Kiat Mengelola Keuangan Dalam Masa Pandemi dan Meraih Ketenangan Ibadah Ramadhan

Sore ini, 22 April 2021, kembali hadir kajian online bersama Bank Syari’ah Indonesia cabang Aekkanopan. Usai sholat asar, sang host istimewa, Ustadz Pangasian Batubara memandu acara, yang rutin diadakan setiap hari Rabu dengan memanfaatkan teknologi zoom cloud meeting.

 

Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, yang dilantunkan oleh Ustadz Fauzi Anshori Harahap. Kemudian dilanjutkan oleh Ustadz H.Nasar Usman, sebagai branch manager BSI Aekkanopan. Untuk diketahui, BSI adalah hasil merger dari 3 bank, yakni BNI syari’ah; BRI syari’ah; dan Bank Syari’ah Mandiri yang diresmikan oleh Presiden RI secara virtual pada 1 Februari 2021.

 

Diawali dengan quotes menarik, H. Nasar Usman (HNU) menyampaikan bahwa, orang bisa saja membeli tempat tidur, namun tidak dapat membeli kenikmatan tidur; orang bisa membeli jam, namun tidak bisa membeli waktu. Kemudian, HNU memaparkan, bagiamana fase kehidupan manusia secara umum, ketika memutuskan untuk menikah; memiliki anak; memiliki rumah; berhaji; serta menikmati masa tua dengan nyaman.

 

Bagaimanakah cara agar fase-fase tersebut dapat dijalani dengan baik? Maka, akan berbeda antara manusia yang satu dengan lainnya, masing-masing memiliki prioritas dan mind set.

Secara sederhana, ketika kita menerima gaji/mendapat penghasilan, maka prioritas utama adalah memenuhi kebutuhan; kemudian melakukan investasi/tabungan; piknik; dan jika tersisa akan membayar hutang. Inilah yang disebut cash flow manusia.

 

Maka, sudah saatnya kita ubah mindset dengan menerapkan cash flow for muslim, yang dapat dilakukan dengan beberapa hal, yaitu:

 

  1. Filter lebih dahulu, apakah uang yang didapat berasal dari sumber yang halal atau haram.
  2. Tunaikan hak Allah SWT, dengan membayar Dzakat,Infaq, Shodaqoh (ZIS).
  3. Keluarkan hak orang lain, yaitu dengan cara membayar hutang.
  4. Lakukan investasi/tabungan.
  5. Penuhi kebutuhan diri sendiri.

 

Cash flow for muslim ini sesuai dengan bunyi hadits yang menyatakan bahwa:”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

 

Berbagai cara manusia menikmati hidup diatas bumi, ibarat orang yang bepergian dengan bus; mobil; pesawat; bahkan ada yang berjalan kaki. Namun yang terpenting bagi kita adalah agar tetap mengingat 5 perkara sebelum 5 perkara, yaitu: muda sebelum tua; sehat sebelum sakit; kaya sebelum miskin; luang sebelum sempit; dan hidup sebelum mati.

 

Dalam salah satu ayat, Allah berfirman, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. … Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (Qs. Al Baqarah: 261).

 

Artinya, sebagai muslim yang cerdas dan memiliki akal pikiran, maka sebaiknya kita bersandar pada ayat tersebut, hingga tidak melakukan perbuatan yang membawa mudharat dalam membelanjakan setiap rupiah yang kita miliki.

 

Lantas, bagaimanakah langkah-langkah yang dapat dilakukan agar hasil jerih payah kita meraih keberkahan dan ridho Allah SWT?. Berikut ini ada 5 tips yang dapat kita lakukan, sesuai dengan kemampuan finansial kita masing-masing, terlebih di masa pandemi, yakni:

Tips pertama;

1). Pengeluaran akhirat (2,5%: Dzakat, Infaq, Shodaqoh)

2). Pengeluaran masa depan (7,5%: simpanan, asuransi, investasi)

3). Pengeluaran untuk orang lain (maksimal 40%: kewajiban untuk membayar hutang).

 

Untuk tips 2,3,4 dan 5 disuguhkan dalam bentuk potongan slide, supaya lebih gampang dipahami.

Secara khusus untuk tabungan/investasi, apakah esensi dari kegiatan tersebut?. Dalam teori ekonomi, dikenal istilah precautionary motive, yaitu motif berjaga-jaga, andaikata suatu saat kita mengalami kesulitan keuangan, sehingga kelebihan penghasilan yang kita dapat, bisa kita manfaatkan ketika kelak dibutuhkan.

 

Maka, dalam ajaran agama Islam jelas ada larangan untuk tidak melakukan hal-hal mubadzir, karena tidak dipungkiri kadangkala kita kebablasan melakukan kegiatan konsumsi yang berujung pada pemborosan.

 

Akhirnya, usai juga kajian online bersama Bank Syari’ah Indonesia cabang Aekkanopan hari ini. HNU, sebagai narasumber sekaligus Branch Manager, dengan lugas menjawab berbagai pertanyaan partisipan baik melalui kolom chat maupun melalui raise hand response. Kajian online ini sudah berlangsung sejak bulan Maret 2021,  merupakan salah satu upaya pihak BSI Aekkanopan supaya Bank Syari’ah plat merah tersebut lebih dikenal oleh masyarakat Labura.

 

Terakhir, catatan khusus saya sebagai guru mata pelajaran Ekonomi, kegiatan seperti ini sangat membantu untuk lebih memahami apa dan bagaimana BSI sebagai produk baru di NKRI. Semoga untuk kegiatan berikutnya berjalan lancar dan mendapat tempat dihati masyarakat Labura khususnya, dan masyarakat Indonesia umumnya. Salam sahabat syari’ah, Salam literasi dari bumi Kualuh basimpul kuat babontuk elok.

Tinggalkan Balasan

News Feed