Mencintai Nabi

 

Hari itu sulit untuk terlupakan ketika Tuhan mengizinkan aku berziarah ketanah suci, tanah dimana kaki nabi suci pernah menginjaknya.

Adalah khairul orang lombok yang kasih kabar gembiranya, ” Bang, nama abang masuk dalam list ” katanya bersemangat sekali.

Waktu itu aku kerja di Emarat Dubai, baru juga 6 bulan, aku enggak pernah menyangka melalui Emarat Syariatnya aku berangkat ke tanah suci.

Jangan pernah membayangkan berangkat haji dari Dubai sama seperti berangkat haji dari Indonesia.

Di Dubai tidak ada acara manasik haji, andai pun ada pasti penyelenggaranya orang Indonesia-indonsia juga ( KJRI ) ini pengecualian.

Aku berangkat berdua, dengan khairul anak lombok, dia adalah ex Saudi. Dengan dia aku di vaksin, beli baju ihrom, dan menghubungi travel. Bagaimana biayanya?

Karena kami haji nurdin ( nurut dines ) semua biaya di cover Emarat. Transportasi pake bis, akomodasi dan uang saku tentu saja.

Akhirnya, hari itu tiba, kami meluncur ke masjid Faisal ( Sharjah ). Disana sudah ada bis yang akan membawa kami menuju tanah suci Makkah Al-Mukaromah.

Perjalanannya panjang, sekitar 20 jam kurang lebih, tergantung seberapa sering mampir, dan kecepatan sang sopir.

Sopirnya orang Pakistan, jenggotnya lebat, mengingatkanku kepada foto seorang kakek di sebuah botol minuman.

Penumpang mayoritas Pakistan, India dan beberapa orang Arab, Indonesia cuma kami berdua, aku dan khairul.

Karena kebanyakan penumpang orang Pakistan, maka bahasa pengantar di bis adalah Urdu. Jadi kami berdua cuma bisa bengong andai ada pengumuman yang disampaikan.

Aku ingat betul, waktu masuk makkah, disana dada bergetar kencang, suasana sangat ramai, hiruk pikuk, alunan talbiyah dimana-mana, dan degupan didada semakin mengencang, tangisanpun pecah ketika kali pertama memandang ka’bah.

Ya Tuhan, masih enggak percaya, kok bisa? Aku seorang TKI yang enggak baik-baik banget, tapi Engkau undang untuk bertandang ke tanah suci umat Islam sedunia. Tempat yang sakral, dimana utusan-Mu, nabi Muhammad SAW dilahirkan.

Akupun mengunjungi Madinah, kota yang lebih “tenang” disana suasana tidak terlalu ” kosmopolitan” dari temaram masjid Nabawi aku hanya berbisik dalam hati, aku mencintaimu wahai junjungan orang-orang beriman.

Bersama jamaah haji asal Libya dimasjid Nabawi pada suatu ketika.

Tinggalkan Balasan