Kemandirian di bidang TIK Harus Dimulai dengan Belajar Informatika

 

KEMANDIRIAN BANGSA INDONESIA DI BIDANG TIK DALAM MENYATUKAN NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA HARUS DIMULAI DENGAN BELAJAR INFORMATIKA

Oleh: Wijaya Kusumah (Sekjen Ikatan Guru TIK PGRI/Komunitas Guru TIK dan KKPI)

 

PENDAHULUAN

Bangsa yang mandiri adalah bangsa yang maju di bidang teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Bangsa yang percaya dengan kemampuan dirinya dengan sebuah kemandirian di bidang TIK. Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia dan posisinya yang sangat strategis. Wilayahnya berada di tengah-tengah dunia. Indonesia berada di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia. Juga di antara dua samudera yakni samudera Hindia dan samudera Pasifik. Pulau-pulau Indonesia berjajar melintang dari Sabang hingga Merauke. Indahnya tanah air beta terlihat dari berjajar pulau-pulau dari Miangas hingga Rote. Posisi yang strategis ini akan mudah terkelola dengan baik, bila Indonesia memiliki kemandirian di bidang TIK.

 

Indonesia terdiri atas 17.504 pulau besar dan kecil, lebih dari 746 bahasa daerah, 1.340 suku dengan adat istiadatnya yang berbeda-beda, 6 agama besar yang diakui pemerintah,   dan ratusan aliran penghayat kepercayaan. Semua itu dipersatukan karena Indonesia memiliki 4 (empat) konsensus nasional yang menjadi dasar dalam kehidupan bernegara, berbangsa dan bermasyarakat yakni Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). TIK menjadi alat pemersatu bangsa agar bisa saling berkomunikasi dan memberikan informasi terkini. Kita harus memulianya dengan belajar Informatika.

 

Implementasi Nilai-Nilai Kebangsaan Yang Bersumber dari NKRI (Nilai Kesatuan Wilayah, Persatuan bangsa dan Kemandirian) terbukti dapat meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pada judul ini pokok bahasan berfokus pada Kemandirian bangsa Indonesia di bidang TIK yang dihadapkan pada kondisi riil saat ini. Indonesia harus mampu menciptakan inovasi baru di bidang TIK sehingga TIK dapat digunakan sebagai alat pemersatu bangsa dalam bingkai NKRI dan diajarkan di sekolah/kampus. Mulai dari anak usia dini hingga perguruan tingi sudah harus belajar informatika.

 

Kemandirian bangsa Indonesia di bidang TIK nampaknya belum serius kita laksanakan. Hal ini terlihat dari kondisi kita pada saat ini. Pandemi covid-19 telah memaksa kita untuk belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah. Produk-produk TIK dari luar negeri menjamur dan menyerbu Indonesia. Kita hanya mampu menjadi bangsa pengguna. Kita belum mampu move on untuk menjadi bangsa pencipta TIK. Dalam makalah ini, kita akan membahasnya secara utuh dari kacamata seorang guru TIK yang ingin bangsanya maju. Tidak lebih dari itu.

 

PEMBAHASAN

 

Kemandirian merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam setiap proses kehidupan. Meski manusia terlahir membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya, seiring dengan berjalannya waktu dan tugas perkembangan, seorang remaja akan perlahan melepaskan diri dari beberapa ketergantungan, seperti orangtua dengan belajar untuk mandiri. Steinberg dalam buku Adolescene (2002) menyebutkan pengertian kemandirian adalah kemampuan dalam berpikir, merasakan dan membuat keputusan secara pribadi berdasarkan diri sendiri dibandingkan mengikuti apa yang orang lain percayai. Kemandirian sering disejajarkan dengan kata independence meskipun sebenarnya ada perbedaan tipis dengan autonomy.

 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kemandirian diartikan dengan hal atau keadaan seseorang dapat berdiri sendiri atau tidak bergantung kepada orang lain. Artinya kemandirian adalah kesiapan dan kemampuan individu untuk berdiri sendiri yang ditandai dengan mengambil inisiatif. Selain itu mencoba mengatasi masalah tanpa meminta bantuan orang lain, berusaha dan mengarahkan tingkah laku menuju kesempurnaan.

