Kisah-Kisah Perjalanan: Masjid di Atas Bukit

“Pak, boleh sholat di situ?”
Penjaga masjid mengangguk dan menunjukkan lokasi parkir karena jalanan dekat masjid sedang becek. Hujan deras memang baru saja mengguyur.

Aku bertanya dulu karena bangunan masjid itu nampak sepi. Siapa tahu ini properti pribadi. Atau mungkin karena waktu Ashar sudah satu jam lalu diawali.

Ada tong bersumbat untuk berwudlu. Aku mengambil sumbat dan air bersih pun mengucur. Masjid itu bertingkat dua dengan berbahan triplek dan kayu. Ukurannya kecil, mungkin lebih pas disebut surau atau langgar.

Masjid itu kosong, hanya kami berdua. Kami pun berjamaah. Setelahnya aku mengagumi pemandangan dari atas.

Dari masjid nampak hamparan teluk. Tersaji warna biru laut dan perahu. Nuansa terasa syahdu. Inginku di sini untuk sekian waktu, menikmati panorama di depanku sambil merenung.

Masjid kayu ini nampak anggun dan bersih. Kuperhatikan fasilitas beribadah juga tersedia, dari sajadah, mukena, dan kitab suci.

Rupanya masjid tersebut memang milik pribadi. Penjaga masjid menyampaikan informasi. Ia diminta menjaga dan membersihkannya, sekaligus menjagai kedai sederhana yang menjual teh dan kopi.

masjid

Andai kami tak berburu waktu kami juga ingin sholat Maghrib di masjid itu. Tapi jalanan cukup curam dan penerangan jalan bisa dihitung. Mobil pun bergerak maju, kami berharap sebelum gelap ke luar dari jalan berliku-liku.

Kutengok masjid dari jendela. Ia makin mengecil dari pandangan. Masjid di atas bukit itu seolah-olah terpencil sendirian, jauh dari rumah warga. Tapi ia tempat yang hangat bagi pelancong untuk singgah beristirahat dan beribadah.

Aku lupa menanyakan nama masjidnya.

Tinggalkan Balasan