oleh

MOTHER THERESA: MENGENAL DIRI SENDIRI MEMBUAT KITA BERLUTUT DENGAN RENDAH HATI

-Edukasi-Telah Dibaca : 43 Orang

Gambar: dari aplikasi WA

Aku mendapat kiriman informasi ini melalui aplikasi WA. Informasi yang sudah lama tersimpan di arsip. Dan aku menemukannya kembali secara tidak sengaja ketika sedang mencari-cari sesuatu. Ya, kata orang pintar, blessing in disguise. Berkat yang tersembunyi.

Judul yang tertera terpampang di sana adalah: Cara-cara mencapai kerendahan hati. Kemudian diutarakan di bawahnya poin-poin yang harus dilakukan jika ingin memperoleh kerendahan hati. Atau sikap rendah hati yang mumpuni.

Lalu tulisan yang paling bawah adalah petikan kutipannya, yaitu: Mengenal diri sendiri membuat kita berlutut dengan rendah hati. Kita harus mengenal diri baru bisa memiliki kerendahan hati. Dengan kata lain, seseorang tak akan mungkin bersikap rendah hati jika ia tak mengenal dengan baik siapa dia sesungguhnya.

Kiranya tidak keliru bila kubilang bahwa sikap rendah hati itu tidak bisa diperoleh karena paksaan dari luar diri orang yang menginginkannya. Ia harus berani menaklukkan diri sebagai syarat mutlak menuju rendah hati. Dan langkah-langkah menaklukkan diri adalah seperti yang tertulis dalam gambar di atas.

Semua langkah yang tertera itu berasal dari Mother Theresa, sang Bunda sejagat. Ia tidak hanya menyampaikannya dalam bentuk kata-kata belaka. Ia telah melakukannya. Ia telah mempraktikkannya. Ia telah mengalahkan dunia dengan kerendahan hatinya. Ia sudah menaklukkan dunia dengan menaklukkan diri terlebih dahulu.

Semoga kita, kau dan aku, mampu mengimplementasikannya dalam keseharian kita. Supaya dengan begitu kita bisa memiliki kerendahan hati yang sejati. Bukan yang dibuat-buat. Bukan kerendahan hati yang dipaksakan. Tapi kerendahan hati sebagai gaya hidup.

Berikut langkah-langkahnya yang aku coba elaborasi semampuku. Sekiranya ada yang kurang pas, Anda bisa menyempurnakan dengan memberitahukanku lewat kolom komentar di akhir tulisan ini.

 Berbicara Sesedikit Mungkin Tentang Diri Sendiri

Berbicara adalah kebutuhan. Berbicara adalah upaya menyampaikan apa yang terkandung dalam hati dan pikiran. Lewat berbicara pula bisa ada saling memahami antarmanusia. Kita memahami orang lain dan mereka bisa mengerti kita.

Takada seorang pun di dunia ini yang tidak berbicara. Semua orang pasti berbicara, tak terkecuali teman-teman tunawicara. Mereka akan berusaha dengan segala cara agar orang lain bisa dan mau mengerti dirinya.

Yang jadi persoalan banyak orang senang berbicara tentang hal-hal negatif pada orang lain. Sebaliknya menonjolkan hal-hal yang baik-baik dari dirinya sendiri. Sebaiknya mari kita menyampaikan hal-hal positif dan membangun dari orang lain. Dan berbicaralah sesedikit mungkin tentang diri pribadi.

Uruslah Persoalan Pribadi

Ada sebuah frasa dalam bahasa Inggris menyatakan seperti ini: Think globally, but act locally. Arti harafiahnya: Berpikirlah yang luas mengglobal, tapi lakukanlah hal-hal yang ada di sekitar kita yang ada dan melekat pada diri kita. Jangan dibalik.