 

Kemandirian bangsa Indonesia di Bidang TIK menjadi hal penting yang ingin dibahas secara mendalam dalam makalah ini. Kemandirian adalah topik yang saya dapat dari panitia pelatihan untuk pelatih di LEMHANNAS. Sebuah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Saya coba cari tahu di google.com. Wah sudah banyak yang menuliskannya. Namun menulis kemandirian di bidang TIK masih sedikit yang menuliskannya.

 

Mungkin karena banyak orang belum tahu apa itu TIK. Sebuah mata pelajaran yang dihapuskan dalam kurikulum 2013 dan diganti Prakarya. Komunitas guru TIK terus berjuang mengembalikannya. Ada yang pro dan ada yang kontra menerimanya. Kami tetap berjalan saja. Tugas kami hanya menyampaikan pentingnya TIK untuk kemandirian bangsa. Bila tidak menerimanya tidak apa-apa. Nanti jug akan terasa akan pentingnya TIK dalam kehidupan kita.

 

Teknologi Informasi dan Komunikasi menjadi sesuatu yang penting dalam kemandirian bangsa. Jujur saja, bangsa Indonesia belum mandiri di bidang TIK. Kita masih tergantung dengan negara lain. Sebab generasi emas kita tak diajarkan TIK. Boro-boro menyiapkan generasi emas, kita hanya melahirkan generasi cemas dan lemas. Itulah yang saya sampaikan ketika diundang di acara diskusi bersama pejabat kemdikbud di BeritaSatu TV 6 tahun lalu.

 

 

Contohnya aplikasi whatsapp atau WA yang kita pakai sehari sehari. Bukan orang Indonesia yang menemukannya. Juga aplikasi zoom yang kita gunakan dalam pelatihan virtual juga bukan buatan Indonesia. Masih sangat sedikit aplikasi buatan Indonesia yang digunakan sehari-hari. Hal ini dikarenakan kita belum serius untuk belajar TIK. Kita masih tergantung kepada bangsa lainnya. Kalaupun ada buatan Indonesia, kita terkadang tak percaya diri menggunakannya. Akhirnya produk-produk TIK INdonesia tidak berkembang, karena kalah di negeri sendiri.

 

Kita sebagai bangsa belum mandiri di bidang TIK. Oleh karena itulah kami berjuang mengembalikannya ke dalam kurikulum dengan nama INFORMATIKA. Alhamdulillah sudah keluar permendikbudnya nomor 35 dan 37 tahun 2018. Namun demikian, belum semua sekolah memberlakukannya karena minimnya sosialisasi dan kurangnya kesadaran kita untuk mandiri di bidang TIK.

 

 

Luasnya wilayah indonesia seharusnya dapat dengan mudah dikelola dengan adanya TIK. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbentuk kepulauan akan dengan mudah terkoneksi bila kita belajar TIK. Bukan hanya sebagai pengguna produk TIK saja, tapi juga menjadi produsen di bidang TIK. Untuk beralih menjadi produsen TIK, tentu saja ilmunya wajib kita pelajari, dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

 

Kemandirian di bidang sandang, pangan, dan papan memang sangat penting. Namun kemandirian bangsa Indonesia di bidang TIK juga tidak kalah penting. Internet adalah bagian dari TIK yang harus dimanfaatkan untuk saling berkomunikasi dan berbagi informasi. Sama halnya dengan kemandirian di bidang kesehatan. Ini menjadi penting supaya kita tak tergantung dari produk-produk luar negeri. Seperti baju yang dipakai dokter di saat menangani pasien Covid-19, dan obat-obatannya. Kita harus mampu membuat anti virusnya di negeri sendiri.

 

Pelatihan pemantapan nilai-nilai kebangsaan lembaga pertahanan nasional republik indonesia yang dilakukan secara virtual memberi sinyal akan pentingnya kemandirian di bidang TIK. Peserta dari seluruh Indonesia bergabung dalam kegiatan ini. Jarak yang jauh menjadi terasa dekat. Kita berdiskusi dan saling melengkapi agar nilai-nilai kebangsaan terpatri dalam sanubari manusia Indonesia.

 

Perkembangan TIK yang pesat menyatukan NKRI menjadi harga mati. Tak boleh lagi ada daerah yang memerdekan diri seperti Timor-Timor. Tak ada lagi pulau-pulau di wilayah Indonesia yang diakui oleh negara lainnya. TIK dengan kecanggihannya dapat membuat kita bangga melindungi wilayah Indonesia. Musuh yang akan menyerang, akan dengan mudah tertangkap radar. Semua itu akan terwujud bila kita belajar. Mau mendengar dan sadar akan pentingnya TIK dalam kehidupan sehari-hari di -bumi yang bundar.

 

Penguasaan TIK dapat meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Hal itu sudah pasti dan tidak perlu diperdebatkan lagi. Oleh karena itu kemandirian kita di bidang TIK harus terus ditingkatkan sebagai bangsa. Caranya ajarkan generasi emas Indonesia dengan belajar informatika. Mereka sudah harus berpikir bagaimana sebuah algoritma bekerja. Salah satunya penggunaan uang digital dalam kehidupan sehari-hari.

 

Ayo belajar informatika menjadi salah satu cara kita untuk mandiri di bidang TIK. Revolusi industri 4.0 telah berdampak kepada cara kita berinteraksi antar manusia. Coding menjadi penting. Literasi digital harus diperkenalkan. Media sosial harus dimanfaatkan untuk memperkuat NKRI, dan bukan untuk memecah belah persatuan bangsa. Berita hoax harus ditangkal dengan berita baik dan benar. Gerakan nasional Literasi digital harus terus dikampenyakan agar kita menjadi bangsa yang mandiri di bidang TIK.

 

Kemandirian bangsa Indonesia di bidang TIK dalam menyatukan NKRI adalah sebuah keniscayaan. Adanya wabah covid-19 membuat kita dipaksa untuk memacu dan memicu ketertinggalan kita di bidang TIK. Banyak orang dipaksa untuk menguasai aplikasi baru. Kelas nyata berubah menjadi kelas maya dalam sebuah kelas online yang tetap mempertahankan karakter bangsa. Literasi, numerasi, dan karakter harus tetap menjadi fokus dalam PJJ.

 

Sekarang ini sekolah dan kampus ditutup dalam waktu yang cukup lama. Guru dan siswa belajar dari rumah. Begitu juga dosen dan mahasiswa. Pemanfaatan TIK sangat terasa dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ). Guru diminta untuk membuat pola pembelajaran yang efektif dari rumah. PJJ yang efektif dan menyenangkan mulai banyak dibuat para akademisi dalam kegiatan webinar yang selalu bersinar.

 

 

Ada 4 kekuatan manusia yang harus kita kembangkan dalam kemandirian di bidang TIK. Keempat kekuatan itu adalah pikiran, perkataan, perasaan dan perbuatan. Bila kita mampu menyatukannya, maka kita akan menjadi bangsa yang kuat di bidang TIK. Logika berpikir kita menjadi terlatih dan mampu membuat algoritma dalam kehidupan nyata. Kita tak terasa menjadi seorang programer komputer yang mampu merancang kesuksesan dalam kehidupan.

 

Kelas maya dibuka secara virtual dengan berbagai macam aplikasi. Namun tak ada satupun buatan Indonesia. Kita baru sebatas mampu menggunakannya. Kita belum bisa beralih ke bangsa pencipta, bila kita tidak mandiri di bidang TIK. Itulah kenyataan pahit yang harus kita telan saat ini. Semoga dapat menjadi obat agar kita mandiri di bidang TIK. Aamiin.

