Tikungan Menuju Surga

Tikungan Menuju Surga (1) Tung Widut “Met, Met bangun. Adan subuh. Ayo bangun,” panggil Yumaida. Panggilan kepada Slamet anak tunggalnya. Slamet anak umur 16 tahun itu setiap hari memang terbiasa

Jam-jam Terakhir

Jam-jam Terakhir Tung Widut Hari begitu sibuk dengan beribu tugas Yang tak pernah disentuh selama corona mewabah Setumpuk tulisan yang tak pernah dipahami Dibuang jauh saat hura-hura datang lebih menyenangkan

Tidur Malam

Tidur Malam Rung Widut Hujan tak lekang dingin Merapat menjalar melalui celah cendela kamar Beriring bunyi jengkejrik abadi saat malam Mata mulai menguap merindukan bantal Tak mampu berjalan dalam gelap

Bayangan di Kaki Senja

Bayangan di Kaki Senja Tung Widut Terlihat bayangmu kala senja Berdiri memandang jauh ke alam bebas Menyapa matahari yang akan meninggalkan siang Keperaduan karena malam telah datang Terlihat bayangmu kala

Kebebasan

Kebebasan Tung Widut Sisihkan empat windu kekangan Dengan hati luka menerjang kawat berduri yang melingkar di jari manis Batalkan janji suci yang penuh kepalsuan Tak lagi ada rindu yang membuat

Kebersamaan Terakhir

Kebersamaan Terakhir Tung Widut Sederhana tapi  mengena Akhir sebuah  perjuangan di bangku kelas Akhir sebuah gelauan nilai dalam selembar kertas Sadar kebahagiaan sementara Sebagai ungkapan rasa Membuka mata untuk masa

Mengapa Malam

Mengapa Malam Tung Widut Gelap merangkak di ufuk barat Mengurai pekat yang nanti akan datang semakin dalam Tak kan ada rembulan dalam cerita semalam Hanya bintang bertaburan gemerlip tersenyum manja

Burung Malam

Burung Malam Tung Widut Mengepakkan sayap membelah gelap Sendirian bercuit unjuk diri Salahkah dia saat membanggakan suaranya Mengapa mereka bertanya namanya Saling cerita sejak kedatangannya Merasa risih adanya Tak suka

Mahkota Sang Penulis

Mahkota Sang Penulis Tung Widut Perlahan kata demi kata ditoreh Pada layar kaca bercahaya Setiap detak jantung mulai merajut Cerita yang dikais dari mata hati Perlahan kata terukir di selembar

Subuh

Malam Berakhir Sudah Tung Widut Menggema panggilan umat Dari rumah Allah yang tersebar Perlahan mata terbuka menyambutnya Satu persatu umat berdatangan Gemericik air dari kran surau Jalanan lengang kadang terbelah