Semangat Juang 45 kepada mahasiswa dalam rangka mewujudkan generasi emas Indonesia

Assalamualaikum Wr Wb. Haii teman teman Nama Saya Shita Dara Kinanti, saya ingin membahas tentang Semangat Juang 45 kepada mahasiswa dalam rangka mewujudkan generasi emas Indonesia

Fenomena yang tengah dihadapi generasi muda Indonesia saat ini adalah maraknya generasi micin. Sebelum membahas lebih jauh, mari analogikan terlebih dahulu ‘sosok’ micin dalam artian sebenarnya. Micin (atau bahasa ilmiahnya monosodium glutamat alias MSG) merupakan senjata utama bagi kebanyakan pedagang kuliner mulai dari abang tukang bakso sampai abang tukang sempol.

Di samping itu, istilah micin bisa jadi merupakan gambaran sebagian besar manusia yang notabene berperan sebagai “pengguna” daripada “pencipta”. Ibarat micin yang memperkuat rasa makanan, manusia masa kini terutama pemuda tidak lebih hanya memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang sudah ada. Bukannya tidak ada, namun berkurangnya pemuda kekinian yang ber-inovasi untuk membuat gagasan baru. Padahal ilmuwan-ilmuwan terdahulu kebanyakan sukses di usia muda dengan berbagai penemuan maupun sesuatu yang mereka ciptakan sendiri. Namun bukan berarti hal tersebut sepenuhnya buruk, hanya saja ada perbedaan kontras antara anak zaman sekarang dengan anak generasi milenial.

Setiap zaman melahirkan generasi emasnya. Sejarah mencatat ada Generasi 1945, generasi emas yang mendorong proklamasi kemerdekaan Indonesia. Generasi 1965, generasi yang menumbangkan Orde Lama, dan Generasi 1998, generasi yang merontokkan otoritarianisme Orde Baru dan membuka era reformasi.

Kini, setelah 20 tahun reformasi, apakah sudah ada generasi emas? Tiba- tiba kita diwacanakan untuk mempersiapkan generasi emas, 2045, saat Indonesia merayakan kemerdekaan ke-100

Saat pencari kerja meningkat, Indonesia diterjang disruption technology. Ke depan, Indonesia menghadapi ancaman PHK. Jika tidak ada kemampuan beradaptasi dengan teknologi digital, banyak perusahaan akan gulung tikar. Persoalan Indonesia saat ini tidak saja mempersiapkan generasi emas, melainkan juga mengembangkan perusahaan. Kemajuan ekonomi Indonesia hanya bisa diraih lewat pembangunan sektor riil. Industri harus bertumbuh. Ini semua membutuhkan tenaga kerja terampil dan produktif. Dunia pendidikan harus bisa mempersiapkan lulusan yang bisa mudah dilatih menjadi tenaga kerja terampil.

  Generasi emas adalah generasi yang memiliki integritas yang baik, karakter sebagai bangsa Indonesia, dan kompetensi di bidangnya. Generasi emas adalah mereka yang mudah beradaptasi dengan perubahan dan mampu menggunakan kemajuan teknologi digital.

Generasi emas memiliki kecerdasan komprehensif, yakni kecerdasan untuk bekerja produktif, inovatif, dan mampu berinteraksi sosial dengan baik, dan berperadaban unggul. Dari sisi kompetensi, pendidikan formal di Indonesia masih jauh dari level ideal menghasilkan lulusan yang mampu bersaing. Berbagai survey lembaga internasional menunjukkan rendahnya peringkat pendidikan di Indonesia. Untuk bersaing dengan sesama negara Asean saja, Indonesia tertinggal.

Dalam World Education Ranking yang diterbitkan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), Indonesia berada di peringkat 57 dari 65 negara yang disurvei. Survei mencakup kemampuan membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan Melihat dana pendidikan yang mencapai 22% dari APBN, kualitas pendidikan di Indonesia mestinya sudah cukup maju. Tidak kalah dari Negara tetangga. Jika ditelisik lebih dalam, kelemahan utama ada di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kementerian ini sama sekali tidak mampu meningkatkan kualitas guru. Banyak sertifikasi yang diberikan, tapi mutu guru kian melorot. Survei yang diadakan Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta awal Oktober 2018 menunjukkan, 63% guru beragama tertentu menunjukkan opini yang intoleran terhadap agama lain.


Kehebatan sebuah negara tidak ditentukan oleh luas-sempitnya wilayah negara itu, besar- kecilnya jumlah penduduknya, dan banyak-sedikitnya sumber daya alam yang dimiliki. Ukuran hebat sebuah negara adalah tingkat kesejahteraan yang merata dan itu ditentukan oleh kualitas SDM.

Banyak negara kecil di dunia yang mencuat sebagai Negara hebat karena kualitas SDM. Generasi emas tidak lahir dengan sendirinya, melainkan ditempa oleh keluarga, dibentuk oleh pendidikan formal, dan diarahkan oleh elite bangsa lewat suri teladan.

 

wassalamu’alaikum Wr Wb

Tinggalkan Balasan

News Feed