bangga Berbahasa Indonesia” Tingkat Kaltim dan Kaltara oleh Kantor Bahasa Provinsi Kaltim (2020), Juara 1 Lomba Vlog “Cerdas Berbahasa” Tingkat Kaltim dan Kaltara oleh Kantor Bahasa Provinsi Kaltim (2020), dan beberapa kejuaran bidang kepenulisan, foto, desain, dan olahraga.

 

Pos elektronik – hakimborne@gmail.com

Instagram & Twitter – @hakimborneo

Youtube – Guru Indonesia

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan