Kisah-Kisah Perjalanan: Persahabatan itu Dimulai

Sikunir

“Hai…ketemu di sini! Puspa, kan?!”
Aku tersenyum lebar dan menyalami mereka. Lalu menanyakan kabar dan rencana perjalanan berikutnya.

Dua kawanku kemudian menghampiriku dan bertanya siapa tadi yang mengobrol denganku. Aku kebingungan menjawab karena aku memang tidak ingat nama mereka dan kapan berjumpa mereka sebelumnya.

Tapi pertemuan itu adalah takdir.

Kami baru turun dari Sikunir. Setelah puas mengunjungi Telaga Warna maka kami pun menuju tempat terakhir dan tujuan utam kami. Kompleks Candi Dieng.

Sambil melangkah menuju kompleks candi di Dieng, aku mengingat-ingat kedua orang yang kujumpai tadi. Keduanya tahu namaku dan sikap mereka sangat bersahabat.

Kucari file ingatanku. Lalu sebuah file terbuka dan terputar oleh otak. Aku pernah bertemu mereka di acara pertemuan traveler. Aku juga mengobrol dengan mereka. Hahaha dunia itu kecil.

Candi Dieng adalah salah satu tempat yang dari dulu ingin kutuju. Kompleks Candi Pandawa.

Candi ini terdiri dari beberapa candi dengan menggunakan nama-nama tokoh pewayangan. Aku menyusuri satu-persatu candinya dan mengaguminya.

Candi di tempat tinggi selalu membuatku takjub dan juga merasakan nuansa agung yang sulit diungkapkan dalam kata-kata. Candi bisa berarti berbagai hal, penghormatan terakhir dan juga tempat ibadah.

Panorama yang melatarbelakangi Candi Dieng juga mengentalkan nuasa magis, spiritual sekaligus misterius. Apalagi ketika kabut itu tiba. Candi dan kabut rasanya sesuatu dalam diriku merasai sesuatu. Indah dan syahdu.

Beberapa saat aku menikmati pemandangan indah di depanku ini. Kurekam baik-baik ingatanku pernah singgah ke tempat yang menakjubkan ini.

Setiba di Jakarta secara tak sengaja aku berjumpa lagi dengan keduanya di acara yang melibatkan traveler lagi. Kali ini aku tahu kami memang ditakdirkan bertemu. Kami bertukar nomor dan sejak itu aku dan salah satu dari keduanya menjadi teman akrab dan beberapa kali melakukan perjalanan bersama.

Kini kami sudah lama tak berjumpa. Sejak hapeku pernah rusak, nomornya juga hilang. Setelah itu aku baru menyadari betapa misteriusnya temanku itu. Nama yang diberikan kepadaku rupanya nama panggilan, bukan nama sebenarnya. Aku juga tak banyak tahu tentangnya. Tapi meski demikian ia salah satu sahabat yang kurindukan.

Tinggalkan Balasan