Informasi HIV/AIDS yang Tidak Akurat di Situs Mahasiswa UNIKAMA Malang

KMAB32

Informasi tetang HIV/AIDS yang tidak akurat akan menyesatkan sehingga menempatkan orang-orang yang membaca informasi itu di tepi jurang penularan HIV/AIDS

Oleh: Syaiful W. Harahap

Informasi tentang HIV/AIDS dalam artikel “PENCEGAHAN DAN PENULARAN HIV/AIDS” di situs mhs.unikama.ac.id (Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, Jatim) ini misleading (menyesatkan).

Dalam artikel yang diunggah 4/3-2018 ini beberapa pernyataan amat sangat tidak akurat sehingga menimbulkan pengertian dan pemahaman yang salah.

Informasi terkait HIV/AIDS pun jadi mitos (anggapan yang salah) yang akhirnya bisa menyesatkan orang-orang yang membaca artikel ini.

Ada pernyataan dalam artikel: Tetapi Virus HIV/AIDS ini BISA TERTULAR dari Tranfusi darah, Hubungan Seks yang berganti ganti pasangan, ASI dan Ganti ganti jarum suntik juga jadi alasan penularan virus itu.

Penyebutan ‘Hubungan Seks yang berganti ganti pasangan’ sebagai media penularan HIV/AIDS jelas tidak akuart karena hal itu merupakan perilaku berisiko tertular HIV karena bisa saja salah satu dari pasangan tersebut mengidap HIV/AIDS.

Penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksua bisa terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu atau kedua pasangan itu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom setiap melakukan hubungan seksual.

Itu artinya penularan HIV/AIDS melalui hubungan sekual bukan karena sifat hubungan seksual (berganti-ganti pasangan, zina, melacur, di luar nikah, sek pranikah, selingkuh dan homoseksual), tapi karena kondisi saat terjadi hububungan seksual yaitu salah satu atau kedua pasangan itu mengidap HIV/AIDS dan laki-laki atau suami tidak memakai kondom setiap melakukan hubungan seksual (Lihat matriks).

Matriks: Risiko penularan HIV/AIDS berdasarkan sifat dan kondisi hubungan seksual. (Foto: Dok Pribadi/Syaiful W. Harahap)

Memakai jarum suntik dan tabungnya dengan bergantian secara bergiliran, terutama pada penyalahguna Narkoba (Narkotika dan bahan-bahan berbahaya) secara bersama-sama juga merupakan perilaku nonseksual berisiko tertular HIV/AIDS. Hal ini terjadi karena ada kemungkinan salah satu atau beberapa dari mereka mengidap HIV/AIDS sehingga ketika menyuntik darah masuk ke jarum dan tabung. Ketika jarum suntik dan tabung dipakai yang lain darah yang mengadung HIV/AIDS terdorong masuk ke tubuh.

Ada lagi pernyataan: Lalu siapa yang beresiko menjadi penderita HIV/AIDS? Beberapa kriterianya adalah sebagai berikut: Pencinta sesama jenis (Homo seksual/Lesby).

Ini benar-benar ngaco bin ngawur karena lesbian (bukan Lesby) tidak melakukan seks penetrasi sehingga tidak ada risiko penularan melalui seks pada lesbian.

Lesbian merupakan homoeksual, dan juga gay laki-laki. Tapi, dalam pernyataan itu tidak disebut gay. Malah ada kesan homoseksual hanya lesbian.

Terkait dengan ‘Ada Fase gejala sebelum jadi penderita HIV/AIDS’ harus ada prakondisi yaitu fase-fase itu bisa dikaitkan dengan infeksi HIV jika yang bersangkutan pernah atau sering melakukan perilaku seksual dan nonseksual berisiko.

Perilaku seksual berisiko yaitu:

(1). Laki-laki dan perempuan dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual penetrasi (seks vaginal, seks anal dan seks oral), di dalam dan di luar nikah, dengan pasangan yang berganti-ganti dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom,

(2). Laki-laki dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual penetrasi (seks vaginal, seks anal dan seks oral) dengan perempuan yang serng berganti-ganti pasangan, dalam hal ini pekerja seks komersial (PSK) langsung dan cewek prostitusi online, dengan kondisi laki-laki tidak memakai kondom, dan

(3). Perempuan dewasa yang pernah atau sering melakukan hubungan seksual penetrasi (seks vaginal, seks anal dan seks oral) dengan gigolo dengan kondisi gigolo tidak memakai kondom.

Sedangkan perilaku nonseksual yang berisiko tertular HIV/AIDS, yaitu:

(a). Memakai jarum suntik dan tabungnya secara bergantian dengan bergiliran, terutama pada penyalahguna Narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya),

(b). Menerima transfusi darah yang tidak diskrining HIV, dan

(c). Menyusui air susu ibu (ASI) pada perempuan yang mengidap HIV/AIDS.

Ada juga pernyataan; Jadi gays kita bisa menghidari virus tersebut dengan cara:

  • SETIA sama pasangan jangan berganti ganti pasangan
  • Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seks
  • Jauhi Narkoba
  • Tidak berganti ganti jarum suntik
  • Memastikan transfusi darah dari orang yang tidak terinfeksi
  • Dekatkan diri sama Sang Pencipta.

Nomor 1 tidak jaminan karena bisa saja pernah ganti pasangan sebelumnya dan ganti-ganti pasangan dalam bentuk perselingkuhan.

Nomor 2 hubungan seksual yang bagaimana harus pakai kondom? Tidak jelas. Memakai kondom, dalam hal ini laki-laki dewasa, jika hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dilakukan dengan perempuan yang berganti-ganti karena bisa saja salah satu dari perempuan tersebut mengidap HIV/AIDS.

Nomor 3 yang dijauhi buka Narkoba karena Narkoba adalah obat (anestesi). Jika tidak pakai Narkoba berapa orang yang mati di meja operasi ketika pembedahan. Yang dijauhi adalah penyalahgunaan yaitu penggunaan tanpa resep dokter.

Nomor 4 terkait dengan penyalahguna Narkoba karena di fasilitas kesehatan jarum suntik dan tabung yang dipakai adalah sekalai pakai langsung buang.

Nomor 5 caranya bukan seperti itu, tapi pakailah darah dari Bank Darah PMI karena di sana darah donor diskrining iMS dan HIV.

Adalah cara-cara yang arif dan bijaksana jika kita menyampaikan informasi, dalam hal ini HIV/AIDS, berpijak pada fakta medis bukan mitos karena kalau mitos akan menyesatkan dan membuat orang dalam posisi berisiko tertular HIV/AIDS. (Sumber: Kompasiana, 18/7-2022)*

Tinggalkan Balasan