Dreams Can Become True

Cita-cita, mimpi dan harapanku, ku bangun perlahan di masa remajaku. Aku, seorang gadis biasa, 18 Tahun yang lalu aku dilahirkan. Namaku, Raihani Meliana Putri. Mereka kerap memanggilku Hani, atau Rai. Tapi Mama dan seluruh keluarga panggil aku “Kaka”. Aku anak kedua dari tiga bersaudara, dan satu-satunya perempuan.

 

3 Tahun yang lalu, di masa kegalauan karena tidak bisa masuk sekolah negeri, mama menawarkan aku untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan Kesehatan dan mengambil jurusan keperawatan. Dan mimpi serta cita citaku berawal disini, sebagai seorang perawat yangbisa mendedikasikan hidupnya demi hidup orang lain dan kemanusiaan. Aku menjalani Sekolah Menengahku di dua sekolah berbeda.

Masa itu, masa yang penuh haru biru, tapi juga masa yang paling berkesan buat ku. Di sekolah, aku mengalami beberapa kejadian tidak mengenakkan dengan sesama murid dan guru. Tetapi itu semua tidak pernah membuatku berkecil hati. Semua peristiwa itu, membuat tekad dalam hati semakin membara. Aku ingin sekali membuat mereka yang “menyepelekan dan memandang ku sebelah mata” akan melihat “ Aku yang sebenarnya” .

 

Aku mulai mengikuti grup Bahasa Inggris di WhatsApp melalui link dari kawan yang aku kenal. Grup Bahasa Inggris ini, beranggotakan hampir ratusan orang dari luar negeri. Aku aktif dan menjadi admin di grup WhatsApp Bahasa Inggris tersebut.

Saat dulu aku sangat hobi bernyanyi dan didalam grup tersebut kita ada pelajaran bernyanyi berbahasa inggris, jadi ketika ada yang mengirim kan lirik lagu, aku siap menyanyikan nya. Sampai Akhirnya seorang laki-laki menegurku lewat pesan pribadi. mencoba menasehatiku demi kebaikanku sebagai seorang muslimah.

Dia, Seseorang dari Mesir, yang berprofesi sebagai Nurse di Zagazig Hospital. Dan akhirnya persahabatan kami menjadi berkembang kea rah yang lebih baik. Dia mulai mengaajarkan aku berdakwah dengan “Sister-Sister Mualaf” dari berbagai negara. Dan aku menjadi admin di grup tersebut dan mendapat bimbingannya.

Ini Merupakan pengalaman baru dan tak ternilai harganya. Dimana akhirnya aku memiliki banyak teman yang mengerti dan memahami aku. Kebanyakan dari mereka berumur jauh diatas aku, tetapi aku suka berbicara dengan mereka karena mereka membawaku berselancar dalam kehidupan mereka yang membuat aku semakin bersyukur setiap hari dengan apa yang ada pada diriku dan kehidupanku.

 

Suatu waktu, mama menawarkan sebuah kegiatan “Camp and Training for Basic First Aid” dari Komunitas Relawan Bulan Sabit Merah Indonesia. Saat itu umurku masih 17 tahun, dan minimal umur yang boleh mengikuti adalah 17. Dan aku adalah satu satunya peserta yang masih sangat remaja. Mama yang selalu prihatin melihat ku tidak mempunyai teman, selalu berkata “ Ruh itu akan selalu berkumpul dengan yang satu frekuensi, jadi jangan pernah bersedih, kelak kau akan bertemu orang-orang baik yang satu frekuensi dengan dirimu”. Kata-kata itu membuatku mengiyakan untuk mengikuti camp, yang manfaatnya bisa memperbaharui dan menambah kemampuan ku dalam First Aid, dan berorganisasi, serta membuat jaringan pertemanan dengan beberapa orang medis dan non medis yang kelak dibutuhkan di masa depan ku.

Alhamdulillah kujalani dengan sangat bahagia, menjadi relawan di Bulan Sabit Merah Indonesia. Kurang lebih setahun ini. Aku dapatkan banyak ilmu dan pengalaman serta kakak-kakak dari bidang medis yang selalu baik hati memberikan ilmu dan support. Beberapa kali aku pun mengikuti baksos medis dan menjadi bagian relawan medis pula, dan pernah juga menjadi relawan medis dalam bencana banjir di bulan Februari tahun 2020. Karna semua hal itu aku semakin yakin akan cita citaku menjadi tenaga medis.

Aku mulai menjalin persahabatan juga dengan beberapa dokter di luar negeri yang peduli pada masalah kemanusiaan, dan Islam. Dan Kesempatan yang lain datang pula, ketika sahabat baikku yang juga seorang syaikh dan nurse dari Mesir mengajakku untuk bergabung bersama mengembangkan halaman medis miliknya selama aku menanti hasil SNMPTN dan SBMPTN yang aku ikuti. Aku kembali pada rutinitas ku mempelajari ilmu penyakit dan anatomi, dan hobiku menggambar. Aku kolaborasikan hingga menjadi konten informasi kesehatan untuk para pembaca asing di seluruh negara.

 

Dan Semua pengalaman ini menjadi kisah indah ku pada masa remajaku. Aku belajar dan menyadari tugasku di dunia sebagai manusia dan makhluk social. Dan selalu belajar untuk terus optimis, walaupun semua orang “memandang sebelah mata” tidak yakin akan kemampuan diriku.

Dan,aku semakin yakin akan Allah, karena Allah selalu memberikan kejutan demi kejutan indah di masa remajaku.

Tinggalkan Balasan