Semangat Juang untuk Bangsa Indonesia

Assalamualaikum wr. wb. Selamat malam, kembali lagi dengan saya Amanda Sukma Dewanthi. Kali ini saya akan menuliskan sebuah artikel tentang semangat juang 45 bagi generasi muda penerus bangsa Indonesia.

Hal pertama yang akan saya bahas adalah “apa sih semangat juang 45 itu?”. Berikut saya akan menjelaskannya di bawah ini.

Rumusan Jiwa, Semangat dan Nilai – nilai Kejuangan 45 adalah sebagai berikut :

Jiwa adalah sesuatu yang menjadi sumber kehidupan dalam ruang lingkup makhluk Tuhan yang maha esa. Jiwa bangsa adalah kekuatan batin yang terkandung dalam himpunan nilai – nilai pandangan hidup suatu bangsa.

Semangat adalah manifestasi dinamis atau ekspresi jiwa yang merupakan dorongan untuk bekerja dan berjuang. Jiwa dan semangat suatu bangsa menentukan kualitas nilai kehidupannya.

Nilai adalah suatu penyifatan yang mengandung konsepsi yang diinginkan dan memiliki keefektifan yang mempengaruhi tingkah laku.

Jiwa 45 adalah Sumber kehidupan bagi perjuangan bangsa Indonesia yang merupakan kekuatan batin dalam merebut kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat serta mengisi dan mempertahankannya.

Semangat 45 adalah Dorongan dan manifestasi dinamis dari Jiwa 45 yang membangkitkan kemauan untuk berjuang merebut kemerdekaan bangsa, menegakkan kedaulatan rakyat serta mengisi dan mempertahankannya.

Nilai 45 adalah nilai – nilai yang merupakan perwujudan jiwa dan Semangat 45 bersifat konseptual yang menjadi keyakinan, keinginan dan tujuan bersama bangsa Indonesia dengan segala keefektifan yang mempengaruhi tindak perbuatan Bangsa dalam merebut kemerdekaan, menegakkan kedaulatan rakyat serta mengisi dan mempertahankannya.

 

Lalu, apa sih semangat kebangsaan itu?

Semangat Kebangsaan merupakan salah satu nilai karakter dari 18 nilai karakter bangsa Indonesia. Bangsa (Nation) adalah sekumpulan manusia yang sama bahasanya, sama adat istiadatnya, senasib dan sepenanggungan. Wibowo (2012: 102) menjelaskan bahwa

Semangat kebangsaan adalah cara berpkir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan Negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Semangat kebangsaan secara umum melibatkan identifikasi identitas etnis dan Negara. Hyman (2002: 299) mengemukaan “…with the national or patriotic idea soweak and undeveloped, it arguably makes more sense to analyze rival ideas of the nation held by country’s different ethnic groups”. Adanya semangat kebangsaan, rakyat dapat meyakini bahwa bangsanya adalah sangat penting untuk dilindungi dan kepentingan bangsa adalah kepentingan yang harus diutamakan dari kepentingan pribadi atau kelompok.

Rasa kebangsaan perlu ditanamkan sejak dini pada siswa yaitu pada masa keemasan di Sekolah Dasar. Usia Sekolah Dasar merupakan masa bermain secara konkrit sehingga dalam menerapkan semangat kebangsaan dapat dilatih melalui kegiatan pramuka, Hizbul Wathan, diskusi, teater, PMR dan pelatihan dalam mempersiapkan upacara hari senin serta hari-hari besar.

Semangat Kebangsaan menjadi salah satu bagian dari nilai-nilai karakter bangsa yang perlu untuk dikembangkan dalam proses pendidikan karakter. Samani (2012: 41) berpendapat bahwa karakter yang kuat adalah sandangan fundamental yang memberikan kemampuan kepada populasi manusia untuk hidup bersama dalam kedamaian serta membentuk dunia yang dipenuhi dengan kebaikan dan kebajikan, yang bebas dari kekerasan dan tindakan-tindakan tidak bermoral.

Karakter dimaknai sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara. Ekowarni dalam Zubaedi (2011: 10) menguatkan bahwa karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antar manusia (when character is lost then everyting is lost). Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan, memiliki cara pandang luas, dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya.

Ada beberapa karakter bangsa saat ini sedang mengalami degradasi, seperti lemahnya kejujuran, tidak amanah, kurang mandiri, rendahnya etos kerja, menerabas, hura-hura, rendahnya inovasi, kurang disiplin, dll.

Pada sementara generasi muda, berkembang sikap gengsian, etos kerja rendah, kurang kerja keras, kurang disiplin, intelektualis, tidak mandiri, bahkan hura-hura, kurang inovatif dan formalistis.

Dampak dari semua itu, lahir pandangan yang rendah seperti orientasi ke kinian kurang berorientasi ke depan, orientasi simbol seperti mementingkan ijazah, titel bukan kualitas. Akibat hura-hura, waktu terbuang dan akhirnya lambat mandiri seperti telah lulus S1 bahkan S2 masih tidak mandiri, dewasa dipaksakan, kurang berkembang, kurang prospektus, pengangguran, lari ke narkoba, dan perilaku menyimpang lainnya.

