Kisah-Kisah Perjalanan: Senja di Tanjung Aan

Tanjung Aan
Angin sepoi-sepoi menyentuh lembut helai-helai rambutku. Hawa segar memenuhi paru-paruku. Aroma laut samar–samar tercium. Wah jelang senja pantai ini sepi, pantai ini seperti hanya milikku.

Setelah puas menikmati panorama pantai Kuta yang ada di Mandalika, Lombok bagian selatan, kami makin menuju selatan. Kami menuju Pantai Tanjung Aan.

Pantai ini memiliki garis pantai yang panjang. Pasirnya putih dan butirannya agak lebih besar daripada pasir pada umumnya. Terasa geli di jemari kaki apabila tak mengenakan alas.

Seorang anak kecil mendekatiku dan menawarkan sesuatu. Ia rupanya berjualan pasir dalam sebuah botol. Aku tertegun. Bukannya hal tersebut sebaiknya tak dilakukan karena bisa merusak ekosistem pantai? Ia mungkin tak tahu dampaknya. Jika pasir pantai terus diambili maka apa yang akan terjadi kemudian.

Aku tak menghiraukannya. Aku dan enam kawanku asyik bermain pasir lalu berfoto-foto dan menikmati keindahan panorama.

Langit sudah makin memerah. Debur ombak makin terdengar meski tidak kencang. Suasana di sini begitu damai dan tenteram.

Pantai Tanjung Aan memiliki kaitan dengan kisah nyale. Alkisah ada seorang putri cantik yang memilih mengorbankan nyawanya dan kemudian bereinkarnasi menjadi nyale atau cacing laut. Pada musim-musim tertentu nyale ini akan muncul. Ia bisa diolah menjadi aneka masakan.

Lombok


Langit semakin memerah lalu kemudian gelap mulai berangsur berkuasa. Matahari itu telah beristirahat. Kami pun berlalu menuju penginapan.

Tinggalkan Balasan