Fenomena Manusia Silver di Tengah Pandemi.

Sumber gambar: Megapolitan.Kompas.com

Fenomena “Manusia Silver mungkin sudah tak asing lagi bagi kebanyakan orang. Pada awalnya “Manusia Silver” hadir sebagai bagian dari seni pertunjukan (happening art), kemudian bergeser menjadi bagian dari atraksi yang disediakan event organizer dalam menata sebuah acara. Namun beberapa waktu terakhir ini, mereka sering kali kita jumpai beraksi di berbagai titik persimpangan lampu merah.

Sesuai dengan namanya “Manusia Silver”, mereka mengecat tubuhnya dengan cat silver (perak). Cat silver ini berasal dari cat sablon yang terkadang dicampur minyak tanah atau minyak goreng untuk menambah mengkilap tubuh mereka.

Sosok manusia silver tersebut biasanya terlihat paruh baya, namun tak jarang pula ada yang merupakan anak di bawah umur. Aksi meminta sumbangan acapkali dengan membawa kardus dan tanpa bersuara, menjadi salah satu ciri khas manusia silver.

Bahkan ada beberapa pelakunya yang memilih diam tak bergerak, untuk mengesankan dirinya sebuah patung demi menggerakkan hati orang-orang untuk beramal.

Namun ada juga yang melakukan street performance dengan membaca puisi, menyanyi, bahkan belakangan mereka juga terlihat ikut “mengatur” lalu lintas.

Fenomena keberadaan “manusia silver” merupakan salah satu fenomena sosial yang terjadi di wilayah urban atau kota-kota besar. Tujuan kehadiran mereka di jalan-jalan tidak lepas dari keterpaksaan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Mereka harus rela mengorbankan tubuhnya dengan dilumuri cat berwarna silver, yang bukan tanpa resiko. Rasa gatal-gatal mereka rasakan, belum lagi sengatan matahari yang cukup panas.

Baca juga: Pengamen Ondel-ondel Meninggikan Budaya Betawi atau Sebaliknya? 

Pada awalnya kehadiran mereka di jalanan menarik simpati warga yang melintas, namun seiring berjalannya waktu, kehadiran mereka kini dinilai mengganggu ketertiban. Paling tidak jika dilihat dari sudut pandang Dinas Sosial.

Beberapa dinas sosial di kota-kota besar, telah melakukan penertiban dan menangkap sejumlah manusia silver dalam razia Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Sementara itu, menurut Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI), Lidya Triana, “pandemi Covid-19 merupakan salah satu penyebab munculnya banyak manusia silver di jalanan, orang yang terimbas perekonomiannya karena pandemi pun memilih menyambung hidup menjadi manusia silver”.

Lidya menjelaskan, kemiskinan hanya salah satu penyebab, banyak faktor yang mendorong seseorang turun ke jalan, seperti kondisi keluarga yang berantakan dan eksploitasi.

Pemerintah harus lebih serius menyikapi keberadaan manusia silver, terutama mereka yang masih berusia anak-anak dan remaja. Bisa jadi keberadaan manusia silver, khususnya yang masih di bawah umur (anak-anak dan remaja) ada pihak-pihak yang memanfaatkan (eksploitasi) mereka untuk mendapatkan keuntungan.

Dukungan masyarakatpun sangat dibutuhkan dalam menyikapi fenomena keberadaan manusia silver. Menjamurnya keberadaan manusia silver di jalanan, tak lain karena warga kerap memberikan uang. Selama masih banyak orang yang memberi uang di lampu merah, maka selama itu juga mereka akan ada terus.

Kita harus bijak dalam menilai dan menyikapi keberadaan manusia silver. Sebagai sesama manusia, tentu kita sama-sama merasakan kesulitan ekonomi akibat dampak pandemi saat ini. Pemerintah harus dapat menemukan akar masalah penyebab utama maraknya manusia silver di jalan-jalan.

Jika permasalahannya adalah keterpaksaan karena tidak ada pekerjaan yang layak, maka kewajiban negara menyiapkan pekerjaan yang layak. Bukankah konstitusi telah mengamanahkan bahwa” Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan” (UUD 1945 Pasal 27 ayat 2 ). 

Jika ada dari manusia silver tersebut terpaksa turun ke jalan karena putus sekolah, maka mereka harus dikembalikan ke sekolah dengan diberikan subsidi atau bantuan biaya sekolah.

Namun jika memang masalahnya terletak pada mentalitas mereka yang memang suka di jalan, maka peran dinas sosial di tiap daerah sangat dibutuhkan untuk memberikan kesadaran akan pembangunan mental dan karakter mereka dengan melalui pembinaan dan pelatihan-pelatihan.

Sekali lagi peran masyarakat sangat dibutuhkan, dengan cara tidak “memanjakan” mereka dengan memberi uang. Jangan sampai mereka berkesimpulan nantinya, “lebih baik di jalan, dapat mengumpulkan uang  Rp 100 ribu-Rp 200 ribu per hari daripada harus sekolah, “lebih baik di jalan, dapat mengumpulkan uang  Rp 100 ribu-Rp 200 ribu per hari dari pada harus bekerja”.

Kita berharap semoga semua warga negara Indonesia mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, dan kita berharap juga semoga semua anak bangsa dapat memperoleh haknya untuk mendapatkan pendidikan sebagai bekal masa depan mereka.***

Salam. Ropiyadi ALBA

Ropiyadi ALBA

Ropiyadi ALBA Tenaga Pendidik di SMA Putra Bangsa Depok-Jawa Barat dan Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan MIPA Universitas Indra Prasta Jakarta.

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat, membaca dan menulis untuk pengembangan potensi diri dan kebaikan ummat manusia.

Tinggalkan Balasan