Bangsa Indonesia seakan tiada henti-hentinya dilanda berbagai persoalan dan masalah yang sangat berat tadi yaitu krisis moral pemuda-pemudi bangsa Indonesia saat ini.

Penyakit inilah yang dihadapi bangsa Indonesia yang dihadapkan pada persoalan yang sangat besar karena generasi penerusnya jiwa dan ruhaninya sebagian hilang dan rasa nasionalisme terhadap bangsa ini pun mulai runtuh ini sangat disayangkan sekali, inilah yang kemudian menjadi tugas dan peran bangsa ini untuk mengembalikan semangat pemuda dan pemudi bangsa ini menjadi pemuda dan pemudi yang berjiwa luhur (terpuji) dan menjunjung tinggi cita-cita dan harapan bangsa ini.

Generasi penerus bangsa sekarang ini sebagai pelaksana cita-cita pahlawanagar bentuk NKRI tetap utuh dibawah panji Pancasila dan UUD 1945 harusmewarisi semangat juang para leluhur yang dengan segala daya upaya relaberkorban demi masa depan bangsa.

Sebagai generasi penerus bangsa harusmemiliki tekad dan semangat nilai-nilai juang 45 agar tidak gampang terbawaa rus yang sudah mulai memasuki sendi-sendi kehidupan generasi muda.

Alasan mengapa perlu kejuangan:
1. Kita bisa menikmati yg ada sekarang karena adanya jiwa kejuangan parapendahulu dan para veteran. Dengan jiwa kejuangan mereka beranimengorbankan jiwa, raga danapa saja.
2. Orang– orang besar seperti Sukarno, Sudirman, NapoleonBonaparte, NewTon, bisa sukses bukan karena kepandaian semata. Melainkan karena jiwa.

Pola pelaksanaan dalam pelestarian jiwa, semangat dan nilai – nilai 45.

a. Pendekatan Edukasi

1) Jalur keluarga: Orang tua berkewajiban mendidik anak – anaknya supaya tanggap dan peka terhadap keadaan dan perkembangan lingkungan, pertumbuhan anak – anaknya, penyebarluasan JSN 45.

2) Jalur masyarakat: Sejalan dengan pendidikan formal melalui jalur sekolah hendaknya pendidikan diluar sekolah juga dimanfaatkan dengan sebaik – baiknya.

3) Jalur Sekolah: Pendekatan edukasi melalui jalur pendidikan formal (sekolah) yang terikat pada ruang, waktu, mata pelajaran (kurikulum) dan jenjang persekolahan bertujuan untuk menanamkan JSN 45 melalui proses belajar mengajar.

b. Pendekatan Keteladanan

1) Jalur Keluarga: Pendekatan ini menyangkut sikap, tingkah laku, serta penghayatan dan pengamalannya.

2) Jalur Sekolah: Merupakan forum pendidikan formal yang memegang peran utama dalam usaha melestarikan JSN 45 terutama dalam upaya guru sebagai pendidik dan tokoh panutan yang sangat berperan menciptakan kondisi yang memungkinkan para anak didik akan dapat menghayati dan mengamalkan JSN 45.

3) Jalur Masyarakat: Melalui jalur masyarakat peranan dan keteladanan tokoh – tokoh masyarakat, para pemimpin informal yang berada ditengah – tengah lingkungan masyarakat sangat membantu dan menentukan untuk penghayatan dan pengamalan JSN 45.

c. Pendekatan Informasi dan Komunikasi.

1) Jalur Keluarga: Iklim yang sejuk dalam keluarga akan membantu dalam pelaksanaan kelestarian JSN 45.

2) Jalur Sekolah: Dalam lingkungan sekolah perlu adanya iklim keterbukaan dari kedua belah pihak yaitu pendidik dan peserta didik dan diharapkan mereka mampu mendalami dan mengerti JSN 45.

3) Jalur Masyarakat: Penyampaian pesan melalui keteladanan kepada masyarakat juga menyangkut hubungan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin.

d. Pendekatan Sosialisasi: Tujuan pendekatan sosialisasi agar masyarakat mengerti, menghayati dan mengamalkan JSN 45.

e. Pendekatan jalur Agama: Pendekatan jalur agama adalah dimana pelestarian JSN 45 akan lebih mudah dalam kehidupan beragama, demikian pula Alim ulama dan tokoh – tokoh agama sangat menentukan kelestarian JSN 45.

Sekian artikel dari saya. Artikel ini saya buat dari segala sumber yang telah saya rangkum menjadi satu. Mohon maaf untuk kesalahan kata dalam artikel ini.

See u soon in my next article!

Selamat malam dan selamat membaca.

Best regards,
Amanda Sukma Dewanthi

Tinggalkan Balasan

News Feed