Faktanya di dalam kehidupan nyata, masih banyak orang yang hanya memikirkan diri sendiri dan/atau kelompoknya. Tapi mengurusi mengerecoki pekerjaan orang lain yang bukan bagiannya (bahasa birokrasinya, tupoksi). Ada juga yang bilang overlapping atau tumpang tindih.

Sebaiknya kita berfokus menyelesaikan apa yang menjadi kewajiban kita. Apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab itulah yang patut dikerjakan. Jangan memasuki areal persoalan atau tugas orang lain.

Hindari Rasa Ingin Tahu

Adalah normal jika seseorang ingin mengetahui sesuatu yang belum ada dalam perbendaharaannya. Sebab manusia diciptakan dengan rasa ingin tahu yang besar. Itu karena kemampuan akal dan berkehendak bebas yang Tuhan karuniakan. Makanya ia selalau ingin tahu. Istilah anak muda adalah kepo.

Fokus rasa ingin tahu yang positif adalah pada hal-hal yang membangun diri tapi tdak merusak orang. Sederhanya, jangan ingin tahu persoalan orang lain sebagai senjata untuk menjatuhkannya. Pribadi yang sehat adalah yang tidak mencari-cari persoalan atau yang tidak mau membesar-besarkan persoalan apa pun.

Jangan Mencampuri Urusan Orang Lain

Suka mencampuri urusan orang adalah tindakan mencelakakan diri sendiri juga orang lain. Apa kriteria mencampuri urusan orang? Ketika kita memasuki wilayah privasi orang artinya sudah mencampuri urusannya.

Bila seseorang yang memiliki beban persoalan tetapi dia tidak ingin menyampaikan kepada siapa pun adalah privasinya. Sesuatu yang tak boleh diketahui orang lain. Jika demikian maka hindarilah. Kata orangtua, jang merecoki sebab dia tidak membutuhkan bantuan.

Sebaliknya jika ia meminta pertolongan kita untuk memecahkan masalahnya, bolehlah dibantu. Sekiranya juga bila ia telah menceritakannya, maka biarlah itu menjadi rahasia berdua. Jangan disebarluaskan kepada orang lain.

Terimalah Pertentangan dengan Kegembiraan

Hidup ini tidak selalu dalam ketenangan. Tidak selalu dalam damai. Malah mungkin banyak pertentangan. Artinya orang lain tidak selalu sependapat dengan kita. Tidak selalu memiliki kesamaan berpikir.

Seandainya mengalami pertentangan dengan orang lain terimalah itu dengan senang hati. Jangan biarkan itu menjepit kebebasan berpikir. Dan tidak perlu pula mengotak atik otak untuk berpikir negatif. Jangan biarkan ketidaksepahaman itu menginap dalam diri.

Jangan Memusatkan Perhatian Kepada Kesalahan Orang Lain

Begitu pun dengan kesalahan orang lain yang kebetulan kita tahu betul. Itu tidak harus menjadi alasan untuk terus berfokus padanya. Sebab semakin memberi perhatian pada kesalahan orang, maka kebaikannya akan tertutup. Seolah ia selalu hidup dalam kesalahan.

Takada untungnya menyimpan kesalahan orang lain. Sebab kita sendiri juga tidak luput dari berbuat salah. Akan lebih baik melihat kesalahan sendiri untuk diperbaiki daripada kesalahan orang lain. Lihatlah perbuatan baik dan benar yang dilakukan orang. Dengan begitu kita memelihara dan menjaga mental kita aga tetap sehat.

Terimalah Hinaan dan Caci Maki

Sekiranya ada orang yang menghina dan mencaci kita, tidak perlu dibalas. Terima dengan senang hati. Dengan memposisikan diri sebagai orang yang hina dina dan papah, kita belajar untuk merendahkan diri.

Selain itu juga, kita tidak akan menguras energy untuk mencari cara membalasnya. Dengan tidak membalas hinaan orang juga berarti kita takmau diri kita terluka. Sebab mereka yang suka menghina orang lain, kemungkinan lebih hina dari yang dihina.

Terimalah Perasaan Tak Diperhatikan, Dilupakan dan Dipandang Rendah

Terkadang kita merasa tidak diperhatikan, malah dilupakan dan direndahkan. Tidak mengapa. Maka akan lebih menguntungkan jika kita terbiasa menempatkan diri sebagai orang sisa-sisa. Orang rendah. Orang tak berguna.

Daripada memposisikan diri sebagai orang penting dan tidak dihargai orang. Itu sangat tidak menyenangkan. Maka bila ingin menjadi orang yang sehat mental dan rendah hati, terimalah setiap kali tidak diperhatikan, dilupakan atau direndahkan.

Mengalah terhadap Kehendak Orang Lain

Mengalah tidak sama dengan kalah. Mengalah adalah kemenangan tanpa bertarung. Tapi banyak orang tidak mau mengalah. Sebab pikirnya, mengalah sama dengan tidak berdaya. Jadi harus terus ditentang dan ditantang. Jika sikap takmau mengalah yang diambil, itu justru sebuah kekalahan.

Mengalah terhadap kehendak orang lain (argumentasi, pendapat, dll.) adalah cara meringankan beban pikiran dan rasa tertekan. Semakin membiarkan pikiran dan rasa kita tertekan sama dengan membuka jalan menuju dunia penyakit yang bakal membunuh dengan kejam.

Terimalah Celaan Walaupun Anda Tidak Layak Menerimanya

Tidak jarang kita mendapat perlakuan yang tidak sesuai dengan yang kita perbuat Lalu dicela, tak perlu reaktif secara berlebihan. Bila kita menerima celaan itu dengan tenang, ia akan merasa seperti sedang menjunjung bara api. Sebab walaupun dia mencela tidak berarti kita tercela.

Bersikap Sopan dan Peka, Sekalipun Seseorang Memancing Amarah Anda

Tidak sedikit pula orang yang suka memancing agar kita jengkel dan marah. Itu tidak akan terjadi bila kita tetap peka terhadap setiap perkataan orang. Dengan kepekaan itu, kita mampu menentukan sikap. Apakah perlu dibantah atau tidak.

Semakin kita mampu mengontrol emosi untuk tidak marah, orang yang suka memancing amarah akan semakin kehilangan akal. Ia tak berkutik. Kehabisan cara. Sebab kita mampu meredam atau menangkal dan membelokkan semua anak panah yang terarah pada kita.

Jangan Mencoba Agar Dikagumi Orang

Bila kita ingin dikagumi orang artinya kita sedang berusaha menambal yang normal menjadi abnormal. Bersikap wajar apa adanya lebih mendatangkan kekaguman. Lebih dikagumi orang daripada berupaya untuk dikagumi. Dengan demikian kita berada di atas ambang batas kenormalan.

Bersikap Mengalah Dalam Perbedaan Pendapat, Walaupun Anda yang Benar

Pada suatu saat tertentu kita merasa pendapat kita benar. Tidak keliru. Tetapi justru dibilang salah, takmasuk akal dan seterusnya. Tidak perlu bersitegang. Simpan saja energi dengan mengalah. Itu sangat elegan.

Pilihlah Selalu yang Tersulit

Sering kita diperhadapkan pada banyak alternatif. Banyak pilihan. Dan di banyak pilihan itu ada yang gampang ada juga yang susah. Pelik. Sulit. Agar kita semakin terasah, pilihlah yang tersulit. Jangan manjakan diri dengan pilihan yang gampang. Sebab semakin kita menantang diri dengan hal yang sulit, semakin kita mampu terbang tinggi.

Sekali lagi, semoga kita mampu melakukannya sehingga menuntun kita menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati. Kiranya dengan pertolongan Tuhan kita mampu mewujudkannya.

 

Tabe, Pareng, Punten!

 

Tilong-Kupang, NTT

Rabu, 21 Juli 2021 (23.32 wita)

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed