Lima Agustus 2021 adalah jadwal pengambilan hasil swab dan USG. Saya bersama suami berangkat lebih pagi ke rumah sakit untuk melanjutkan proses rekam medis. Saya dan suami kembali berbagi tempat untuk pengambilan hasil swab dan USG. Saya mengantri di dekat laboratorium, sementara suami mengantri dekat taman terbuka depan pengambilan hasil radiologi. Kami sengaja datang lebih pagi agar bisa mendapatkan hasil lebih pagi juga.

Ternyata rencana tinggal rencana, untuk pengambilan hasil USG menunggu jam 10.00. Suami terpaksa menunggu meskipun lama.

Saya kembali ke ruangan tempat pengambilan hasil swab. Setelah menunggu dalam waktu yang lumayan lama, saya mendapatkan hasil swab dan hasilnya pun negatif. Kemudian saya langsung menyusul suami yang masih setia mengantri meskipun dari jarak jauh. Saya sempat menanyakan petugas perihal hasil USG suami, petugas pun mencari-cari dimana hasilnya. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya nama suami dipanggil. Alhamdulillah, untuk hasil tes yang kemaren telah selesai diambil hari ini.

Selanjutnya kami berjalan menuju ruang echo jantung. Suami memilih duduk di ruang tunggu karena terlalu lelah. Jarak yang kami tempuh lumayan jauh, ditambah dengan kondisi suami yang lemah membuat energi beliau makin terkuras.

Sementara saya langsung menemui petugas. Saya pun menunjukkan syarat yang diminta, ternyata saya gagal fokus. Yang diminta petugas hasil ronsen dada dan hasil swab, sementara yang saya tunjukkan hasil USG. Saya sempat menepuk jidat dan berkata, apa yang terjadi dengan pikiran ku.
Saya pun jadi bingung sendiri padahal kemaren sempat mau daftar ronsen dada tapi dibatalkan.

Saya pun kembali menemui suami dan menceritakan semuanya. Suami pun sempat kecewa, sebelum perang dingin dan saling menyalahkan, saya terlebih dahulu meninggalkan suami untuk mencari kursi roda.
Saya langsung mengambil nomor antrian baru untuk mendapatkan pengantar menuju ronsen dada. Sambil menunggu panggilan, saya menanyakan petugas bagaimana prosedur peminjaman kursi roda. Ternyata syarat nya hanya meninggalkan KTP asli. Saya bergegas menjemput suami. Setelah sampai, saya pun mendorong suami sambil menuju ruang pendaftaran.

Setelah menunggu dalam waktu yang lama, akhirnya nomor antrian yang saya pegang dipanggil. Saya berjalan ke loket yang ditunjukkan satpam dan menyerahkan fotokopi Surat kontrol dan surat rujukan. Selanjutnya saya mendapatkan paket berobat. Saya langsung mendorong suami ke lantai 3 ke Poli THT.

Setelah tiba di ruang tunggu Poli THT di lantai 3, saya meninggalkan suami sesaat,
sementara saya masuk ke ruang Poli untuk memasukkan berkas . Setelah diterima petugas, saya pun kembali diminta menunggu di luar. Saya langsung keluar dan bergabung dengan suami sambil menunggu panggilan. Untuk menghabiskan waktu, saya lebih banyak melakukan aktivitas menulis. Menulis telah mengisi hari-hari ku sehingga aku tidak merasa kesepian dan larut dalam semua masalah yang muncul.

Setelah menunggu lumayan lama, kami pun dipanggil masuk. Saya mendorong suami menemui dokter. Dokter pun menanyakan apakah rekam medis sudah dilakukan semua. Saya berkata, cek jantung belum karena syarat nya ronsen dada. Saya mau meminta pengantar untuk ronsen dada. Dokter pun kembali berkata, selesaikanlah rekam medis nya terlebih dahulu baru kontrol kembali.

Saya pun menemui petugas di ruang tersebut untuk mendapatkan surat pengantar menuju ronsen dada, ketika akan keluar, petugas tersebut melihat pengantar echo jantung dan menulis tiga huruf, kalau tidak salah BHC, di Tengah kertas paling atas. Saya tidak curiga sedikitpun karena saya tidak paham maksudnya apa. Yang sangat mengherankan adalah kenapa saya tidak bertanya perihal huruf tersebut. Setelah dicap semua, saya pun pamit dan keluar dari ruangan.

Memang tujuan awal saya mendaftar hanya meminta surat pengantar sekaligus paket berobat untuk ke echo. Sehingga tidak berkonsultasi dengan dokter. Setelah mendapatkan surat pengantar ronsen dada, kami pun turun ke lantai dasar. Kemudian langsung menuju loket pendaftaran di radiologi. Karena tidak terlalu ramai, proses pendaftaran sangat cepat. Kemudian petugas menyuruh pasien duduk di depan kamar 3.

Saya pun mendorong suami ke pintu nomor tiga, di sana sudah menunggu beberapa orang. Melihat kondisi suami yang kurang fit, saya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan beliau.

Setelah menunggu lumayan lama, akhirnya kami dipanggil. Suami meninggalkan kursi roda nya tepat di pintu masuk ronsen dada. Di dalam hati saya hanya berdoa semoga suami baik-baik saja dan terhindar dari segala efek samping yang akan muncul. Ronsen dada dilakukan dalam waktu singkat. Setelah selesai, suami pun kembali keluar ruangan dan suami kembali duduk di kursi roda.

Harapan kami hasil ronsen dada selesai setelah menunggu 3 sampai 4 jam, ternyata perkiraan kami salah besar. Hasil ronsen dada pun diambil keesokkan hari nya. Maka batal lah rencana untuk melakukan echo jantung.

Setelah urusan selesai semua, akhirnya kami pun segera pulang. Sebelum pulang, saya meninggalkan suami di dekat pintu keluar sementara saya mengembalikan kursi roda dan mengambil KTP kembali. Selanjutnya saya menyusul suami.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, kami mampir membeli makan siang. Hari ini suami tidak membeli makanan apapun. Hanya saya yang membeli nasi putih plus ikan bakar. Untuk saya sendiri pun sebenarnya juga sudah bosan hanya makan itu-itu saja dari hari ke hari.

Tapi saya harus tetap selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan untuk kami. Kami tidak tahu apa hikmah di balik ujian ini. Saya hanya percaya, inilah cara Tuhan Menyapa dan mengingatkan kami bahwa di atas langit ada langit. Kami harus senantiasa rendah diri dan sabar menjalaninya.

Semoga hari-hari yang dilalui secerah matahari bersinar sepanjang hari. Semoga harapan untuk kesembuhan segera diraih. Aamiin.

Sore hari nya, suami akan menghabiskan waktu menahan sakit dan mencoba menutup mata untuk tidur. Beliau lebih banyak menghabiskan waktu dalam keadaan gelisah karena susah tidur. Penyakit yang diderita benar-benar telah merenggut kebahagiaan dan senyuman nya. Sensitif menjadi salah satu sifat yang sering hadir. Kadangkala muncul pertentangan pendapat, pertentangan itu tidak sampai membuat atau menghancurkan hubungan kami.

Tiap pasangan pasti sering mengalami perselisihan karena ada nya perbedaan pendapat. Yang bisa selamat dari perbedaan tersebut adalah salah satu mengalah yaitu mengalah demi keutuhan dan kebaikan berdua. Mengalah bukan arti kalah tapi mengalah untuk kebaikan. Jangan melawan api dengan api karena bukan menghentikan api tapi memperluas jangkauan api. Lawanlah api dengan air sehingga api dapat padam. Begitupun sifat manusia, ketika sama sama emosi, mengalah lah salah satu meredam masalah, dengan begitu hubungan tetap harmonis.

Berusaha menjadi insan yang saling memahami satu sama lain membuat tiap masalah bisa terselesaikan. Apakah kami akur terus? Kata siapa? Kami bukan malaikat, kami hanya manusia biasa. Pastilah dalam keluarga ini sering muncul nya masalah, tapi kami berusaha menyikapinya.

Hidup bukan untuk ditangisi tapi untuk dijalani. Hiasi hidup dengan kebahagiaan karena tidak semua orang bisa bahagia.

Tinggalkan Balasan