Menulis Itu Seperti BAB

Ya menulis itu seperti Buang Air Besar atau BAB, itu menurut saya. Karena menulis itu merupakan sebuah proses pencernaan dari melihat, mendengar, dan membaca, lalu mengendap dalam pikiran dan diolah, seperti halnya tubuh mencerna setiap makanan yang diterima.

Memposting dan membagikan tulisan di blog atau platform media, adalah sebuah proses pembuangannya, seperti halnya BAB. Merasa sangat lega kalau sudah dibuang dan dilepaskan. Tidak ada lagi beban dalam pikiran, tulus, dan ikhlas tanpa perlu memikirkannya.

Seperti juga BAB disembarangan tempat, akan menimbulkan persoalan, begitu juga sebuah tulisan kalau disebarkan ditempat yang tidak tepat, akan mengganggu kenyamanan orang lain, yang bisa menimbulkan persoalan.

Perbedaannya, kalau tulisan habis diposting dan dilepaskan, bisa dinikmati pembaca, minimal bisa dinikmati sendiri. Sementara BAB siapa yang mau menikmatinya?Jangankan orang lain, kita sendiripun tidak mungkin menikmatinya.

Persamaan menulis dengan BAB dalam konteks judul diatas hanyalah dalam pengertian saat terjadinya sebuah tulisan, mulai dari proses pencernaannya sampai pada proses pelepasannya.

Tulisan ini juga tidak perlu difahami secara serius, karena proses dari penulisannya sendiri juga seperti proses metabolisme didalam tubuh, termasuk juga sampai tulisan ini diposting, jadi nyantai aja bray..

Berawal dari melihat, membaca, merasakan, dan mendengar, selanjutnya mengendap dalam pikiran, lalu dituliskan, maka jadilah tulisan ini. Bisa dinikmati ya syukur, gak bisa dinikmati ya keterlaluan. Woles aja saya mah…

Saya sangat menikmati prosesnya, dan juga sangat menikmati saat mempostingnya, seperti halnya saat saya BAB. Sangat ringan saat menuliskannya, begitu juga saat mempostingnya, tanpa beban.

Memang menulis itu sebuah aktivitas yang penuh dengan suka cita, apalagi setelah diposting bisa dinikmati pembaca.
Kamu punya hambatan dalam menulis, ingatlah kata-kata bijak Pramoedya Ananta Tier dibawah ini;

Jangan takut menulis

“Semua harus ditulis, apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting, tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.”

Belum apa-apa, tapi sudah takut duluan. Takut tulisannya jelek. Takut tulisannya nggak diterima. Padahal pikiran-pikiran seperti itu hanya ada dipikiran saja. Kita tidak pernah tahu, apakah orang lain yang membacanya akan berpikiran sama seperti apa yang kita pikirkan?

Bisa saja, mereka yang membaca justru berpikiran sebaliknya. Menganggap karya atau ceritamu berguna untuk mereka atau setidaknya bisa menghibur.

Jadi, percayalah setiap tulisan, apa pun itu. Pasti punya manfaatnya. Walau kamu menganggap tulisanmu itu tidak bisa berguna untuk orang lain, tapi setidaknya tulisan itu bisa berguna untuk dirimu sendiri.

Setiap tulisan punya takdirnya sendiri, tidak perlu di pikirkan seperti apa nantinya takdir tulisan tersebut. Sama seperti BAB, sudah dilepaskan, jangan lagi di pikirkan, apa lagi dicium-cium baunya.

Saya kalau mengintip-ngintip kembali, semua tulisan yang terdokumentasi di Kompasiana, seakan tidak percaya pernah menulisakan artikel yang jumlahnya ribuan tersebut.

Bahkan ada artikel yang saat di posting, tingkat keterbacaannya rendah, tapi begitu lihat lagi sekarang, keterbacaannya malah di luar dugaan.

Itulah kenapa Pramoedya Ananta Toer pernah mengatakan, ‘setiap tulisan punya takdirnya sendiri,’ akan ditemukan, dan menemukan pembacanya sendiri. Tidak ada tulisan yang sia-sia, jika memang di niatkan untuk memberikan imformasi pada khalayak pembaca.

 

Tinggalkan Balasan

2 komentar