Cita Cita
Waktu umur ku 6 tahun,
Aku suka sekali bermain mulai dari masak-masakan, barbie
Dan beberapa mainan anak perempuan pada umum nya.

Suatu hari, setelah aku menonton film kartun kotak berbadan kuning
Di salah satu stasiun televisi favorit ku, Aku dikejutkan kardus kotak
berwarna coklat diruang tamu, pagi itu.
Ingin aku langsung membuka dan tahu apa yang ada didalam kotak tersebut

Tanpa berpikir panjang, aku langsung membuka kotak tersebut
diiringi rasa ingin tahu yang sangat besar.
Belum sampai terlihat apa isi kotak tersebut, setengah menunduk aku dikejutkan suara yang tak asing tepat dibelakang ku, “lagi apa” benar dugaan ku. Iya suara ibuku
muka polos dan suara setengah gugup, aku bilang “i ini isi nya apa” dengan setengah santai ibuku menjawab “mainan dari tante leni,buat kamu” mataku melebar diiringi senyuman dibibirku
tanganku membuka kotak tersebut dengan kecepatan diatas rata-rata.

Beberapa jenis mainan, terlihat jelas didalam nya. Mataku tertuju pada satu tas sedang berwarna bening, berisi stetoskop dan beberapa alat mainan medis lainnya, saya belum tahu apa fungsi stetoskop waktu itu, yang aku ingat waktu aku sakit flu karena terlalu sering bermain hujan,
Dokter memakai benda itu di kedua telinga nya,
dan meletakan bagian ujung berbentuk bulat tepat didadaku. Benda yang menarik bukan?
Setelah lumayan lama aku bermain mainan tersebut, tiba-tiba terlintas satu keinginan dikepalaku bisa ngga ya jadi dokter yang memeriksaku waktu itu?

Tapi, harapan itu harus hilang ketika ibuku memutuskan untuk menyekolahkan ku dijurusan akuntansi. Fikirku tak apa lah selama itu membuat ibuku senang.
Aku pun berusaha untuk senang mempelajari satu persatu pelajaran didalam nya seperti pajak, myob dan pelajaran bosan yang lainnya

Tepat disebelah sekolahku , ada puskesmas besar beserta IGD didalam nya.
Sepanjang jalan,mataku selalu tertuju pada gedung tersebut. Dan bilang pada teman dekatku “bisa ngga yaa gue jadi bagian dari mereka (tenaga medis)” dia bilang dengan penuh keyakinan “bisa ko gue yakin lo bisa hehe” harapan menjadi tenaga medis memanv sudah hilang,waktu aku tahu akan sekolah dijurusan akuntansi tapi, keinginan ku menjadi bagian dari tenanga medis memang tak pernah hilang. Harapan itu kembali ada ketika temanku meyakinkan dengan penuh ucapanku tadi.

Tepat 3 tahun. Selesai sudah aku menghitung uang yang tak pernah ada
Perasaan senang campur sedih menjadi satu waktu itu
Beberapa bulan, setelah pemerintah memutuskan untuk dirumah saja tak ada kegiatan lain selain makan dan tidur yang saya lakukan.

Akhirnya pertengahan tahun,
Saya mengikuti tes di Akper Polri penantian 12 tahun akhirnya tereujud,
akhirnya Tuhan menjawab doa yang selama ini ku sebut dalam doa.

—SELESAI—

Nabila Septiani

Tinggalkan Balasan

News Feed