Orang-orang Gaek di Kompasianival

Awak telepon Pak Isk_harun, “dimana tuan ? ” “Ambo sadang chek – up di Rumah Sakit Harapan Kita. ” terdengar suara dari sana. “Iyolah, basuo awak di Gandaria City ” Itulah percakapanan awak dengan Kompasianer Iskandar Harun.  Beliau ber usia 74 tahun seorang engine fligh.  Baru saja beberapa hari lalu tiba dari Australia.  Mungkin Beliau adalah kompasianer ter senior bila di lihat dari usia.   Kalau orang minang bilang lah gaek. Akhirnya kami bertemu agak siang, karena terlebih dulu awak dan Mohammad Nuryadi menjemput kompasianer terfavorite Tante Paku dari Bandara Soekarno Hatta.  Setiba di acara Ultah ke -4 kompasiana langsung disambut  senyum renyah  Kang Pepih Nugraha, admin senior merangkap Pak Bidan kompasiana.com

Orang tua kedua yang awak temui adalah Oma Eni di lapak Desa Rangkat Dalam perjalanan menuju Gandaria, kami berkomunikasi , “saya sedang di tol”  suara lembut Oma urang Subang. ” Sieplah, Oma kita ketemu disana ” Awak gembira ria bisa kopdaran dengan Nenek yang hobby nge-blog ini.  Berfotolah kami dengan Pak Edy Priyatna, kompasianer setengah tua yang pandai berpuisi. Ternyata penampilan Oma masih cantik dalam usia  senja. Awak bermohon dengan penuh harap, agar dibolehkan menyapanya dengan panggilan sayang Tante Eni,..hehehehe.  ” hush , pak haji, nanti cucu saya manggil apa”

Awak di seret Ngkong Ragile menuju ke lapak Fiksioner tempat duduknya para jenderal.  Disana nampak Bapak Cheppy dan Pak P. Ramelan.  Dalam usia pasca bhakti, kedua jenderal senior ini nampak gagah perkasa, ganteng tidak terlihat gurat ketuaan di wajah beliau. “Ini hadiah dari menulis”  kata Pak Cheppy. Berfotolah kami setelah bertukar sapa dengan sang bintang Leil Fataya.  Mbak Fataya yang telah menerbitkan buku ini adalah teman baru awak di kompasiana.  Ternyata penampilannya aduhai …. (biarlah Dokter Posma yang meng deskripsikan nya)

Berkeliling lagi di suasana ruang yang gaduh oleh suara musik keras. Bersapa dengan Uda Dian Kelana   sobat kental awak.  Kami telah beberapa kali kopdar, demikian pula dengan Pak Windu Hernowo.  Inilah 2 orang kompasianer gaek yang masih eksis menulis dan sangat produktif. Uda Dian tumben tidak  menenteng kamera, ” saya tidak mau kehilangan moment silaturahmi dengan kompasianer ” demikian Uda Dian mengatakan.  Awak mengharap di foto oleh si Uda, karena  kualitas jepretan kompasianer asli minangkabau ini belum ada yang bisa menandingi di kompasiana. Pak Windu,  penulis buku serial detektif ini punya hubungban emosional dengan awak, karena beliau pernah bermukim di kampong halaman Tempino Jambi.

Biarlah awak tidak mendapat hadiah dari admin pada ultah ke -4 si ana.  Hadiah itu awak dapatkan ketika bertemu kompasianer gaek terngocol.  Siapa dia kalau bukan Nur Setiono.  Kampiun Planet Kenthir ini sebenarnya beralamat tidak jauh jauh amat dari rumah awak, kami satu kecamatan di Caracas. Tetapi baru ini kita bertemu dan inilah pemunculan pertama Pak Nur di kopdar kompasiana.  Orangnya pakai topi bergaya anak muda dengan kaos bergaris  dan celana levis.  Bila ketemu di jalan pasti ngak nyangka kalau beliau sudah purnawira. Awet karena suka humor.  Bu Maria masuk golongan tua atau setengah tua ya…? Tetapi selamat dapat double prize. (ngiri.com)

Nah ini dia generasi kokoh. Kuat, gagah perkasa, tampan dan tajir.  Mau maunya menulis di kompasiana ngak dibayar, hehehehehe.  Kelompok ini sungguh sangat enerjik, sampai  akhir acara kompasianival pukul 22.00 masih berkenan hadir dan buktinya ada foto bersama.  Kelompok generasi ini terwakili oleh Tante Paku dan Dokter Posma dengan kisaran umur 40-50 tahun. Demikianlah laporan menghadiri ultah ke – 4 si ana.  Kesimpulannya berdasarkan usia maka penulis di kompasiana bisa dikelompokkan kepada 3 golongan :

  • pertama generasi gaek di atas 60 tahun.
  • kedua, generasi enerjik berusia 40-60 tahun
  • ketiga, generasi abg berusia 20-40 tahun.

Dimanapun kelompok kita berada, yang jelas keberadaan di kompasiana memberikan suatu ke gairahan dalam menempuh hidup dan kehidupan. Izinkanlah kami kelompok gaek berkelana disini, untuk mengulur waktu menuju kepikunan.  Dr. Irsyal Rusyad kompasianer mengatakan,  menulis adalah obat termujarab untuk menghindari penyakit alamiah PIKUN. Salam salaman Tede Behape, 3 Desember 2012 PenasehatpenakawanpenasaraN

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar

  1. Mas Nuryadi. Ini kisah nyata perhelatan kompasianival 8 tahun lalu. Kalau boleh memuji diri sendiri artikel ini enak dibaca, mengalir dan sedikit kocak. Mudah mudahan kang Pepih Nugraha sepakat. Hahaha
    Salam YPTD