oleh

Sang Guru Disabilitas

-Terbaru-Telah Dibaca : 70 Orang

Sang Guru Disabilitas

Cing Ato
Guru Blogger Madrasah, motivator literasi, desainer, pegiat literasi, teacher MTs N 5 Jakarta.

Sejak GBS Menyerangku, dunia seperti gelap tak bercahaya. Mimpi – mimpiku satu-persatu terkuburkan. Gerakku terbatas, tidak banyak aktivitas yang bisa kulakukan. Hidupku penuh ketergantungan dengan orang lain.

Keseharianku tidak jauh dari ruang UKS dan ruang laboratorium IPA. Maklum karena sebagai penyintas GBS yang masih dalam keterbatasan (disabilitas) masih duduk di kursi roda. Jadi tidak bisa mengajar pada tempat semestinya. Maklum, ruang kelas hampir semua berada di lantai dua dan tiga.

Ada si ruang yang bisa kutempati untuk mengajar, karena aku bukan prioritas, tidak terlalu dipikirkan. Ya, sudah aku nikmati saja walau pada dasarnya hati kurang menerima.

Aku bukan siapa-siapa. Pernah meminta sesuatu yang sangat vital beberapa kali, tapi harus menunggu cukup lama, sementara aku butuh secepatnya. Mungkin, anggaran sekolah belum ada.

Aku bukan tipe orang yang gampang menyerah. Aku harus berpikir cepat dan mencari solusinya. Aku browsing di internet, aku dapatkan beberapa model lalu aku pelajari. Lalu aku pinta bantuan saudara untuk menggerakannya.

Aku sengaja share ke group WhatsApp agar yang berwenang melihatnya. Betul saja baru beberapa pekan aku gunakan. Eh, pekan berikutnya sudah dibuatkan. Alhamdulillah…!

Walau sebagai guru disabilitas kewajiban sebagai guru tetap kupenuhi sebagai mana teman-teman guru yang lainnya. Aku tak bedanya dengan teman-teman, masuk dan pulang sesuai waktu yang sudah ditentukan. Tidak ada waktu dispensasi, kecuali pada waktu satu semester awal sebagai percobaan, karena masih kondisi labil.

Justru aku berusaha untuk terdepan dalam menjalankan kewajiban sebagai guru. Pernah suatu hari dalam pertemuan dengan rekan-rekan kerja ada salah satu rekan kerja mengeluh. Langsung rekan yang lain menunjukkan telunjuknya ke arahku sambil berkata,”Bercerminlah pada cing Ato, tak sedikitpun semangat dan tanggung jawabnya pudar walau dalam kondisi sakit dan serba keterbatasan!”

Aku terus berusaha untuk meng-upgrade dan meng-update berbagai disiplin ilmu yang sedang trending. Contoh, pada bidang literasi. Aku berusaha belajar dengan teman-teman guru dan group-group pelatihan menulis di luaran sana. Bahkan ikut pelatihan dan kursus. Setelah itu aku sering menulis dan menerbitkan buku dalam kondisi sakit, banyak teman-teman di luaran mengajak untuk mengisi pelatihan sebagai seorang motivator literasi.

Dalam mengajar aku berusaha seoftimal mungkin. Aku pelajari berbagai macam media pembelajaran yang bisa diakses lewat digitalisasi. Dengan digitalisasi proses kegiatan pembelajaran berjalan dengan lancar, walau aku dalam keterbatasan. Dengan mengusai teknologi dan informasi sangat membantu dalam proses kegiatan pembelajaran.

Kendala mengajar dalam keterbatasan, pasti ada. Namun, semua itu membuat aku berpikir untuk mencari solusinya. Apalagi menghadapi siswa setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) yang masih labil.

Ada saja dalam satu kelas siswa bermasalah. Terkadang mereka sengaja memanfaatkan keterbatasanku untuk tidak fokus belajar. Dahulu ketika sehat, tidak ada yang berani macam-macam, ketika aku mengajar. Sebab aku selalu mengadakan pree tets dan pos tets, sehingga mereka datang sudah punya gambaran materi apa yang akan dibahas. Terkadang butuh alat untuk mencambuk semangat kepada mereka yang malas belajar.

Aku jadi teringat ketika mengaji, aku dan rekan sepengajian tidak bisa meneruskan bacaan Shorof (salah satu ilmu bahasa Arab) aku dan rekan sepengajian digebuk pakai bantal oleh ustazku. Bahkan, anaknya disepak dengan kaki. Setelah itu aku dan rekan-rekan selalu mempersiapkan diri sebelum mengikuti pengajian. Intinya pak ustaz mengharapkan santrinya rajin belajar.

Semangat belajar siswa-siswi sangat rendah dan malas membaca. Mereka datang ke sekolah laksana botol kosong. Hampir semua siswa-siswi lebih senang dan bermesraan dengan smartphone daripada membaca buku pelajaran. Di tambah dengan sistim KKM yang mengharuskan siswa-siswi mencapainya.

Banyak manipulasi nilai karena desakan dari atasan, ditambah guru tidak mau pusing. Akhirnya semua dituntaskan. Ya, sedih saja lihat realita yang ada.

Dalam setiap event aku jarang dilibatkan, karena aku dalam keterbatasan. Aku harus menyadari dan menerima semua itu dengan lapang dada. Aku harus berfositif thinking dan memanfaatkan waktu luang untuk melakukan hal-hal yang positif. Seperti, menulis, membaca buku, mempelajari media pembelajaran digital, mendesain, merapikan administrasi pembelajaran, dan pokoknya melakukan sesuatu yang bisa aku lakukan disaat keterbatasan sebagai penyintas GBS (Disabilitas).

Walhasil dalam keterbatasan aku bisa mensejajarkan diriku dengan teman-teman. Menulis dan menghasilkan 13 buku solo ber-ISBN. Kini aku masih terus menulis dan mempelajari ilmu pengetahuan tentang tulis-menulis. Selanjutnya aku akan ciptakan penulis-penulis muda dari siswa-siswiku. Semoga terwujud!

Cakung, 04 Desember 2022

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan