Husnuzan Kepada Allah 

Husnuzan kepada Allah hukumnya wajib. Hal ini sesuai dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda,

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”

 

Pendakwah Ustadz Adi Hidayat menjabarkan cara selalu berprasangka baik kepada Allah dalam situasi apapun bagi umat Islam.

Anjuran berhusnudzon atas segala sesuatu yang diberikan Allah SWT, disampaikan Ustadz Adi Hidayat telah dijelaskan dalam Alquran.

Ustadz Adi Hidayat menuturkan yang terjadi di muka bumi semua ada hikmahnya, dan Allah Maha Mengetahui atas semua baik dan buruk sesuatu.

Namun ada kalanya husnudzon kepada Allah menjadi goyah ketika seseorang diberikan ujian atau cobaan yang berat, atau bisa jadi keinginan belum terwujud.

Ustadz Adi Hidayat menerangkan cara berhusnudzon telah Allah beri petunjuk melalui firman-Nya di Alquran, yakni Surat Al-Baqarah Ayat 216.

Surat Al-Baqarah Ayat 216

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

“Jika Anda merasakan satu harapan yang menurut pandangan Anda tidak atau belum terwujud, maka yang pertama dilakukan adalah perangi perasaan negatif pada dirimu dulu, prasangkalah baik kepada Allah, perangi itu dulu,”

Biasanya memerangi jiwa atau hawa nafsu tidak lebih mudah daripada memerangi musuh yang tampak.

Ada kata kutiba dalam kalimat di ayat tersebut yang menekankan pentingnya kesabaran, sebab itu sabar untuk menjalaninya dan mengendalikan keadaan hati.

“Boleh jadi yang Anda tidak sukai itu, dibalik itu ada yang lebih baik Allah siapkan untuk Anda, boleh jadi Anda mengindamkan sesuatu tapi dibalik itu ada yang tidak bagus buat Anda, karena Anda meminta dengan doa kepada Allah, Anda minta kepada yang Maha Baik, karena Allah Maha Baik, Allah hanya memberikan yang terbaik harus sesuai dengan kebutuhan Anda,” jelas Ustadz Adi Hidayat.

Bisa jadi pula yang diharapkan tidak sesuai dengan maslahat seseorang, mungkin ada sesuatu yang tidak baik, logikanya adalah makna dari ayat terakhir Surat Al-Baqarah Ayat 216 yakni Allah Maha mengetahui segala sesuatu kini dan di masa depan, sedangkan pengetahuan manusia sebagai hamba terbatas.

“Allah bisa saja mengabulkan sesuatu dalam waktu dekat dan baik untuk hamba-Nya dalam waktu dekat pula, tapi tidak baik untuk waktu yang panjang. Allah ingin memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya jangka pendek, menengah, dan jangka panjang sampai dengan ke akhirar,” ucap Ustadz Adi Hidayat.

Ustadz Adi Hidayat menerangkan bagi orang-orang yang ingin doanya dikabulkan dipercepat oleh Allah, maka harus menjalankan segala perintah, beriman, dan berada di jalan yang benar.

Kewajiban yang senantiasa wajib dilaksanakan seorang hamba telah tertuang dalam rukun Islam, meliputi shalat, zakat, dan puasa.

Sholat, puasa, dan zakat hendaknya dikerjakan atas dasar iman, bukan karena memenuhi perintah Allah semata.

“Iman itulah yang menjadikan kuasa Allah mempercepat pengabulan doa kita, atau bahkan menjawab sebelum kita memintanya,” ucap Ustadz Adi Hidayat.

Allah SWT menyerukan agar hamba-hamba-Nya berdoa kepada-Nya dalam meminta sesuatu atau mendapatkan solusi dalam masalah di kehidupan sehari-hari.

Sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW, Allah menyukai hamba-Nya yang saat memulai doa menyebutkan nama-nama sifat Allah yang Maha Tinggi.

“Nama Allah yang tertinggi adalah Tauhidnya, Al-Ahad, karena dengan nama ini Allah disembah dan dipertuhankan, yang kalau disebutkan nama itu di awal doa, maka semua doa yang disampaikan akan dikabulkan, semua permintaan akan dijawab,” kata Ustadz Adi Hidayat.

Doa tersebut adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Allâhumma innî as’aluka bi annî asyhadu annaka antallâhu, lâ ilâha illâ antal ahadus shamad, alladzî lam yalid walam yûlad, walam yakullahû kufuwan ahad.

Artinya : Ya Tuhanku, aku memohon pertolongan kepada-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah. Tiada tuhan selain Engkau Yang Maha Esa, tempat bergantung yang tiada melahirkan dan tiada dilahirkan, serta tiada apapun yang menyamai-Nya.

Artikel ini telah tayang di BanjarmasinPost.co.id dengan judul Cara Berprasangka Baik kepada Allah, Ustadz Adi Hidayat Beri Penjabaran,

Penulis: Mariana | Editor: Irfani Rahman

  • Salam Takziem
  • BHP 3 Januari 2024
  • TD

Tinggalkan Balasan