‘Idul Adha:Bukti Ketaatan, Pengorbanan, dan Kepasrahan

  

Sumber gambar :umma.id

‘Idul Adha atau disebut juga ‘Idul Qurban adalah hari raya kedua umat Islam setelah ‘Idul Fitri. Kalau kita mau flashback ke belakang mengenai sejarah qurban pertama kali, maka akan kita temukan bahwa hakikat persembahan qurban yang diterima Allah Subhanahu wa ta’ala adalah qurban yang terbaik yang berasal dari hati yang ikhlas dan tunduk pada perintah-Nya. Putra Nabi Adam ‘alaihi salam yang bernama Habil, karena ketulusan dan ketundukannya pada perintah Allah Subhanahu wa ta’ala, telah membuahkan hasil diterima pengurbanannya sebagai bentuk taqorrub (pendekatan)nya pada Allah Subhanahu wa ta’ala. Sementara saudaranya Qabil karena qurban yang diberikan berupa sesuatu yang buruk, bahkan yang ia tidak sukai maka sudah sewajarnya Allah Subhanahu wa ta’ala lalu menolak persembahannya. Hal ini telah diabadikan Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al qur’an Surat Al Ma’idah ayat 27 :

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertakwa”.(Q.S 5 :27)

Dari peristiwa sejarah ini dapat kita ambil pelajaran bahwa dasar dari sebuah pengorbanan adalah rasa tulus dan ikhlas yang dilandaskan pada kepasrahan dan kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah Subhanahu wa ta’ala menerima qurban yang diberikan Habil berupa seekor domba yang sangat besar karena didasari oleh keikhlasan dan ketaqwaan kepada-Nya. Sementara qurban Qobil ditolak karena dilakukan atas dasar hasud (kedengkian) kepada saudaranya. Karena kebakhilannya, ia juga memilihkan domba peliharaannya yang kurus untuk diqurbankan.

Sejarah peradaban manusia terus berputar sampai pada suatu peristiwa yang menjadi tonggak awal contoh bukti ketaatan sekaligus kecintaan tertinggi manusia hanya kepada Sang Khalik. Nabi Ibrahim A.S, seorang laki-laki yang yang telah lama mengidam-idamkan lahirnya seorang putra belahan jiwa. Seorang manusia yang segala harta benda yang ia miliki sering ia korbankan agar Tuhan mau mengabulkan keinginannya.

Sampai pada akhirnya lahirlah seorang anak laki-laki yang cerdas dan penurut yang ia beri nama Ismail. Seluruh kecintaan dan kasih sayang ia curahkan kepangkuan putranya yang selama ini telah lama ia nantikan. Allah Tuhan Yang Maha Pengasih tidak mau membiarkan hambanya pada kecintaan yang berlebihan pada makhluk-Nya, hingga Iapun menguji Ibrahim ‘alaihi salam dengan ujian yang teramat berat menurut orang kebanyakan. Allah Subhanahu wa ta’ala memerintahkan Ibrahim alaihi salam untuk menyembelih putranya Ismail. Pada awalnya Ibrahim alaihi salam merasa ragu, apakah benar ini adalah perintah Tuhan?

Setelah Ibrahim ‘alaihi salam yakin akan perintah Tuhan tersebut, kemudian ia menyampaikan hal itu kepada putranya. Di luar dugaan, ternyata yang ia dapati adalah jawaban yang sangat luar biasa dan makin memantapkan langkah Ibrahim untuk membuktikan taat dan cintanya pada Allah Subhanahu wa ta’ala lebih di atas cintanya pada yang lain termasuk anak.  Hal ini diabadikan Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al qur’an Surat As Saffat (37) ayat 102 :

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Q.S 37:102)

Dari dua peristiwa sejarah ini kita dapat berkaca, sudahkah kita seperti Habil dan Ibrahim ‘alaihi salam?. Apakah dalam kehidupan sehari-hari, kita masih didominasi oleh kecintaan pada materi?, Apakah kita masih enggan untuk memberikan yang terbaik?. Idul Adha harus dimaknai tidak sekedar ibadah ritual, namun harus dijiwai oleh semangat lebih mendekatkan diri kepada Allah ‘alaihi salam dan kepedulian kepada sesama manusia. Melalui peringatan ‘Idul Adha, kita harus jadikan diri kita benar-benar merdeka, merdeka dari penghambaan kepada selain Allah, merdeka dari penjajahan manusia terhadap manusia,  merdeka dari sifat kikir, pelit, dan serakah.

Penyembelihan hewan qurban menjadi simbol buat kita, agar kita menyembelih dan menghilangkan sifat “kebinatangan” yang ada pada diri kita. Penyembelihan hewan qurbanpun menjadi simbol bahwa nyawa manusia begitu sangat berharga, tidak boleh ditumpahkan dengan sia-sia. Sehinggga pada peristiwa sejarah yang silam Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengganti Ismail dengan kambing gibas yang besar. Di negeri Indonesia yang kita cintai ini sudah tidak boleh lagi terdengar adanya manusia-manusia yang berprilaku seperti binatang, membunuh sesama manusia, merampas hak orang, dan lain sebagainya.

Saat ini, Indonesia membutuhkan para orang tua dan pemimpin yang dapat menjadi teladan seperti Nabi Ibrahim ‘alaihi salam. Indonesia membutuhkan para anak muda yang cerdas dan religius seperti Ismail ‘alaihi salam. Jika generasi tua dan generasi mudanya sudah dapat bekerja secara sinergis, memiliki mental pengorbanan yang tinggi yang dilandasi nilai-nilai Ilahiyyah, maka tidak mustahil Indonesia akan menjadi negeri yang penuh dengan keberkahan, baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Aamiin ya robbal ‘alamiin.***

Tinggalkan Balasan