Gak Nyangka, Di Brunei Ada Jalan Ong Sum Ping

Sore itu kebetulan saya ada janji untuk mampir ke rumah sobat saya yang orang Brunei di kawasan Tutong .

 

Sekitar pukul lima sore, Haji Hasan sebut saja demikian nama teman saya sudah muncul dengan mobil Mercy nya di hotel saya.

 

“Yuk kita pusing-pusing sebentar di Bandar sebelum langsung ke Tutong “, demikian kata sobat saya ketika saya masuk ke mobil nya.

 

“Terserah Haji Hassan saja “, jawab saya manis sambil menikmati interior kendaraan yang lumayan mewah itu.

 

Mobil mulai meluncur di jalan Tasek dan kemudian belok kiri di jalan Simpang.

Jalan lumayan ramai , maklum waktunya orang pulang kantor. 

 

Di lampu merah kita belok kanan di Jalan Kumbang Pasang, saya juga sering melewati jalan ini.  

 

Sekitar 2 menit di Jalan Kumbang Pasang, Haji Hassan membelokan mobil ke kanan dan memasuki Jalan Ong Sum Ping. 

Disini ada beberapa kompleks apartemen yang dibangun ketika Brunei menjadi tuan rumah Sukan SEA tahun 1999 dahulu.

 

Bagaimana kisahnya di negara Melayu Islam seperti Brunei Darussalam ada jalan bernuansa Tionghoa seperti Ong Sum Ping ?

 

Akhir nya sambil menyusuri jalan Ong Sum Ping yang bentuknya melingkar ini Haji Hassan bercerita , mengenai sejarah panjang Ong Sum Ping sehingga namanya mendapat kehormatan diabadikan sebagai nama salah satu jalan utama di Bandar Seri Begawan.

 

“Nama lain Ong Sum Ping adalah Pengiran Maharaja Lela”, demikian Haji Hassan memulai kisahnya.

 

Pada akhir abad ke 14 sampai awal abad ke 15, dinasti Ming di Tiongkok mempunyai hubungan yang sangat baik dengan kerajaan Brunei.

 

Konon Ong Sum Ping merupakan envoy atau utusan kaisar Tiongkok dan tiba di Brunei sekitar tahun 1375.

 

Di Brunei Ong Sum Ping kemudian menikah dengan Putri Ratna Dewi yaitu putri sultan Muhammad Syah.  Beliau kemudian diberi kekuasaan untuk mengurusi  kawasan Kina Batangan yang sekarang termasuk daerah Sabah.

Setelah sultan Muhammad Syah wafat dia digantikan oleh menantunya yaitu pengiran Maharaja Lela yang kemudian bergelar Sultan Ahmad .

 

Namun versi lain yang sekarang diterima di Brunei mengatakan bahwa Sultan Ahmad adalah saudara Sultan Muhammad Syah .

 

Jadi versi mana pun yang benar sosok Ong Sum Ping alis Pengiran Maharaja Lela tetap mendapat posisi terhirmat di Brunei sehingga sebuah jalan utama di ibukota negara ini dinamakan jalan Ong Sum Ping.

 

Dan jalan Ong Sum Ping menjadi satu satunya jalan di Brunei yang memiliki Nana Tionghoa.

 

Selain nama jalan , Ong Sum Ping juga menjadi nama sebuah kompleks apartemen yang ada di jalan Ong Sum Ping dan bahkan ada juga sebuah klinik bernama Klinik Ong Sum Ping

 

Kendaraan kembali bergerak di jalan Kumbang Pasang dan langsung meluncur menuju Tutong .

 

Namun siapa sangka , jalan-jalan sore iti menguak sebuah fakta akan pengaruh Cina pada silsilah sultan-sultan Brunei di abad lampau.

 

Setiap perjalanan memperkaya jiwa.

 

12 November 2020

 

Tinggalkan Balasan

4 komentar