 

PENUTUP

 

Akhirnya saya harus menutup tulisan saya ini dengan sebuah ajakan agar kita mulai belajar dan menguasai TIK. Kemandirian bangsa di bidang TIK harus digunakan untuk menyatukan NKRI harga mati. Bukan hanya sekedar slogan atau jargon tapi juga dalam tindakan nyata membangun infrastruktur akses internet cepat. Orang Indonesia akan lebih banyak tinggal dan kembali ke desa. Mereka menikmati fasilitas TIK yang canggih karena kita telah mandiri di bidang TIK. Kalau kemandirian ini bisa dilakukan, maka akan banyak orang pindah dari kota ke desa. Mereka yang jauh dari pusat kota dan keramaian, tetap bisa terkoneksi dengan akses internet cepat dan berbagai aplikasi canggih saat ini.

 

 

KESIMPULAN

Teknologi Informasi dan Komunikasi menjadi sesuatu yang penting dalam kemandirian bangsa. Kemandirian bangsa Indonesia di bidang TIK dalam menyatukan NKRI adalah sebuah keniscayaan. Adanya wabah covid-19 membuat kita dipaksa untuk memacu dan memicu ketertinggalan kita di bidang TIK. Banyak orang dipaksa untuk menguasai aplikasi baru. Kelas nyata berubah menjadi kelas maya dalam sebuah kelas online yang tetap mempertahankan karakter bangsa. Literasi, numerasi, dan karakter harus tetap menjadi fokus dalam PJJ. Semua orang akan saling terhubung dengan mudah walaupun jaraknya berjauhan.

 

Pelatihan pemantapan nilai-nilai kebangsaan lembaga pertahanan nasional republik indonesia yang dilakukan secara virtual memberi sinyal akan pentingnya kemandirian di bidang TIK. Peserta dari seluruh Indonesia bergabung dalam kegiatan ini. Jarak yang jauh menjadi terasa dekat. Kita berdiskusi dari tempatnya masing-masing. Sesuatu yang dulu belum pernah kita lakukan sebelum era pandemi covid-19.

 

 

SARAN

 

Ayo belajar informatika menjadi salah satu cara kita untuk mandiri di bidang TIK. Revolusi industri 4.0 telah berdampak kepada cara kita berinteraksi antar manusia. Coding menjadi penting. Literasi digital harus diperkenalkan. Media sosial harus dimanfaatkan untuk memperkuat NKRI, dan bukan untuk memecah belah persatuan bangsa. Berita hoax harus ditanggkal dengan berita baik dan benar. Gerakan nasional Literasi digital harus terus dikampenyakan agar kita menjadi bangsa yang mandiri di bidang TIK.

 

Kelas maya dibuka secara virtual dengan berbagai macam aplikasi. Namun tak ada satupun buatan Indonesia. Kita baru sebatas mampu menggunakannya. Kita belum bisa beralih ke bangsa pencipta, bila kita tidak mandiri di bidang TIK. Itulah kenyataan pahit yang harus kita telan saat ini. Semoga dapat menjadi obat agar kita mandiri di bidang TIK.

 

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu  bisa dilihat dari kesibukan Revolusi Industri 4.0, Society 5.0, Masyarakat 5.0, dan ekonomi global yang bergerak bebas tanpa batas. Sekarang ini mulai tak ada batas negara. Kita bisa berkeliling dunia melewati dunia maya.

 

Berdasarkan gambaran mengenai resiko tersebut, maka diperlukan strategi aksi untuk kemandirian teknologi khususnya teknologi informasi : kesadaran (awareness), rencana (planning), dan tindakan (action) berupa langkah pencegahan (prevention), perlindungan (protection), pendeteksian (detection), penanggulangan (handling), dan pemulihan (recovery), agar dapat menghindari atau paling sedikit mengurangi dampak yang dapat terjadi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lembaga Ketahanan Nasional RI, Bidang Studi Empat Konsensus Dasar Bangsa, Sub Bidang Studi NKRI, Jakarta, 2020

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

https://www.kompas.com/skola/read/2020/03/02/190000869/pengertian-kemandirian-tahap-perkembangannya-dan-faktornya

https://www.gurupenggerakindonesia.com/kemandirian-bangsa-di-bidang-tik/

Tinggalkan Balasan