Pembelajaran dengan Media Film, Menumbuhkan Kepekaan Batin Siswa

 

Pola belajar anak-anak dewasa ini tidak harus dengan gaya belajar konvensional. Kegiatan pembelajaran tidak harus dalam situasi penuh kekakuan. Mereka tidak melulu belajar dengan duduk manis di bangku dan melipat tangan di atas meja. Dalam pembelajaran paradigma baru, kekakuan itu, setidaknya, harus diminimalisir. Anak-anak harus belajar dalam suasana rileks dan menyenangkan tetapi tidak menghilangkan kebermaknaan belajar itu sendiri.

Diperlukan transformasi gaya pembelajaran dimana anak-anak merasa betah, ‘at home’. Kondisi ini akan sangat memungkinkan keterlibatan mereka secara maksimal dalam proses pembelajaran. Dengan begitu, pembelajaran akan menjadi sesuatu yang bermakna dan memberikan nilai-nilai tertentu dalam kesadaran peserta didik.

Salah satu tujuan pembelajaran adalah menumbuhkan kecakapan emosional. Oleh karena itu, penting untuk meningkat keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Keterlibatan itu sendiri tidak hanya menyangkut aktivitas fisik tetapi juga emosional. 

Keterlibatan emosional merupakan sebuah kondisi dimana pikiran dan perasaan siswa menyatu dalam sebuah proses pembelajaran. Satu hal yang diharapkan melalui keterlibatan secara emosional itu adalah menumbuhkan kepekaan batin. 

Kepekaan batin, dalam hal ini, bukan kepekaan terhadap hal-hal yang bersifat supranatural atau kepekaan terhadap sesuatu yang bersifat mistis. Kepekaan batin adalah sebuah titik yang menempatkan seseorang mampu menerjemahkan suatu keadaan tanpa perlu diucapkan. 

Kepekaan batin membuat seseorang memiliki kemampuan merespon secara positif sebuah perubahan (peristiwa dan pengalaman). Mereka yang memiliki kepekaan ini akan memberikan tanggapan tertentu secara positif saat berhadapan dengan sesuatu yang menyentuh sisi kemanusiaannya. Kepekaan batin lebih mengacu kepada kepekaan yang mampu menumbuhkan sikap simpati dan empati. 

Kepekaan batin merupakan kerja mental yang menempati posisi penting saat anak mulai belajar bersosialisasi dengan lingkungannya dalam lingkup yang lebih luas. Menghadapi realitas sehari-hari, kerapkali seseorang tidak memiliki kepekaan terhadap sebuah peristiwa, pengalaman, atau kenyataan yang ada di sekitarnya. 

Sering terjadi, misalnya, siswa yang memiliki kemampuan lebih secara akademik di dalam kelas, disertai oleh sebuah sikap yang cenderung meremehkan temannya yang berada di bawah kemampuan dirinya. Sikap ini kemudian memicu siswa melakukan perundungan terhadap siswa lain yang dianggap memiliki kemampuan di bawah dirinya. 

Pada titik inilah, kepekaan batin anak-anak perlu diasah dan ditumbuhkan. Anak-anak harus belajar memahami, menghargai, dan berempati kepada sesama. Anak-anak harus memiliki kepekaan agar mampu melihat secara jernih kekurangan orang lain. Inilah yang harus ditumbuhkan kepada siswa.

Salah satu media yang memungkinkan tumbuhnya kepekaan batin adalah media film. Dalam konteks ini, tentu film yang memiliki unsur edukasi.

Film sebagai, sebuah karya seni, tidak sekadar sebagai media hiburan. Film, drama, teater, dan seni peran lainnya, juga memiliki misi untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan bagi kehidupan manusia. 

Hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari acapkali tidak menyentuh sisi kepekaan seseorang. Ketika hal itu dikemas dalam sebuah film, barulah disadari bahwa banyak peristiwa sehari-hari yang terlihat sederhana sering diabaikan. Padahal peristiwa itu memiliki nilai-nilai pembelajaran yang mendorong seseorang berfikir secara positif bahwa dalam peristiwa tersebut terdapat nilai-nilai moral yang dapat dijadikan pelajaran 

Film dapat menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat menumbuhkan kepekaan siswa terhadap lingkungannya, khususnya lingkungan sosial. Media film yang dimaksud tentu harus memiliki muatan edukasi dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Di tengah wabah kecanduan gadget dan petualangan dunia maya yang melanda anak-anak dewasa ini, mereka makin terancam penyakit disorientasi kehidupan sosial. Sosialisasi antar teman sebaya makin menuju titik terenggang. Tidak saja anak-anak, banyak orang pada berbagai level usia menjadi apatis terhadap lingkungannya akibat terlalula masyuk berkomunikasi dengan gadget.

Hari ini kita dihadapkan kepada kondisi dimana anak-anak sangat lamban menyahut panggilan orang tua karena pikirannya terkonsentrasi pada game, tontonan tiktok, youtube, dan berbagai platform yang ada dalam gadget mereka. Hal ini bermuara pada makin kurangnya hubungan interaktif antara anak yang satu dengan yang lain, antara anak dan orang tua. Akibatnya, kondisi ini membuat kurangnya kepekaan batin anak-anak terhadap sesamanya.

Dalam sebuah kesempatan saya mengajak siswa nonton bareng film Taree Zameen Par, sebuah film Bollywood yang berkisah tentang seorang anak pengidap disleksia. Saya sengaja membiarkan anak-anak menonton dengan santai. Beberapa orang menikmati tayangan sambil rebahan seakan berada di rumahnya sendiri.

Film itu berkisah tentang seorang anak bernama Ishaan. diperankan oleh Darsheel Safary,, tidak saja mengidap disleksia tetapi juga juga sangat bermasalah secara akademik. Ishaan melihat setiap pelajaran sebagai jalanan terjal dan berbatu. Kondisi itu membuat Ishaan menjadi obyek perundungan di sekolahnya karena dianggap bodoh dan terbelakang. Bahkan di rumahnya sendiri, Isham selalu menjadi sasaran kemarahan ayahnya sendiri karena laporan perkembangan akademiknya selalu buruk. Sang ayah sebagai seorang eksekutif kaya raya berharap Ishaan mengikuti jejaknya.

Berhadapan dengan situasi itu Ishaan menjadi anak pemberang dan pemalas. Akan tetapi, di balik kekurangannya, Ishaan memiliki kemampuan imaginatif di atas rata-rata teman sebayanya. Ishaan mampu menuangkan pikiran dan perasaannya melalui lukisan. Hal itu luput dari perhatian orang-orang di sekitarnya. Sampai akhirnya, Isham bertemu seorang guru seni, Ram diperankan Amir Khan, yang memahami kelebihannya.

Saat menonton film drama ini, beberapa siswa menitikkan air mata karena terharu. Apa yang ditunjukkan siswa itu setidak telah membuktikan bahwa film itu telah membuka celah kepekaan batin pada diri anak-anak. Tetesan air mata itu setidaknya telah menunjukkan bahwa ketika disuguhkan tentang persitiwa sehari-hari dalam bentuk film, siswa dapat belajar untuk melihat kekurangan dan kelebihan orang lain.

Lombok Timur, 11 Oktober 2022

Tinggalkan Balasan