Ayah Literasiku (2)

Jika flashback tentang sosok pak TeDe, maka seabreg kegiatan mampu beliau tangani setelah menjalani masa purna tugas. Sebagai pensiunan polisi, pak TeDe terbiasa disiplin dalam melakukan kegiatan apapun. Agak berbeda dengan para pensiunan lainnya yang memilih terjun ke dunia bisnis, atau menyenangkan diri menikmati masa tua dengan anak cucu, maka pak TeDe malah fokus ke dunia literasi. Sejak tahun 2010 telah menulis di Kompasiana, dengan 2881 artikel (data tanggal 9 September 2021). Sungguh pencapaian yang luar biasa.

Selain menulis artikel, pak TeDe juga sudah menulis 24 buku ber-ISBN, termasuk biografi berjudul “Prabowo Presidenku’. Buku-buku yang ditulis beragam, ada yang bercorak sejarah, politik, agama, dan sebagainya. Dengan wawasan keilmuan yang luas serta keinginan untuk memberi manfaat bagi dunia literasi, tak berlebihan jika kami, penulis yang bergabung di wag YPTD menyebut pak TeDe sebagai “Ayah Literasi”.

Berlebihankah sebutan ayah literasi disematkan kepada pak TeDe?. Saya pribadi menilai, bahwa sebutan tersebut sangatlah pantas mengingat sepak terjang beliau di dunia literasi, terutama di YPTD. Pengalaman saya ketika menulis buku solo pertama, mulai dari mengikuti kelas pelatihan online hingga buku sampai ditangan, tidak sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Biaya yang paling besar adalah ketika sampai pada tahap editing, dan proses pengajuan ISBN. Bagaimana dengan proses penerbitan buku di YPTD?

Ada beberapa hal yang menjadi syarat penerbitan buku di YPTD. Yang pertama, anda harus memiliki akun YPTD; kemudian mempersiapkan naskah/tulisan yang akan dibukukan dengan jumlah minimal 150 halaman; kirim ke email thamrindahlan@gmail.com; selanjutnya anda menunggu pemberitahuan dari pihak YPTD.

Setelah menemukan YPTD ditengah menipisnya lembaran kertas bernama uang dikocek, saya segera memacu adrenalin, terima tantangan menulis selama 28 di blog YPTD. Tanpa berlama-lama, usulan ISBN saya dan beberapa orang kawan segera kelar. Buku kedua saya siap-siap naik cetak. Kemudian, YPTD mengadakan lomba menulis selama 40 hari, dengan ketentuan setiap tulisan diposting di laman YPTD dengan menyertakan tag ‘Karena Menulis Aku Ada/KMAA”. Tidak sampai sepekan setelah pengumuman tentang lomba tersebut, peserta membludak. Akhirnya, dengan berat hati, pak TeDe membatasi jumlah peserta pada angka 80 orang, mengingat kesibukan yang luarbiasa didapur YPTD.

Kadangkala saya berpikir, andai ada 10 orang saja sosok seperti pak TeDe yang memiliki misi sama, membantu penulis untuk menerbitkan buku dengan biaya seikhlasnya, saya yakin grafik literasi masyarakat kita akan naik. Selama ini, batu sandungan terbesar adalah besarnya biaya untuk menerbitkan buku ber-ISBN dan biaya editing.

Ketika buku pertama saya launching, seseorang beri komentar di medsos, bahwa kita menulis ditengah-tengah orang yang tidak mau membaca. Disatu sisi pendapat itu benar, sebab masyarakat kita sangat enggan membaca. Banyak faktor penyebab kondisi tersebut, salah satunya adalah kurangnya wadah yang mengakomodir kegiatan literasi. Namun, jika kita apatis dengan sikap masyarakat yang enggan membaca, tentulah keadaan semakin parah. Generasi milenial dan gen Z butuh sosok yang benar-benar mampu memotivasi dan menginspirasi, sehingga mereka kelak menjadi pahlawan literasi.

Sebagai seorang “ Ayah Literasi “ bagi warga YPTD, pun juga bagi warga Sagusapop, tidaklah berlebihan jika saya dan Madame Heddy mengusulkan agar beliau diberi kehormatan pada Bulan Bahasa. Dalam waktu dekat, Ikatan Guru Indonesia ( IGI ) bidang literasi akan menggelar kegiatan Bulan Bahasa dengan beberapa jenis kegiatan. Alhamdulillah, usulan kami disetujui pengurus. Tanpa berlama-lama, ayah literasi Thamrin Dahlan menyanggupi, beliau menjadi nara sumber pada webinar dengan tema; “ Pantun Citra Budaya Nusantara “.

Salah satu ciri khas Pak TeDe adalah mengawali postingan di grup dengan pantun. Tak ayal, pantun tersebut segera disambut oleh teman-teman lainnya, yang menandakan bahwa sampai hari ini pantun masih eksis, tetap digemari tua muda. Saya sebut juga digemari kaum muda, karena beberapa waktu yang lalu saya memunculkan pantun di wag siswa, ternyata dibalas dengan pantun juga. Andaipun pantun tersebut dicomot dari postingan orang lain, tidak mengapa, sebab untuk menyukai sesuatu kadang harus didahului dengan mengcopy paste hal-hal yang kita sukai.

Hikmah lain dibalik kehadiran pandemi, saya berteman dengan raja pantun ayahanda Thamrin Dahlan, raja puisi Pak Doktor Nastain, raja pola pembiasaan Kang Asep, raja ngeblog Om Wijaya Kusumah dan Mas Brian, ratu puisi Mbak Lili Priyani, ratu ide gila Madame Heddy dan seterusnya. Berinteraksi dengan teman-teman yang memiliki ragam passion, membuat hidup lebih berwarna. Terlebih karena berasal dari daerah yang berbeda tradisi dan kebiasaan, namun hal itu membuat kita semakin mampu memahami karakter orang lain serta lebih mampu menahan ego. Bertemu dengan orang-orang hebat diberbagai komunitas, kembali mengingatkan saya, bahwa orang yang benar-benar pintar tidak bersikap sombong. Artinya, kalau masih ada yang menganggap saya sombong, saya syukuri saja. Salam literasi dari bumi Kualuh, basimpul kuat babontuk elok.

KMAA (17),

Tinggalkan Balasan

News Feed